Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ubah Air Laut Jadi Tawar Sejenak, Begini Ritual Selamatan Leut Suku Bajau Samah

Jumain Radar Banjarmasin • Senin, 25 Agustus 2025 | 12:43 WIB

 

MINUM AIR LAUT: Air laut berubah tawar sejenak saat berlangsung ritual adat Selamatan Leut suku Bajau Samah Kotabaru.
MINUM AIR LAUT: Air laut berubah tawar sejenak saat berlangsung ritual adat Selamatan Leut suku Bajau Samah Kotabaru.

Ritual Selamatan Leut khas Suku Bajau Samah berlangsung di Kotabaru, Minggu (24/8). Ada magisnya.

       ****
Pemandangan tak biasa menghiasi Laut Kotabaru. Puluhan perahu jenis balapan milik Suku Bajau Samah berbondong-bondong menuju tengah laut. Ritual Selamatan Leut khas Suku Bajau Samah di Kotabaru kali ini bertema “Magic From The Sea". Artinya keajaiban dari laut. Ini merupakan rangkaian Festival Budaya SaIjaan yang masuk Kharisma Event Nasional oleh Kementerian Pariwisata RI.

Ritual ini merupakan ungkapan syukur suku yang dikenal sebagai pengembara laut itu atas limpahan rezeki, kesehatan, dan keselamatan diberikan Tuhan di lautan.

Prosesnya, upacara adat ini dipimpin oleh Hamdani. Sandro (pemuka adat) dari Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara.

Persiapan Selamatan Leut ini waktu hampir empat hari. Dimulai Kamis (21/8) tadi. Diawali dengan memandikan pusaka gendang, dan pembuatan Kelengkea berupa anyaman daun nipah persegi empat.

Keesokan harinya, kue 7 rupa mulai dibuat, diiringi alunan musik gendang gamelan khas Suku Bajau Samah. Musik ini terus dimainkan sepanjang hari. Hanya diistirahatkan saat waktu salat tiba.

Hari ketiga, jumlah kue bertambah drastis menjadi 41 macam. Dibuat sembari terus diiringi musik yang sama.

Malam harinya, sajian istimewa itu dibawa ke darat. Sebagai bentuk rasa syukur kepada "penjaga darat", karena telah menghasilkan kayu yang digunakan untuk membangun rumah. Ini juga diiringi empat alat musik gendang yang dimainkan sembilan orang.

Sesajian lalu ditinggal. Kemudian kembali ke rumah ritual adat untuk makan bersama untuk keberkahan.

Pada hari-H, Minggu pagi, sesaji dilengkapi dengan lakatan 7 warna dan kue rampa yang wajib ada kemudian dibawa ke laut. Tepat pukul 09.00 Wita, rombongan bertolak menuju Gusung Balienteang.

Iring-iringan ini tidak hanya untuk kapal nelayan biasa. Upacara adat Suku Bajau Samah ini dikawal dua kapal patroli dari Lanal, Satpolairud, Dinas Perhubungan, BPBD, Basarnas, hingga diikuti puluhan kapal nelayan. Perjalanan memakan waktu 30 menit.

Setibanya di tengah laut, ritual paling sakral dimulai. Pusat ritual adalah sebuah rumah kecil mengapung yang sudah disiapkan, dikelilingi puluhan perahu memadati lautan. Sandro Hamdani memimpin pembacaan ritual adat.

Di situ Sandro menancapkan bambu adat ke laut dangkal. Menurut kepercayaan suku ini, air di sekitar yang ditancapkan bambu tadi berubah menjadi tawar sejenak.

Kemudian, masyarakat Suku Bajau terjun ke laut. Ada yang meminum air. Ada juga untuk dibawa pulang. Konon air di sekitar bambu tadi membawa keberkahan baik untuk obat atau keselamatan. 

Begitu ritual selesai dengan hikmat, iringan kapal menuju Siring Laut.

Di situ drama pun terjadi. Di tengah keramaian di Siring Laut, ada dua warga Suku Bajau Samah kesurupan. Untungnya, kedua orang itu langsung bisa ditangani oleh Sandro adat.

Selamatan Leut kali ini dihadiri oleh Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI Fadjar Hutomo, serta Wakil Bupati Kotabaru Syairi Mukhlis, dan Forkopimda lainnya.

Kehadiran pejabat pusat dan daerah menunjukkan dukungan penuh pada pelestarian budaya ini.

Sandro Hamdani mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan pemerintah daerah dan kementerian. “Kami berharap, ke depannya Dinas Pariwisata maupun Kementerian dapat selalu berkolaborasi dan mengangkat suku kami sebagai event budaya nasional,” ucapnya.

Sebagai pemuka adat, Hamdani memohon agar semua Suku Bajau yang ada di Nusantara juga diundang untuk hadir dalam ritual tahunan di Kotabaru.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Kotabaru #Budaya #bajau #upacara #ritual #laut