Setiap pekan, Bonang berjualan empat kali. Pasar malam di Guntung Manggis dan Guntung Payung menjadi lokasi dirinya menggantungkan harapan.
****
Asap tipis mengepul dari tungku kecil di belakang rumah sederhana di Kompleks Mustika Indah, Kelurahan Guntung Payung. Bau khas kayu bakar bercampur dengan wangi kacang tanah yang baru saja digoreng memenuhi langit-langit rumah.
Di sanalah Bonang (58) menyiapkan dagangan yang sudah menemaninya selama 15 tahun. Saat itu ia tengah menyiapkan bahan pecel untuk dijajakan ke pasar malam di Guntung Manggis.
Perempuan asal Surabaya itu duduk bersila di lantai, tangannya lincah mengulek bumbu kacang dalam cobek besar.
Tak ada kompor gas di dapurnya, semua masih mengandalkan kayu yang ia kumpulkan sendiri. “Gas mahal, saya masih pakai kayu. Lebih ribet memang, tapi ya begitulah,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Bonang bercerita, sejak merantau ke Banjarbaru pada 25 tahun lalu, ia memulai hidup sederhana bersama suaminya.
Dulu, sang suami bekerja sebagai penggali sumur. Kini, usianya yang tak lagi muda hanya memungkinkan pekerjaan serabutan bahkan terkadang tak bekerja. Beban keluarga pun lebih banyak ditopang dari dagangan sederhana Bonang.
Setiap pekan, Bonang berjualan empat kali. Itupun di pasar malam di Guntung Manggis dan Guntung Payung.
Meja kayu sederhana, beberapa ember sayur rebus, lontong yang dibungkus plastik, dan cobek besar berisi bumbu kacang menjadi senjata utamanya menarik pembeli.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief