Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Makna Perayaan HUT RI Mulai Bergeser, Generasi Muda Dinilai Lebih Mengingat Keseruan Lomba Ketimbang Sejarah Kemerdekaan

M Oscar Fraby • Senin, 18 Agustus 2025 | 11:01 WIB
Ilustrasi lomba 17-an
Ilustrasi lomba 17-an

BANJARMASIN - Di tengah terpaan beragam isu kebangsaan yang melunturkan semangat nasionalisme, tema HUT ke-80 Kemerdekaan RI tahun ini Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju, diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat nasionalisme menuju Indonesia maju. Lalu, Apakah makna HUT kemerdekaan kian luntur?

Selama delapan dekade, kita selalu memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, seiring waktu perayaan kemerdekaan terlihat lebih identik dengan lomba panjat pinang, tarik tambang, makan kerupuk, hingga balap karung.

Lomba-lomba ini memang menyenangkan. Mempererat kebersamaan, dan menghidupkan suasana. Tetapi, dari sudut pandang psikologi sosial, terlihat fenomena yang disebut meaning dilution atau pelemahan makna atau nilai dari sesuatu. Ketika aktivitas seremonial dan hiburan secara perlahan mengambil porsi lebih besar dibanding nilai perjuangan yang menjadi inti peringatan.

Menurut Psikolog Universitas Lambung Mangkurat, Sukma Noor Akbar, dari hal itu akibatnya sebagian orang, terutama generasi muda, lebih mengingat keseruan lomba daripada refleksi sejarah dan filosofi kemerdekaan.

Dengan mengusung tema Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju, menurutnya tema ini tidak hanya sekadar slogan. Dalam kajian psikologi sosial, peringatan kemerdekaan seharusnya memperkuat national identity, rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia dan membangun collective efficacy, yaitu keyakinan bersama bahwa kita mampu bergerak maju sebagai satu bangsa.

Agar makna itu tidak luntur dalam memperingati kemerdekaan Indonesia. Panitia, pintanya saat di lomba kemerdekaan, harusnya menginformasikan kepada peserta maupun masyarakat bahwa setiap simbol dan kegiatan perlu dihubungkan dengan nilai-nilai perjuangan.

Dia memberi contoh seperti lomba panjat pinang, bisa dimaknai sebagai gambaran tantangan bangsa. “Seperti tiang licin yang sulit dilalui dan hadiah di puncak sebagai cita-cita nasional, yang hanya bisa dicapai melalui kerja sama dan saling mendukung,” ujarnya.

Selain itu, peringatan kemerdekaan bisa diperkuat melalui storytelling sejarah, bakti sosial, atau karya kreatif anak muda bertema kebangsaan. Dengan begitu, perayaan tidak hanya meninggalkan kesan senang, tetapi juga membangkitkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Ditambahkannya, merayakan HUT RI ke-80 ini bukan hanya dengan lomba, tetapi juga dengan menghidupkan kembali semangat perjuangan, kebangsaan, dan nasionalisme.

“Karena bangsa ini akan benar-benar maju jika setiap warganya bukan hanya mengingat kemerdekaan, tetapi juga memaknainya,” tekan Ketua HIMPSI Wilayah Kalsel itu.

Sisi lain, Pengamat Sosial Fisip ULM, Arif Rahman Hakim mengatakan, memeriahkan peringatan kemerdekaan dengan menggelar berbagai perlombaan, memang sesuatu yang tidak dilarang.

Terlebih, beragam perlombaan diadakan tersebut sebagai sarana mempererat hubungan antar warga. Mengingat tradisi masyarakat melaksanakannya dengan kepanitiaan gotong royong. “Semangat ini yang perlu terus dijaga dan ditingkatkan,” ujarnya.

Menurutnya, selain menggelar perlombaan, ada esensi yang lebih penting, yakni bagaimana peringatan menjadi momentum untuk mengingat kembali perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.

Dia menyebut, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya di sela-sela perlombaan disisipkan kisah-kisah atau teladan para pahlawan bangsa Indonesia. “Apakah dalam bentuk naskah tertulis atau disampaikan dalam format pidato, infografis, video, grafiti atau kreativitas lainnya yang lebih mudah dipahami masyarakat,” kata Arif.

Dengan begitu, semakin banyak warga yang mengetahui dan memahami spirit perjuangan tersebut. “Tentu harapannya adalah warga bisa melanjutkan perjuangan tersebut sesuai dengan kondisi zaman,” imbuhnya.

Semangat nasionalisme yakinnya, akan tumbuh dan berkembang di masing-masing jiwa raga rakyat, ketika mereka memahami proses perjuangan dan makna kemerdekaan. Namun, pemerintah perlu merancang program peringatan yang betul-betul mampu menyentuh warga.

“Bukan sekadar meminta warga memasang bendera merah putih di setiap rumah, tapi bagaimana menumbuhkan spirit nasionalisme tersebut dengan pengetahuan,” cetusnya.

Dia menggarisbawahi, sejauh mana saat ini kepala daerah dan pemerintah mempunyai semangat juang dalam memajukan daerah dan menyejahterakan rakyat.

“Sudahkah pemimpin kita dan pemerintah berani memperjuangkan hak-hak rakyat? Sebesar apa kepedulian pemimpin terhadap rakyat yang kesusahan serta seberapa kuat semangat gotong royong pemimpin kita dalam membangun daerah dan bangsa,” tutupnya

Editor: Arif Subekti

Editor : Arief
#lomba #Indepth #kemerdekaan #generasi