Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Keris Serba 41 Nan Memukau, Dipamerkan di Siring 0 Kilometer Banjarmasi

Riyad Dafhi Rizki • Senin, 11 Agustus 2025 | 11:46 WIB
WARISAN BUDAYA: Alvy Yanoor, pemilik keris serba 41, salah satu senjata tradisional yang dipamerkan di Siring 0 Kilometer, Sabtu (9/8).
WARISAN BUDAYA: Alvy Yanoor, pemilik keris serba 41, salah satu senjata tradisional yang dipamerkan di Siring 0 Kilometer, Sabtu (9/8).

BANJARMASIN - Bilah-bilah senjata tradisional tersusun anggun dalam etalase Pameran Wasi Pusaka Banua (Wasaka). Ada parang, mandau, tombak, hingga keris dengan ragam bentuk dan usia.

Sebilah keris memancarkan pesona yang berbeda. Bilahnya lurus berwarna keperakan, berhias motif pamor yang terukir lembut dari ujung hingga pangkal.

Pada bagian lehera, tampak ukiran menyerupai gerigi moncong gagak, berlapis emas dan bertatahkan berlian—memberikan sentuhan mewah pada senjata ini.

Hulunya, terbuat dari gading gajah, diukir dengan pola rumit yang memperlihatkan kehalusan seni pahat.

Kumpangnya tak kalah memikat, berhiaskan guratan floral berwarna cokelat muda, cokelat tua, merah marun, hingga hitam, tersusun dalam pola blok yang elegan.

"Namanya Gagak Pasoepati," ujar sang pemilik, Alvy Yanoor, Sabtu (9/8).

Keris ini tidak hanya indah, tapi juga sarat makna. "Ini keris serba 41. Panjang bilahnya 41 sentimeter, logamnya campuran 41 unsur, kumpangnya dari 41 jenis kayu, dan dibuat dalam 41 kali Jumat," terangnya.

Pembuatan keris ini melibatkan tiga tangan ahli: Empu Amin, pandai besi ternama di Banjarmasin; Akbar, sahabat Alvy asal Sungai Tabuk yang membuat kumpang; serta seorang seniman Bali yang mengukir hulu.

Menariknya, kelahiran Gagak Pasoepati berawal dari sebuah "kesalahan".

Ceritanya, Alvy memesan keris dari tujuh unsur logam. Setelah beberapa waktu, ia bersama Akbar mampir ke pendopo Empu Amin, dan mendapati sang empu justru membuat keris dari satu logam yang dibagi menjadi tujuh bagian.

"Bukan itu yang saya mau," ujar Alvy menirukan ucapannya kepada empu kala itu.

Akbar lalu menimpali, "Kalau begitu, sekalian saja buat yang lebih istimewa." Dari perbincangan singkat itulah tercetus ide membuat "keris serba 41".

Meski terdengar rumit, proses mencari bahan nyaris tanpa kesulitan berarti. Dalam waktu kurang dari sebulan, berbagai material, termasuk yang langka seperti kapak Jawa, besi mantikai, hingga batu meteor terkumpul.

"Bahkan banyak bahan yang justru dicarikan Empu Amin," kata Alvy.

Ketika itu, sang empu kehabisan logam. Di tengah kebingungan, tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk sekalian mencarikan bahan bagi keris Alvy.

Tanpa instruksi dari si pemesan, Empu rela naik ojek dari Handil Bhakti sampai ke Martapura—yang memakan ongkos Rp400 ribu—demi mendapatkan logam yang dibutuhkan.

Selain itu, keris ini harus mulai ditempa pada tanggal 1 yang jatuh di hari Jumat. Kebetulan, setelah semua bahan terkumpul, bulan yang dihadapi memang dimulai pada Jumat.

Proses tempa perdana pun dilakukan pada 1 Desember 2023, dan rampung dalam waktu 10 bulan 1 pekan, tepat 41 Jumat.

Dari penuturan Empu Amin kepada Alvy, Gagak Pasoepati merupakan cerminan diri dan sifat sang pemilik.

"Kata beliau, keris ini sangat cocok dengan saya yang suka bepergian jauh untuk bekerja. Kebetulan saya berusaha di bidang perkapalan yang mengharuskan sering ke luar kota," kisahnya.

Senjata lain yang turut dipamerkan adalah Parang Nabur, atau yang juga dikenal sebagai Beladah Belabang.

"Ini senjata tradisional khas Banjar," ujar Ketua Divisi Edukasi Masyarakat Komunitas Wasaka, Muhammad Rahmady.

Bentuknya memadukan pengaruh berbagai budaya: terinspirasi dari pedang bergaya Timur Tengah dan handguard khas pedang Belanda. Panjangnya berkisar 50–75 sentimeter.

Parang Nabur yang dipajang kali ini sebagian besar berasal dari era sebelum Perang Banjar, sekitar akhir abad ke-18 hingga abad ke-19.

Pemegangnya di masa lalu bukan orang sembarangan, mulai dari panglima perang hingga pejabat tinggi.

Kini, Parang Nabur asli kian langka dan jika ada, harganya sangat mahal. Pembuatnya memang masih ada, tetapi kebanyakan hasilnya kurang autentik. Pernak-perniknya pun sering dibuat tanpa pengetahuan yang benar.

"Orang dulu membuat senjata tidak asal. Ada tujuan, ada kegunaan, bahkan ada perhitungan khusus untuk memperoleh tuah saat menempanya," tutur Rahmady.

Pameran juga memamerkan keris peninggalan Sultan Suriansyah dengan pakem Betok Sombro, yang kini dipegang Syarifudin—pembina Wasaka sekaligus juru kunci makam Sultan Suriansyah di Kuin Utara, Banjarmasin. Keris ini dipegang Syarifudin selama 30 tahun, sejak ia warisi dari kakeknya.

Tak kalah bersejarah, ada badik milik Khatib Dayan—utusan Kesultanan Cirebon yang diutus membimbing rakyat Kesultanan Banjar memeluk Islam. "Saat pertama kali datang, salah satu pusaka yang dibawanya adalah badik tersebut," kata pria yang akrab disapa Abah Sultan itu.

Koleksi lain termasuk mandau milik Pangeran Antasari, serta tongkat pusaka Datu Anta Kusuma. Ujung tongkat itu tampak aus, konon karena sering digunakan untuk menyembuhkan orang yang terkena racun.

Itulah sederet pusaka yang dipamerkan untuk memeriahkan Festival Pasar Terapung yang digelar sejak Jumat (8/8) hingga Ahad (10/8) di Siring 0 Kilometer. Pameran ini bagian dari rangkaian HUT ke-75 Kalimantan Selatan.

Bagi Komunitas Wasaka, pameran ini adalah sarana untuk mengenalkan budaya dan warisan sejarah orang Banjar kepada generasi muda.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#senjata #Budaya #Pusaka #banjarmasin #keris #Sejarah