Bagaimana jadinya bila sebuah kota dibangun dari ingatan, imajinasi, dan barisan kode program komputer? SiringPlaza, sebuah map di game virtual Roblox yang dirancang Rayhan Azhar bisa menjadi jawabannya.
*****
Pemuda 22 tahun tersebut membingkai Banjarmasin dalam bentuk digital. Dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Halte 0 Kilometer, Siring Menara Pandang, Patung Bekantan, Hotel A, hingga gerbang Pal 6—semuanya dihadirkan dalam platform ini.
Bukan cuma kumpulan landmark, di dalamnya, semua orang bisa bermain, memancing, dan naik jukung di Sungai Martapura.
Para pemain juga bebas untuk bersosialisasi, mencari teman, bahkan jatuh cinta.
"Ada player yang mengirim direct massage di Instagram saya, kasih tahu kalau dia dapat pasangan setelah bermain di map SiringPlaza," ucap Rayhan lantas tersenyum, Kamis (7/8).
Funfact-nya, Rayhan baru mengenal Roblox dua pekan sebelum mulai membangun map ini. Semuanya berawal dari rasa iseng, lalu berubah menjadi ketagihan.
Awalnya, ia mengira Roblox cuma game anak-anak. Tapi ternyata ia menemukan banyak genre, dari sosial, horor, sampai simulasi ekonomi.
"Seru juga, nemu teman dari berbagai daerah. Seminggu main, seminggu develop map."
Karena baru belajar, seluruh map itu ia bangun dengan proses yang tidak mudah. Pertama kali mendesain Menara Pandang, struktur digitalnya justru ambruk.
"Harus detail banget. Waktu itu masih belajar dari nol. Buka aplikasi, sambil nonton tutorial," katanya.
Untungnya, Rayhan punya bekal dasar desain 3D yang ia pelajari secara otodidak selama empat bulan lewat aplikasi SketchUp.
"Nggak ada yang ngajarin. Cuma karena penasaran aja," katanya sembari menjelaskan jika pekerjaannya juga berkaitan dengan media sosial dan digital.
Namun, urusan tak berhenti di pembangunan. Menjaga kota virtual ini tetap "aman" juga menjadi tantangan. Map ini kerap disusupi hacker usil yang merusak fitur hingga mengacaukan pengalaman bermain.
"Biasanya saya tahu dari pemain yang lapor lewat Instagram," kata Rayhan. "Mereka bilang, 'Bang, map-nya rusak.' Pas saya cek, ternyata ada yang utak-atik tanpa izin."
Seperti dunia nyata, kota ini juga punya sisi gelapnya. Beberapa oknum pemain sering melakukan perilaku kurang pantas.
"Banyak yang lapor. Ada yang diejek, ada juga yang menuliskan kalimat tak senonoh di kolom chat," ungkapnya.
Rayhan harus rutin mengingatkan pemain agar tidak melontarkan kata-kata yang bisa menyinggung orang lain.
Meski banyak waktunya tersita untuk menanggapi laporan, apalagi sambil bekerja, Rayhan tetap semangat. Kecintaannya pada game dan dunia kreatif menjadi bahan bakar utama proyek ini.
Jadi, SiringPlaza baginya adalah perpanjangan ruang ekspresi yang selama ini ia tekuni.
Sekarang Rayhan dibantu dua rekannya Dicky (AsepSantosoo) dan Azhar (zareeQein). Bersama, mereka mengembangkan SiringPlaza sebagai ruang sosial bagi siapa saja yang ingin menjelajahi Banjarmasin lewat game.
Meski masih dalam versi beta dan belum resmi dirilis, SiringPlaza sudah dikunjungi lebih dari 115.000 pemain hingga Kamis (7/8) malam. Angka yang jauh melampaui ekspektasi Rayhan.
Rencana pengembangannya pun masih panjang. Ia ingin menambahkan Pulau Kembang, Pasar Terapung, hingga Kampung Hijau ke dalam map. "Harapannya bisa dirilis dalam tiga bulan ke depan,"
Karena semuanya butuh waktu, sebab scripting (pemrograman interaktif dalam game) juga menjadi bagian penting.
Belum lagi soal modal. Untuk membangun berbagai fitur baru, Rayhan perlu membeli Robux (mata uang di Roblox).
Syukurnya, sudah mulai terlihat potensi ekonomi dari SiringPlaza. Karena Rayhan juga mulai menerima tawaran untuk menyewakan baliho digital dan membuka outlet di dalam game.
"Sudah ada beberapa outlet yang masang iklan," tuturnya.
Rayhan percaya, dunia virtual seperti Roblox bisa menjadi ruang sosial yang positif sekaligus wadah baru untuk mendorong perubahan sosial.
"Bisa saja, misalnya kita bangun infrastruktur yang bagus di dunia virtual, lalu pemerintah ikut terdorong membangun yang nyata juga," ujarnya.
Ia juga melihat Roblox sebagai panggung promosi kota. Lewat permainan, orang bisa mengenal Banjarmasin—dari landmark hingga suasananya.
"Dari main game, orang-orang jadi tahu Banjarmasin itu seperti ini loh. Dan mereka jadi tertarik untuk datang," imbuhnya.
Contoh, ada map lain yang dipakai untuk konser, seperti yang dilakukan band Feast baru-baru ini.
Bahkan, Aksi Kamisan—protes mingguan atas pelanggaran HAM yang digelar di depan Istana Negara—juga mulai diterjemahkan ke dalam bentuk virtual yang lebih akrab bagi gen Z dan Alpha.
Melihat potensi ini, Rayhan menyayangkan pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof Abdul Mu'ti yang sempat mewacanakan pemblokiran game seperti Roblox.
"Menurut saya itu tidak masuk akal," tegasnya. "Karena semua hal, baik atau buruk, tergantung dari bagaimana kita memanfaatkannya."
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief