Negara kepulauan sebesar Indonesia tak seharusnya takut dengan bendera dari anime fiksi.
**
MENJELANG 17 Agustus 2025, media sosial diramaikan ajakan mengibarkan bendera bajak laut dari anime One Piece.
Ini bentuk protes dan kekecewaan publik terhadap berbagai kebijakan negara yang dinilai tak pro rakyat.
Namun, ajakan tersebut menuai reaksi keras dari pemerintah. Menteri HAM Natalius Pigai menegaskan pengibaran bendera tokoh fiksi berdampingan dengan bendera merah putih bisa dianggap penghinaan terhadap simbol negara.
"Pemasangan bendera fiksi yang sejajar dengan bendera merah putih dapat dianggap makar," tegas Pigai.
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyebut aksi itu berpotensi memecah belah bangsa. Namun, belakangan ia meralat pernyataannya. Bahwa penggunaan bendera One Piece tidak masalah selama tidak dibenturkan secara langsung dengan simbol negara.
Kendati demikian, di sejumlah daerah, beberapa warga dilaporkan didatangi anggota TNI setelah memasang atribut bergambar bajak laut topi jerami tersebut.
Bahkan, beberapa mural bertema One Piece dihapus setelah aparat datang menegur pembuatnya.
Di Banjarmasin, Wali Kota Muhammad Yamin meminta warganya tidak mengikuti tren ini.
Fenomena ini, kata dia, bisa memicu polemik hingga menggiring opini publik yang berpotensi menimbulkan perpecahan.
"Kalau mau menaikkan bendera, ya bendera merah putih saja. Itu yang sah. Aspirasi boleh disampaikan, tapi gunakan jalur yang benar. Jangan lewat simbol-simbol yang bisa memecah belah," tegasnya.
Meski begitu, Pemko Banjarmasin tak akan memilih jalur represif. Jika ditemukan warga yang mengibarkan bendera selain merah putih, pihaknya akan menempuh pendekatan persuasif.
"Kami ingin Banjarmasin tetap menjadi kota yang damai. Masalah harus dibicarakan dengan cara yang baik. Jangan asal ikut tren yang bisa merusak keharmonisan," ucapnya.
Takut Menjual
Salah seorang pedagang bendera musiman di kawasan Pasar Baru, Novi mengatakan setiap hari ada saja calon pembeli yang menanyakan bendera One Piece.
Rata-rata yang mencari bendera itu dari kalangan anak muda. "Setiap hari ada yang tanya. Kebanyakan anak muda, tapi ada juga yang dewasa," katanya, Senin (4/8).
Awalnya, Novi tidak tahu seperti apa bentuk bendera yang dimaksud. Namun setelah menyadari itu bendera bergambar tengkorak, ia memutuskan untuk tidak ikut-ikutan menjualnya.
"Takut ya. Kita jual yang jelas-jelas saja, bendera merah putih untuk hari kemerdekaan. Daripada berisiko," ujarnya.
Meski tidak ikut menjual bendera One Piece, Novi tetap bersyukur karena penjualan bendera merah putih tetap tinggi menjelang peringatan Hari Kemerdekaan.
Bukan Ancaman
Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah menilai tren bendera One Piece hanyalah perebutan simbol di ruang publik.
"Ada pihak yang melihat bendera bajak laut itu sebagai simbol penindasan. Ada pula yang menganggap simbol asing yang tidak memiliki akar sejarah di Indonesia," kata Nasrullah, Selasa (5/8).
Namun, ia mengingatkan agar fenomena ini tidak disikapi secara berlebihan. "Saya kira kita tidak perlu paranoid. Bendera One Piece tidak akan menurunkan nasionalisme bangsa Indonesia, apalagi sampai menggantikan makna pengibaran merah putih," jelasnya.
Justru, lanjut Nasrullah, jika pemerintah terus-menerus mengecam dan melarang, bisa muncul efek sebaliknya: rasa ingin tahu publik malah meningkat.
Toh fenomena ini tidak akan bertahan lama. "Ini bukan gerakan sosial yang terorganisir secara berkelanjutan. Kita sudah lihat sebelumnya simbol-simbol seperti 'Indonesia Gelap' atau 'Kabur Aja Dulu'. Awalnya kuat, tapi kemudian meredup seiring tersalurkannya ekspresi publik," ucap Nasrullah.
Alih-alih terfokus pada pelarangan, ia justru mendorong pemko untuk lebih menonjolkan bendera merah putih dalam cara yang kreatif dan menyentuh emosi publik.
"Wali Kota bisa memanfaatkan ruang-ruang strategis di Banjarmasin untuk mengibarkan bendera Merah Putih raksasa, seperti di Duta Mall, Tugu Nol Kilometer, atau Menara Pandang,” tutupnya.
Jangan Disepelekan
Sosiolog dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Setia Budhi mengingatkan pentingnya memahami sejarah dan nilai di balik bendera merah putih.
Menurutnya, merah putih bukan hanya selembar kain dua warna. Merah putih adalah simbol perjuangan yang lahir dari sejarah panjang bangsa Indonesia.
"Kita harus kembali pada sejarah: siapa yang pertama menjahit bendera ini, siapa yang pertama mengibarkannya, dan bagaimana bendera ini menjadi saksi berbagai momen penting dalam perjuangan bangsa," kata Budhi, kemarin.
Ia mencontohkan insiden heroik saat Pertempuran Surabaya, ketika warga merobek warna biru dari bendera Belanda, menyisakan hanya merah dan putih.
Karena itu, menurutnya, mengibarkan simbol lain seperti bendera bajak laut One Piece tidak bisa dianggap sepele.
"Kalau bendera One Piece dibolehkan, nanti bagaimana dengan Bintang Kejora, Bintang Merah, dan simbol-simbol lainnya?" tegasnya.
Dalam konteks sosiologis, lanjut Setia, perayaan bulan Agustus adalah momen untuk memperkuat identitas nasional.
"Ini bukan soal suka atau tidak suka, tapi soal penghargaan etik sebagai bangsa atas sejarah perjuangan yang telah memberi kita semangat berani dan kesucian dalam memperjuangkan kemerdekaan," pungkasnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief