Tak ada gemerlap lampu resepsi. Tak ada pelaminan. Tapi, itulah letak keistimewaannya. Semua berlangsung sederhana, namun penuh khidmat.
*****
Senyum tipis tak pernah lepas dari wajah Zahratun Nufus pagi itu. Perempuan 24 tahun asal Banjarbaru ini berpose mesra dengan sang suami, Andianor (27).
Mereka juga menunjukkan satu set hadiah gelas kaca bermotif kiwi. Pasangan muda ini baru saja resmi menjadi suami istri lewat program nikah massal gratis di Ibu Kota Kalsel.
“Alhamdulillah… rasanya seperti mimpi, kami sekarang sudah sah,” tutur Zahratun sambil memperlihatkan buku nikah yang masih hangat dari mesin cetak.
Zahratun dan Andianor adalah satu dari 17 pasangan yang ikut serta dalam nikah massal yang digelar serentak se-Kalimantan Selatan, termasuk di Kota Banjarbaru, pada Rabu (23/7) lalu.
Proses sakral ijab kabul mereka berlangsung di Kantor Urusan Agama (KUA) Banjarbaru Selatan, dipimpin langsung oleh seorang penghulu dan disaksikan dua orang saksi.
Tak ada resepsi dan pelaminan. Tapi, menurut Zahratun justru di situlah letak keistimewaannya. “Dari awal memang niat kami menikah itu tanpa resepsi, yang penting sah dulu. Biaya resepsi sekarang mahal, belum sewa gedung, belum catering,” cetusnya.
“Lewat program ini, kami hanya perlu siapkan KTP, surat pengantar, dan berkas lainnya. Prosesnya juga cepat,” ungkap Zahratun.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief