Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kisah Sopir Ambulan Gratis di Banjarbaru: Dari Korban Jadi Penyelamat

M Fadlan Zakiri • Jumat, 4 Juli 2025 | 13:14 WIB
RELAWAN: Muhammad Aboe Dzar Al-Ghifary, mahasiswa asal Banjarbaru yang terjun ke dunia emergency sebagai sopir ambulans gratis.
RELAWAN: Muhammad Aboe Dzar Al-Ghifary, mahasiswa asal Banjarbaru yang terjun ke dunia emergency sebagai sopir ambulans gratis.

Kecelakaan yang dialami Aboe pada 2018 lalu, jadi titik balik hidupnya. Dari korban, ia kini menjadi penyelamat.

          ****
Seorang mahasiswa di Kota Banjarbaru rela mendedikasikan dirinya untuk menyelamatkan nyawa orang lain tanpa bayaran.

Bukan superhero muda seperti di film-film, sosok muda itu bernama Muhammad Aboe Dzar Al-Ghifary. Ia terjun ke dunia emergency sebagai sopir ambulans gratis.

Tidak semua orang dipanggil takdir dengan cara lembut. Aboe justru disapa nasib lewat benturan keras di jalan raya. Kecelakaan yang dialaminya pada 2018 lalu, jadi titik balik hidupnya. Dari korban, ia kini menjadi penyelamat.

Aboe tak pernah membayangkan, peristiwa nahas yang nyaris merenggut nyawanya malah membawanya ke perjalanan panjang sebagai sopir ambulans gratis di Banjarbaru dan sekitarnya.

“Waktu itu aku ditolong sama kawan-kawan yang punya ambulans. Dari situ aku mulai ikut-ikut mereka, belajar nyetir ambulans, ikut evakuasi, sampai akhirnya keterusan,” kenangnya.

Aboe bukan tenaga kesehatan. Bukan juga pegawai instansi. Ia hanya mahasiswa biasa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Kalimantan (UNISKA MAB), jurusan Bimbingan Konseling.

Tapi dedikasinya menjaga nyawa di jalanan sudah setara petugas profesional.

Tak hanya sekadar jadi penggembira di belakang mobil. Aboe sudah lihai menembus kemacetan, menghadapi kondisi pasien kritis, hingga mengantarkan korban kecelakaan dengan kecepatan penuh.

“Pernah mengantar pasien dari Bati-Bati ke Tangkisung. Bahkan pernah sampai ke Batakan, daerah pantai,” ceritanya.

BERFOTO: Muhammad Aboe Dzar Al-Ghifary berfoto dengan ambulans yang ia bawa.
BERFOTO: Muhammad Aboe Dzar Al-Ghifary berfoto dengan ambulans yang ia bawa.

Kadang Cuma Dikasih Makan dan Minum

Walaupun menjadi sopir ambulans penuh dengan risiko, Aboe tetap teguh dengan satu prinsip yang sudah mengakar kuat di hatinya, yaitu tanpa pamrih.

Selama bertugas, Aboe tak sepeser pun meminta bayaran dari keluarga pasien.

Padahal, menjadi sopir ambulans penuh risiko. Ia kadang harus menempuh jarak lumayan jauh pada malam hari.

“Kami enggak minta tarif. Paling kadang cuma dikasih makan atau minum sebagai ucapan terima kasih,” katanya tersenyum kecil.

Langkah Aboe sebagai relawan bermula dari aktivitas dirinya sebagai anggota Barisan Pemadam Kebakaran (BPK).

Dari yang awalnya membantu memadamkan api, lambat laun ia lebih banyak bergelut dengan tugas kemanusiaan lain, yakni menjaga nyawa di atas ranjang ambulans.

Setiap kali sirine meraung di tengah malam atau siang bolong, Aboe siap di belakang kemudi.

Tak peduli hujan atau panas, jauh atau dekat. Baginya, waktu adalah soal selamat atau tidaknya seseorang. “Yang penting niat bantu. Kita enggak tahu dia siapa, kaya atau miskin. Yang penting selamat dulu. Urusan lain nanti belakangan,” tegasnya.

Sebagai mahasiswa, tugas akademik tetap berjalan. Tapi di sela-sela jadwal kuliah, ia tetap meluangkan waktu berjaga.

Kadang ikut evakuasi korban kecelakaan. Bahkan Aboe juga sering membantu kepolisian mengantar jenazah.

BERFOTO: Muhammad Aboe Dzar Al-Ghifary saat beraktivitas sebagai relawan sopir ambulans.
BERFOTO: Muhammad Aboe Dzar Al-Ghifary saat beraktivitas sebagai relawan sopir ambulans.

Hadir Melayani dengan Niat Tulus

Melihat pasien sudah tak sadarkan diri hingga tangis para keluarga yang panik, menjadi pemandangan biasa bagi Aboe.

Aktivitasnya sebagai relawan kemanusiaan didukung oleh lokasi tempat tinggalnya. Aboe tinggal di wilayah yang bisa dibilang cukup strategis. Yaitu di kawasan Ratu Elok, Kelurahan Sungai Besar, Kota Banjarbaru.

Lokasi ini membuatnya selalu berada dalam jangkauan saat ada panggilan darurat.

Di usianya yang baru 22 tahun, Aboe sudah akrab dengan pemandangan pasien tak sadar, keluarga yang panik, hingga tangis lega saat tiba di rumah sakit.

Tapi baginya, semua itu bukan soal popularitas. Ia hanya ingin memastikan satu hal, yaitu ketika orang lain butuh uluran tangan, dia adalah salah satu orang yang datang lebih dulu.

Bukan tanpa alasan, hal itu ia sampaikan berdasarkan fakta di luar sana, masih banyak warga yang harus berpikir dua kali sebelum memanggil ambulans.

Masih ada balita kejang yang harus bayar dulu agar bisa dibawa ke rumah sakit.

Serta, masih ada orang tua yang bingung, datang sebagai warga negara atau sebagai pelanggan kesehatan.

Di tengah realitas itulah Aboe mencoba hadir melayani masyarakat dengan niat yang sederhana. Yakni menyelamatkan, bukan menjual jasa. “Enggak semua panggilan hidup itu harus dibayar pakai uang,” tutupnya.

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
#sopir #banjarbaru #relawan #ambulan