Setiap lukisan Syahriel adalah cerminan kisah hidup, emosi, dan filosofi yang dirasakannya. Dengan sapuan kuasnya, ia tidak hanya menggambar, tetapi juga membingkai hidup.
****
Bagi Syahriel M Noor, melukis bukan sekadar pekerjaan. Melainkan sudah menjadi kebutuhan. Ibarat secangkir kopi yang tak boleh dilewatkan di pagi hari.
Setiap sapuan kuas adalah manifestasi penghormatan terhadap proses kreatif. Ia yakini hanya bermakna ketika dimulai dengan hati dan pikiran yang bersih. “Kepercayaan saya, sebelum mulai melukis mesti bersih dulu. Minimal mandi,” ungkap Syahriel, tersenyum. Dalam keadaan seperti itu, imajinasinya terasa lebih tajam, dan hasil karyanya lebih mendalam.
Inspirasi Syahriel datang dari berbagai sumber: pengalaman hidup, lingkungan sekitar, hingga respons emosional terhadap peristiwa. Sebuah cerita yang menyentuh hatinya bisa menjadi bahan bakar untuk menuangkannya ke atas kanvas. “Kalau saya berkarya, saya mengangkat sesuatu yang terjadi di sekitar. Menggambarkan respons saya terhadap hal tersebut,” jelasnya.
Minat Syahriel terhadap seni rupa sudah terlihat sejak kecil. Ia mengenang masa-masa ketika ia menggambar di mana saja: dinding rumah, langit-langit, bahkan papan tulis di sekolah. “Sampai ke plafon, naik pakai kursi,” kenangnya, lantas tertawa.
Meski awalnya hanya coretan sederhana, cintanya pada seni terus berkembang seiring waktu. Sejak duduk di bangku SMP, Syahriel mulai serius menekuni seni rupa. Taman Budaya di Banjarmasin menjadi tempatnya menyerap ilmu dan inspirasi. “Waktu itu, masih belum boleh ke sana. Tapi saya tetap datang, melihat orang-orang melukis,” katanya.
Dari para seniman senior, ia belajar dasar-dasar seni lukis realis, sebelum akhirnya menemukan gaya khasnya sendiri. “Awalnya realis banget. Tapi sekarang lebih dekoratif,” ujarnya.
Perjalanan panjangnya dalam dunia seni rupa mencapai tonggak penting pada tahun 1993. Ketika itu, ia mengikuti pameran perdananya di program Pentar Budaya. Lukisan berjudul Menunggu, yang menggambarkan seorang anak duduk di kursi kayu, menjadi debutnya.
Bagi Syahriel, melukis adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya. “Kalau nggak melukis, rasanya ada yang kurang. Kayak habis makan tapi nggak ada rokok atau kopi,” tuturnya, lantas tergelak.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief