Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Berlari dari Sepi untuk Mengejar Mimpi, Begini Kisah Putri Febriana Si Atlet Lari Berprestasi

M Fadlan Zakiri • Senin, 16 Juni 2025 | 13:49 WIB
PRESTASI: Putri Febiana menerima penghargaan sebagai siswi berprestasi 1st seangkatan 2024/2025 saat acara kelulusan SMA Negeri 2 Banjarbaru 15 Mei 2025 lalu.
PRESTASI: Putri Febiana menerima penghargaan sebagai siswi berprestasi 1st seangkatan 2024/2025 saat acara kelulusan SMA Negeri 2 Banjarbaru 15 Mei 2025 lalu.

Di setiap langkahnya di lintasan, Putri berlari bukan melarikan diri, melainkan untuk mengejar takdir. Takdir seorang gadis yang tumbuh dari keterbatasan, namun tak pernah membatasi mimpinya.

  ****
Tubuh mungil itu rebah di lintasan atletik. Matanya terpejam, dadanya dipenuhi medali. Ada emas, perak, dan ada senyum yang tak bisa dibohongi.

Ya benar, itu senyum seorang juara yang tumbuh dari luka, tapi tak pernah menyerah.

Dialah Putri Febriana, siswi lulusan SMAN 2 Banjarbaru angkatan 2024/2025, yang kini dikenal sebagai atlet muda bertalenta milik Kalimantan Selatan.

Di balik prestasi gadis 18 tahun itu, tersimpan cerita hidup yang tak ringan. Sejak umur dua bulan, Putri tak pernah tahu seperti apa wajah ibu dan ayah kandungnya.

Kedua orang tuanya bercerai tak lama setelah ia dilahirkan. Sejak itulah, Putri dibesarkan sepenuhnya oleh nenek dan kakeknya di Kota Banjarbaru.

“Saya tidak pernah melihat wajah ibu atau ayah saya. Sejak bayi sudah dititipkan ke nenek,” ucapnya lirih namun penuh keteguhan.

Di masa anak-anak yang seharusnya dipenuhi pelukan orang tua, Putri justru tumbuh dalam kesunyian.

“Di Awal memang sangat merasa terpukul dan sedih, apalagi ketika pertama kali mendengar cerita nenek tentang orang tua saya,” kata putri sambil sesegukan menahan tangisnya.

Tapi, sunyi itu tidak membuatnya tumbang. Putri bangkit. Ia memilih untuk berlari. Kecintaannya pada cabang olahraga atletik berawal dari lomba lari di taman kanak-kanak.

“Entah kenapa dari TK suka ikut lomba lari dan Alhamdulillah selalu menang. Dari situlah rasa bangga itu tumbuh,” katanya.

Kemenangan kecil itu ia rawat, diasah, dan dijadikan batu loncatan. Hingga kini, total 15 prestasi atletik telah ia kantongi, mulai dari tingkat kota hingga provinsi.

Photo
Photo

Bercita-cita Jadi Polwan

Prestasi Putri tidak hanya di lintasan lari. Ia meraih tiga gelar duta bergengsi dan selalu punya nilai tinggi di sekolah.

Saat ini Putri sedang mempersiapkan diri mengikuti seleksi untuk mewakili Kalsel di PON 2028 mendatang di NTT dan NTB.

Namun prestasi Putri tidak hanya di lapangan lari. Ia juga aktif di berbagai ajang nasional dan pernah menyabet tiga gelar duta bergengsi.

Yakni, Duta Lingkungan Hidup Kalimantan Selatan 2023, Duta Siswa Indonesia 2025 dan Duta Inspirasi Indonesia Kemenpora RI 2025.

Putri juga dikenal sebagai Siswi Berprestasi perwakilan SMAN 2 Banjarbaru se-Kalsel. Secara akademik, sejak SD hingga SMP, ia tak pernah keluar dari tiga besar.

Selain itu, ia juga dikenal punya public speaking yang kuat, menjadikannya sering dipercaya tampil di berbagai forum pelajar.

Cita-citanya jelas dan penuh makna: menjadi seorang Polwan, menembus IPDN, sekaligus terus berkiprah sebagai atlet andalan Kalimantan Selatan.

“Saya ingin membanggakan keluarga yang membesarkan saya. Dan saya juga ingin kuliah tanpa membebani biaya kepada mereka,” ungkapnya mantap.

Photo
Photo

Tak Ingin Jadi Beban Keluarga

Putri punya alasan kuat kenapa lebih memilih sekolah kedinasan atau masuk Polwan dibanding kuliah biasa. Ia sadar betul beban ekonomi keluarganya.

Sejak bayi, Putri sudah dititipkan pada neneknya. Ia tidak pernah tahu seperti apa wajah ayah dan ibunya. Perceraian membuatnya tumbuh tanpa kehangatan keluarga kandung.

Namun hidup bukan soal apa yang hilang, tapi tentang apa yang bisa diperjuangkan. Dan Putri memilih memperjuangkan masa depan lewat jalur kedinasan. “Saya tidak mau membebani keluarga lebih jauh,” ucapnya lirih.

Tahun ini, Putri sempat mendaftar sebagai calon Polwan. Sayangnya, impian itu harus tertunda. Bukan karena kurang kemampuan, tapi lantaran kesalahan administrasi.

Putri seharusnya masuk jalur rekpro (rekrutmen proaktif) untuk atlet berprestasi dengan syarat tinggi badan minimal 158 sentimeter.

Tapi ia justru masuk jalur umum yang mensyaratkan tinggi 160 sentimeter. Padahal tinggi badan Putri adalah 159 sentimeter. “Hanya kurang satu sentimeter, tapi karena itu memang syarat apa mau dikata,” ujarnya.

Meski begitu, Putri tidak menyalahkan siapa pun. Bahkan ia menilai kegagalan ini adalah bukti bahwa proses seleksi Polwan murni dan adil.

“Banyak orang kira saya punya privilese karena paman saya seorang polisi di Polres Banjarbaru. Tapi nyatanya, tidak ada yang bisa dipakai untuk shortcut,” tegasnya.

Pamannya, yang ia panggil Mas Eko, adalah sosok yang sangat mempengaruhi hidupnya. Dari Mas Eko-lah, Putri belajar prinsip keras hidup. “Kalau mau sesuatu, berjuang sendiri. Jangan pernah pakai uang atau pangkat untuk mendapatkan apa pun,” katanya.

Dan itu pula yang jadi alasan kenapa ia lebih memilih jalan terjal lewat jalur kedinasan daripada kuliah di kampus umum yang membebani biaya keluarga.

Putri mengaku akan mendaftar lagi sebagai Polwan dan juga ke sekolah kedinasan, sembari tetap aktif berlatih sebagai atlet. Ia ingin semua peluang dijajaki. “Sebab kalau merelakan satu kesempatan, bisa kehilangan semua peluang lain,” ungkapnya. 

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
#inspiratif #feature #Lari #banjarbaru #atlet