Pabrik lampit itu sebelumnya beroperasi sejak tahun 1988 silam. Saat masa jaya, ada ratusan buruh bekerja di sana.
**
Menjelang sore di Jalan Transad Guntung Manggis, RT 21, RW 03, Kelurahan Guntung Manggis tampak seorang pria paruh baya sedang memotong kayu sisa pohon tumbang di belakang rumahnya sambil membersihkan area sekitar, Kamis (12/6) sore.
Pria tersebut adalah Muhammad (62), seorang penjaga malam atau wakar bangunan bekas gudang lampit di Jalan Guntung Manggis.
Ia mengaku sudah menjaga bangunan itu sejak 20 tahun lalu. "Jadi penjaga malam di sana sejak pabrik masih beroperasi, kemudian tutup sekitar tahun 2007 sampai sekarang," katanya.
Pabrik lampit atau rotan itu sebelumnya buka sejak tahun 1988 silam. Kemudian tak beroperasi karena adanya kebijakan tidak diperbolehkannya pengiriman bahan baku keluar negeri.
Tutup selama bertahun-tahun, kini kondisi pabrik sudah terbengkalai. Bangunannya hancur termakan usia dan ditumbuhi semak belukar.
"Sebelum kebijakan pengiriman bahan baku keluar, pabrik itu sangat jaya. Dalam sebulan bisa mengirimkan hampir tiga kontainer produk olahan ke Jepang," tuturnya.
Setelah keluar kebijakan, ujar Muhammad, pabrik lampit tersebut mulai mengalami kemunduran sebab kegiatan ekspor berkurang drastis.
"Masa-masa jayanya itu sekitar tahun 1995-an, kendaraan roda empat saja sampai berjejer di pinggir jalan depan pabrik itu," ungkapnya.
Belum lagi ketika dapat gajian, kata Muhammad, banyak yang berbelanja ke pasar depan gudang lampit tersebut.
"Dulu di muka gudang lampit itu ada pasar sejumput tiap Sabtu. Kini kegiatan perekonomian di sana pun sudah tak ada lagi, seiring tidak beroperasinya pabrik," ujarnya.
Muhammad juga mengisahkan bahwa pabrik tersebut memproduksikan berbagai barang dari rotan untuk dikirim langsung ke Jepang.
"Gudang lampit ini didirikan oleh Darmadi dan Raswin. Mereka dua bersaudara asal Medan, dan sejak dibangun banyak warga sekitar ingin ikut bekerja dan hanya ratusan orang yang terpilih," katanya.
"Ratusan lebih pekerja di pabrik lampit itu ada yang dari hulu sungai, ataupun dari luar Kalsel," tambahnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief