Democrust adalah grup musik punk hardcore yang bermusik lebih dari sekadar dentuman drum dan distorsi gitar.
Terbentuk pada akhir tahun 2021 di Banjarbaru, band ini dikenal lantang menyuarakan isu kerusakan lingkungan, ketidakadilan, dan penindasan.
"Band ini terbentuk pada fase di mana amarah kami memuncak akibat dampak pandemi Covid-19 yang menghancurkan banyak lini kehidupan manusia. Ditambah lagi, bencana alam yang melanda hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan memperparah keresahan kami," ujar Lemon, vokalis Democrust, kepada Radar Banjarmasin, beberapa waktu lalu.
Lewat trek seperti "Served Without Solution," "Kinipan," "Habit," "Juang," "Lawan," "Bastard," "Toxic," dan "Rata," Democrust menghadirkan lirik tajam yang penuh kritik.
Band ini beranggotakan Lemon (vokal), Ars (gitar), Idr (gitar), Ad (bass), dan Nan (drum).
Mereka semua dipertemukan oleh keresahan yang sama terhadap eksploitasi lingkungan yang masif terjadi di Kalimantan Selatan.
"Democrust bagi kami adalah media alternatif untuk menyuarakan keresahan dan protes melalui musik. Kami terinspirasi dari aksi-aksi yang dilakukan untuk merebut hak yang seharusnya mereka miliki," jelas Lemon.
Musik Democrust penuh energi dan agresi. Namun, di balik irama cepat dan riff gitar yang menghentak, terselip lirik-lirik yang tajam dan penuh pesan.
"Kami hanya menyuarakan apa yang kami rasakan dan apa yang harus disuarakan. Kami tidak memaksa siapa pun untuk sependapat," tambahnya.
Setiap ada materi baru, Democrust mengadakan workshop untuk mematangkan ide sebelum masuk studio rekaman.
Ini juga menjadi momen mereka berdiskusi tentang isu-isu yang sedang berkembang. Beberapa personel Democrust aktif dalam gerakan sosial dan musik kolektif.
"Kami selalu antusias jika diajak tampil di event kampanye lingkungan. Walau belum ada kerjasama formal, kami sering terlibat dalam kegiatan yang mendukung isu-isu lingkungan di tempat tinggal kami," ungkapnya.
Rencana Democrust cukup sederhana: mereka akan terus "berisik" selama mungkin.
"Kami berharap Democrust bisa panjang umur untuk terus menjadi media kami dalam protes dan marah," ungkap Lemon.
"Musik kami mungkin tidak bisa menyelamatkan dunia, tapi kami berharap bisa menginspirasi orang lain untuk mulai peduli. Kerusakan lingkungan adalah tanggung jawab bersama, dan kami ingin musik kami menjadi pengingat akan hal itu," tandasnya.
Editor: Muhammad Syarafuddin
Editor : Fauzan Ridhani