Di balik lapak sederhana berisi layangan warna-warni, Joko Purnomo menyimpan kisah panjang perjuangan hidup sebagai perantau di Banua.
Di bawah rindangnya pohon di tepi Jalan Ahmad Yani Kilometer 25, Landasan Ulin, tampak jejeran layang-layang dengan aneka rupa. Dari karakter superhero, tokoh kartun, hingga motif horor. Semuanya tergantung rapi di lapak sederhana milik Joko Purnomo, perantau asal Trenggalek, Jawa Timur.
Siang itu, Kamis (29/5), Radar Banjarmasin menyambangi lapak Joko. Dengan ramah, pria berkaus merah lengan pendek itu bangkit dari posisi rebahannya dan duduk sembari bercerita tentang perjalanan hidupnya sebagai perantau di Banjarbaru sejak 30 tahun silam.
“Awalnya saya jualan keliling, dari es dawet pencok, es kelapa, mie ayam hingga tahu tektek. Pernah juga dagang di event-event di lapangan Brimob. Tahun 1998, harga mie ayam itu masih Rp500 per mangkok,” kenang pria yang kini berusia 55 tahun itu.
Namun usia membuat tenaga Joko tak sekuat dulu. Sekitar delapan tahun terakhir, ia memutuskan berjualan layangan. Usaha yang dinilainya lebih ringan dan memiliki keunggulan karena barang dagangannya tidak basi.
“Kalau dulu dorong rombong terus, sekarang badan sudah tidak kuat. Akhirnya mikir usaha yang bisa dikerjakan dengan ringan dan menghasilkan, ya jual layangan ini,” ujarnya.
Joko membeli stok layangan dari Jawa. Mulanya, hanya 10 buah, takut tak laku. Tapi ternyata, ketika musim panas tiba, dagangannya laris manis. Dalam sehari bisa laku hingga 10 layangan.
“Paling ramai waktu pasca covid tahun 2023, sehari bisa sampai 15 layangan terjual. Tapi kalau musim hujan, sepi. Bahkan bisa enggak laku sama sekali,” ucapnya.
Harga layangan bervariasi. Ukuran kecil Rp50 ribu sampai Rp80 ribu. Sedangkan yang besar Rp150 ribu. Ia pun melayani pembelian partai untuk pelanggan tetap.
Selain layangan, Joko juga menjual hammock atau ayunan untuk menambah barang dagangannya. Harganya Rp60 ribuan untuk model jaring dan Rp80 ribu untuk ukuran 3 meter.
Editor : Muhammad Rizky