BANJARMASIN - Melukis bukan sekadar hobi, tapi napas yang menghidupkan jiwa seniman ini sejak kecil. Melukis sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Umar Sidik, seorang seniman ternama asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Tak pernah sehari pun ia lalui tanpa menggenggam kuas atau pensil di tangan. Aktivitas ini telah menjadi kebiasaannya sejak masih duduk di bangku SD.
Sejak kecil, seluruh waktu luangnya habis hanya untuk membuat coretan-coretan di mana pun dan kapan pun, bahkan saat jam pelajaran di sekolah berlangsung.
Kegemarannya yang luar biasa itu sampai-sampai membuatnya menyulap buku pelajaran menjadi buku gambar.
Hasilnya? Umar kecil pernah dua kali tidak naik kelas. Pertama saat SD, dan kedua saat SMP, meski saat itu Kepala Sekolah adalah keluarganya sendiri.
Meski nilai akademiknya sempat merosot, semangat Umar untuk terus berkarya tak pernah padam.
"Nilai pelajaran saya memang anjlok, tapi saya tidak bisa berhenti menggambar," kenangnya saat ditemui Radar Banjarmasin, beberapa waktu lalu.
Anak dari seorang pembuat komik ini tetap setia pada hobinya yang sejak kecil telah mengakar kuat di dalam dirinya. Kini, di usianya yang sudah 54 tahun dan sebagai ayah dari tiga anak, Umar masih aktif melukis dan menghasilkan karya-karya seni yang memukau.
Dalam berkarya, Umar menganut aliran seni realis, yang berusaha menggambarkan objek dan tokoh secara detail dan seolah nyata. Pendekatan realis ini membuat setiap lukisan yang ia hasilkan mampu menghadirkan kisah dan makna yang kuat, membuat penikmat seni merasa seakan-akan ikut menyelami cerita di balik goresan kuasnya.
Dari ratusan lukisan yang pernah dibuatnya, ada satu karya yang begitu istimewa dan membekas di ingatannya: lukisan berjudul Sirih Sampuk Urat.
Lukisan ini menggambarkan sosok seorang nenek dari Suku Dayak yang tengah duduk bersimpuh, mengenakan pakaian khas Sasirangan lengkap dengan topi tanggui di kepalanya.
Setiap hari, Umar menghabiskan waktu tiga sampai empat jam di depan kanvas berukuran 178x148 cm tersebut hingga akhirnya dalam waktu dua pekan, lukisan itu selesai dikerjakan.
Lukisan Sirih Sampuk Urap sudah dipamerkan di berbagai ajang seni sejak tahun 2013 dan selalu menarik perhatian. "Lukisan ini lahir dari imajinasi saya tentang sosok orangtua dari Suku Dayak," ujarnya penuh rasa bangga.
Menariknya, karya-karya Umar tidak hanya diapresiasi oleh masyarakat Kalsel saja. Beberapa lukisannya bahkan telah dibeli kolektor seni dari berbagai negara, seperti Swiss dan Swedia. Mereka menemukan karya Umar lewat media sosial atau melalui jaringan antar seniman.
Meski karya-karyanya menghasilkan pendapatan, bagi Umar seni lukis bukan semata soal materi. Melukis adalah sebuah kebutuhan dan kebahagiaan yang tak tergantikan.
"Rasa bangga dan puas ketika berhasil menciptakan sebuah karya adalah hal yang paling berharga dan tidak bisa digantikan oleh apapun," ungkapnya.
Editor : Fauzan Ridhani