Meski tak mematok harga tinggi, namun ketika bertemu pelanggannya, Dani bisa mendapatkan uang ratusan ribu rupiah dalam sekali pemotretan.
****
Dani biasanya memprioritaskan para pelanggannya, dengan hasil foto yang lebih banyak, ditambah editing maksimal. “Karena nasabah prioritas ini para bos besar,” katanya sambil tertawa.
Sistemnya cukup simpel: pelari melihat hasil jepretan Dani di Instagram, lalu mengirimkan tangkapan layar foto yang ingin ditebus lewat WhatsApp. Kini, Dani juga memanfaatkan aplikasi FotoYou, di mana pelari bisa mencari wajah sendiri dengan selfie dan langsung menebus.
“Cuma kalau lewat aplikasi agak mahal karena ada biaya admin, jadi jarang yang tebus banyak sekaligus,” kata Dani yang kini telah membentuk grup fotografer pelari Banjarbaru agar tarif tetap stabil dan adil.
Dari foto-foto lari itu, Dani kini telah membeli kamera Canon 5D Mark III dan lensa tele 70-200 mm seharga Rp11 juta. “Alhamdulillah, semua dari hasil motret,” ujarnya bangga.
Portofolionya pun makin mentereng. Salah satunya, ia terpilih dari lebih 100 pendaftar sebagai fotografer Fun Run di Ibu Kota Nusantara (IKN). “Foto saya masuk 10 besar, objek pelari dengan background gedung Garuda,” ucapnya.
Kini, Dani punya jadwal harian yang padat. Pagi ia standby di Lapangan Murjani pukul 06.30 sampai 08.30 Wita, lalu sore kembali ke Gubernuran pukul 17.00 Wita hingga matahari terbenam.
“Kalau harian ya kadang bisa dapat Rp 100 ribu, belum termasuk job luar,” ungkap Dani. Meski begitu, proses editing tetap jadi tantangan tersendiri. “Cari satu foto orang dari ribuan itu yang bikin pusing. Makanya senang bisa pakai aplikasi pendeteksi wajah,” imbuhnya.
Untuk job wedding, sang istri ikut bantu mengatur pose. “Saya moto dan editing, dia bagian arahkan gaya,” katanya.
Harapan Dani ke depan sederhana tapi mantap: punya studio foto sendiri dan tim yang solid. “Sementara ini target dekat sih mau upgrade gear dulu biar hasil makin oke,” pungkasnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief