Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bawa Bekal Nasi Tanpa Lauk, Begini Kisah Marhani Si Penjual Tisu Keliling (Bagian 2)

Bayu Aditya Rahman • Selasa, 13 Mei 2025 | 09:59 WIB
ISTIRAHAT: Penjual tisu keliling, Marhani saat istirahat di Jalan Trikora, Minggu (11/5) sore.
ISTIRAHAT: Penjual tisu keliling, Marhani saat istirahat di Jalan Trikora, Minggu (11/5) sore.

Setelah meninggalkan becaknya, Marhani kini setiap hari berkeliling membawa puluhan bungkus tisu untuk bisa menafkahi istri dan anak-anaknya.

       ****
Satu paket tisu isi empat dibeli Marhani seharga Rp30 ribu, kemudian ia jual Rp33 ribu. “Kadang ada yang ngasih Rp35 ribu, enggak minta kembalian. Rezeki lebih itu namanya,” katanya sambil tersenyum.

Jika laris, ia bisa membawa pulang hingga Rp300 ribu. Tapi itu jarang terjadi. Biasanya, Marhani hanya menjajakan dagangannya dari pagi sampai jelang magrib.

Sebelum berangkat, Marhani mencuci pakaian terlebih dahulu usai salat subuh. Bekalnya sederhana: nasi putih dalam wadah, tanpa lauk. “Kalau ada hasil lebih, baru beli ayam goreng tepung. Kalau enggak ada, campur garam saja,” ucapnya santai.

Yang menarik, dalam kotak kayu tisunya, terselip satu toples kecil berisi makanan kucing. Rupanya, ia rutin memberi makan kucing liar, baik di rumah maupun masjid yang dilewatinya.

Kebiasaan itu ia mulai setelah mendengar ceramah di pasar Bauntung Banjarbaru tentang pentingnya sedekah, bahkan kepada binatang. “Setidaknya saya bisa sedekah pada kucing,” tuturnya.

Soal rumah tangga, Marhani tak menutup-nutupi kondisinya. Ia menyewa rumah, dan mengaku kesulitan mengatur keuangan. “Saya boros, istri juga boros. Jadi ya sering habis. Jualan belum balik modal, kadang hasil langsung habis dipakai istri,” ceritanya. Meski begitu, ia tetap bertahan.

“Kalau masih pacaran mungkin saya tinggalin. Tapi ini istri, anak sudah tiga. Harus dijalani,” katanya dengan mantap.

Meski mengakui keinginan untuk berubah dan punya usaha lebih baik, ia sadar satu hal: tidak cocok bekerja ikut orang. “Pernah coba, tapi enggak betah. Saya lebih nyaman usaha sendiri. Walau kecil, tapi mutar uangnya tenang. Yang penting halal,” ucapnya.

Di akhir perbincangan, Marhani sempat melontarkan candaan. “Sepeda ini memang butut. Tapi kalau pulang dalam keadaan kosong (jualan habis), kecepatannya bisa kencang sekali,” katanya tertawa lebar.

Di tengah panas dan himpitan hidup, Marhani menemukan ketenangan dalam usaha kecilnya, zikir dalam sunyi jalanan, dan secuil harapan lewat sedekah pada kucing jalanan.

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
#feature #UMKM #banjarbaru #kerja #usaha