Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Saniah, Penjual Bunga Tabur di Guntung Lua (bag 2) Sehari Bisa Untung Ratusan Ribu

Bayu Aditya Rahman • Jumat, 18 April 2025 | 09:50 WIB
DI LUAR: Saniah (50) sedang berjualan bunga tabur di samping gapura Kuburan Muslimin Guntung Lua, Kemuning, Rabu (16/4) pagi.
DI LUAR: Saniah (50) sedang berjualan bunga tabur di samping gapura Kuburan Muslimin Guntung Lua, Kemuning, Rabu (16/4) pagi.

Adik ipar Saniah, sudah 14 tahun lebih berjualan bunga tabur. Dulu, lapak mereka di dalam area makam, namun kini tak diizinkan lagi.

            ****
Karena tak diizinkan berjualan di dalam area pemakaman. Mereka kini pindah di luar, tepat di samping gerbang. “Jadi dipindah ke samping pagar ini. Sewa tempatnya Rp 45 ribu per bulan. Enggak terlalu mahal, asal masuk retribusi aja,” jelasnya.

Setiap hari, Saniah bilang adik iparnya meracik bunga tabur dari tiga jenis bunga utama: kenanga, mawar, dan melati. Bunga-bunga itu dikemas dalam plastik kecil seharga Rp5 ribu, ukuran sedang Rp10 ribu, dan yang paling besar Rp20 ribu.

Untuk rangkaian bunga sarai (yang biasanya dibeli untuk acara haul atau maulid) harga jualnya bervariasi antara Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Bisa lebih mahal saat hari besar, bahkan tembus Rp100 ribu. “Kalau pas maulid bisa sampai segitu, tergantung rangkaiannya juga,” katanya.

Bunga-bunga segar itu ia dapatkan dari Bincau, Martapura. “Dulu kami yang ambil sendiri, sekarang diantar ke rumah karena sudah langganan,” ungkapnya.

Harga bunga dari petani pun naik-turun, tergantung musim. Sekantong plastik merah kenanga harganya bisa Rp50 ribu. Mawar 100 biji juga sekitar Rp50 ribu. Sementara melati, satu cangkir belimbing seharga Rp5 ribu.

“Kalau hari Jumat biasanya naik, bisa Rp10 ribu per cangkir karena petaninya juga kewalahan. Bunga belum panen, tapi permintaan tinggi,” cerita ibu dua anak itu.

Puncak keramaian biasanya terjadi menjelang Lebaran. “Kemarin harga bunga sempat nyentuh Rp350 ribu sampai Rp400 ribu. Tapi tetap laku, karena orang-orang tetap mau ziarah,” tambahnya. Bahkan, variasi bunga yang dijual turut bertambah saat itu, termasuk ditambah daun pandan agar makin wangi.

Meski hanya menjaga lapak, Saniah tetap menikmati aktivitasnya sehari-hari. “Alhamdulillah, nikmati aja. Dulu saya dari kampung, biasa bertani. Kalau tani itu capeknya minta ampun. Sekarang bisa duduk santai di bawah pohon, nunggu pembeli,” ucapnya sembari tersenyum.

Soal penghasilan, ia mengaku cukup untuk kebutuhan harian. “Hari biasa bisa dapat Rp100 ribu. Kalau hari besar, dua hari pernah dapat Rp500 ribu,” katanya.

Bagi warga Jalan Wengga, Kelurahan Guntung Manggis ini, bukan untung besar yang ia kejar, tapi ketenangan dalam bekerja dan keberkahan dari setiap rezeki yang datang.

“Kalau orang lain mau tiru usaha ini dengan modal besar bisa aja. Tapi belum tentu rezekinya di sini. Kayak adik ipar saya. Alhamdulillah, rezekinya nyangkut di jualan bunga. Sekarang bisa beli rumah, meski masih nyicil,” tutupnya dengan tawa ringan.

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
#feature #UMKM #banjarbaru #bunga