Di tengah kuatnya tradisi masyarakat yang sarat nilai religi dan budaya, satu kebiasaan terus hidup dari generasi ke generasi: menabur bunga di atas pusara.
****
Ritual ini bukan sekadar pelengkap ziarah. Bunga tabur menjadi simbol cinta dan penghormatan yang mendalam, baik kepada keluarga yang telah berpulang maupun para ulama yang diziarahi.
Tak heran, setiap Jumat atau menjelang hari-hari besar keagamaan seperti haul, Ramadan, hingga Lebaran, suasana di sekitar pemakaman selalu ramai.
Deretan penjual bunga tabur pun selalu terlihat di sejumlah alkah. Salah satunya adalah Saniah. Perempuan 50 tahun ini bisa dijumpai duduk di lapak kecilnya, tepat di samping gapura Kuburan Muslimin Guntung Lua, Kemuning.
Di balik meja kayu sederhana yang dipenuhi kantong-kantong plastik berisi bunga tabur, Saniah tersenyum menyambut pembeli. “Baru sekitar satu tahun saya jaga di sini. Gantian sama adik ipar yang punya lapaknya,” tuturnya.
Jam berjualannya pun dibagi. Saniah bertugas dari pagi hingga siang, lalu dilanjutkan oleh adik iparnya hingga sore. Setiap hari, lapaknya buka dari pukul 06.00 hingga 18.00 Wita.
“Jualan kembang ini lebih pagi rasanya daripada jualan makanan,” ujarnya sambil tertawa ringan saat ngobrol santai dengan Radar Banjarmasin di lapaknya, Rabu (16/4) pagi.
Editor : Arief