Menurut Bahrani, jadi tukang servis itu kuncinya pelayanan yang memuaskan. Kalau orang nyaman, maka jasanya akan selalu dicari.
*****
Walau zaman kini lebih banyak orang memilih membeli alat elektronik baru, dibanding memperbaiki yang rusak, Bahrani tak merasakan penurunan jumlah pelanggan. “Masih banyak yang datang. Apalagi produk murah dari Cina, banyak juga yang minta diservis,” ujarnya.
Ia mengandalkan kualitas pelayanan sebagai strategi bertahan. Tarif jasanya pun terjangkau, mulai dari Rp20 ribu untuk servis, belum termasuk komponen yang diganti. "Kalau harga komponennya Rp 100 ribu, jadi total bayar Rp120 ribu," hitungnya.
Biasanya, pelanggan ramai saat awal bulan. “Tanggal 1 sampai 15 itu paling ramai, karena banyak pegawai habis gajian,” tuturnya. Di depan kiosnya, kerap terlihat deretan barang elektronik yang menunggu diservis.
Selama menjalani usahanya, Bahrani mengaku belum pernah ditipu pelanggan. Jika ada barang yang selesai diservis tapi tidak diambil, ia anggap sebagai aset. “Siapa tahu nanti bisa diambil komponennya untuk servis barang lain,” katanya.
Saat ini, ia menyewa kios dengan harga Rp400 ribu, namun karena sepi mendapat diskon 50 persen. “Tahun kedua dan ketiga juga masih dapat diskon. Sekarang lagi diajukan,” ungkapnya.
Ia berharap ingin punya tempat servis sendiri yang lebih besar dan lengkap alat-alatnya. “Pengen punya alat gulung dinamo. Alat itu masih belum punya, bisa juga menggulung kawatnya itu dikerjakan manual tapi hasil kekuatannya nanti beda,” jelasnya.
Bahrani menghidupi tiga anak dan satu anak angkat, yang merupakan keponakannya. “Anak pertama jadi ibu rumah tangga, anak kedua lulusan SMK kelistrikan dan sekarang ngajar praktik di sekolahnya. Yang ketiga masih sekolah,” jelasnya dengan bangga.
Ia tak memaksa anak-anaknya untuk meneruskan usahanya. “Kalau bisa jangan, karena mereka sudah punya jalan sendiri. Tapi kalau anak angkat saya nanti mau, silakan," ungkapnya.
Baginya, servis bukan sekadar pekerjaan. Ia kerap membantu pelanggan yang kesulitan, bahkan tanpa pamrih.
Suatu ketika, setelah menyelesaikan servis di rumah pelanggan, Bahrani melihat seseorang sedang meraba-raba mesin air.
Setelah didekati, orang itu ternyata tunanetra. Bahrani pun langsung membantu memperbaiki pompa air tersebut. “Akhirnya saya perbaiki dengan ganti komponen yang rusak, lalu saya tinggal setelah baik,” kisahnya.
Bahrani mengatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah yang utama. Bahkan, banyak dari mereka menjadi pelanggan tetap, termasuk yang datang dari daerah jauh seperti Tanah Laut dan Banjarmasin.
Hari itu, ia menyelesaikan servis kipas angin, alat penyedot bulu baju, lampu duduk, dan menerima servis blender.
Selain servis, Bahrani juga menjual kipas angin bekas yang mesinnya sudah ia ganti dengan yang baru. “Kalau baru bisa Rp 400 ribu, ini saya jual Rp 200 ribuan. Body lama, tapi mesin baru,” ujarnya sembari tersenyum mengakhiri percakapan.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief