Para penjual kartu e-Money tampak setia menanti pembeli di bawah payung seadanya. Mereka menawarkan kartu demi kartu di tengah lalu lintas menuju Bandara Syamsudin Noor.
*******
Gerimis membasahi sore hari di kawasan simpang empat lampu merah di jalan menuju Bandara Internasional Syamsudin Noor, Selasa (8/4).
Di tengah lalu lalang kendaraan yang memburu waktu, tampak beberapa payung warna-warni berdiri di pinggir jalan, menjelma menjadi atap kecil bagi para penjual kartu e-Money.
Di bawah payung biru yang diturunkan rendah, hampir menutupi seluruh tubuhnya dari angin dan hujan, duduklah Anjani Aji Wijayanti. Remaja putri 19 tahun itu tampak santai, sesekali memainkan layar ponsel, sembari matanya tetap awas mencari calon pembeli.
"Aku turunkan payungnya karena tadi angin cukup kencang, takut terbang," jawabnya sembari tersenyum ketika Radar Banjarmasin menyapa dan menghampirinya.
Anjani bukanlah pemilik usaha. Ia hanya pekerja. Masuk ke pekerjaan ini sejak Juni 2024 karena diajak kakaknya, yang lebih dulu bergabung.
Sebelumnya, Anjani menekuni dunia tekstil, sesuai dengan jurusan di SMK tempatnya belajar. Tapi rasa jenuh terhadap dunia kain membuatnya memilih jalur baru: menjadi penjual kartu e-Money di pinggir jalan.
"Kerjanya santai kok, kalau ada pembeli ya layanin, kalau enggak ya duduk-duduk aja," ungkap remaja ramah senyum ini.
Anjani menjajakan berbagai jenis kartu, seperti BNI, Brizzi, dan Livin' Mandiri. Masing-masing dijual dengan harga Rp80 ribu, Rp90 ribu, dan Rp100 ribu. Semuanya berisi saldo Rp20 ribu.
Ditanya bagaimana penjualan kartu saat arus mudik dan balik, Anjani menyebut tak jauh beda dengan hari biasa. "Pas puncak mudik malah sepi. Habis lebaran baru rame," ujar Anjani.
Ia menyebut hari paling ramai yakni pada tanggal 2 April, di mana dirinya bisa menjual belasan kartu. Bahkan kemarin, ia sudah mencatat 18 kartu terjual. "Sejauh ini, paling banyak saya bisa menjual 20 kartu dalam sehari," bebernya.
Editor : Arief