Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Juhairiyah, Sendirian Rawat Anak Lumpuh karena Cedera Tulang Sumsum Belakang

Bayu Aditya Rahman • Jumat, 28 Maret 2025 | 10:26 WIB
MENCERITAKAN: Juhairiyah dan Abdul Rahman Sidiq duduk sambil menceritakan kecelakaan yang menimpa Abdul empat tahun lalu, Selasa (25/3) siang.
MENCERITAKAN: Juhairiyah dan Abdul Rahman Sidiq duduk sambil menceritakan kecelakaan yang menimpa Abdul empat tahun lalu, Selasa (25/3) siang.

Juhairiyah harus mengurus anaknya yang lumpuh sendirian. Dengan segala keterbatasan, ia harus menggendong, memandikan dan menyuapi sang buah hati.

      ***
Radar Banjarmasin bersama Romlah, salah seorang anggota Yayasan Ruang Pelita Kalimantan, Selasa (25/3) siang menyambangi kediaman seorang ibu bernama Juhairiyah (61) dan putranya, Abdul Rahman Sidik (29).

Rumah mereka terletak di RT 16 RW 6, Kelurahan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Untuk ke sana, harus melewati jalan setapak di antara rumah warga.

Saat wartawan dan Romlah tiba, Juhairiyah dan anaknya sedang beristirahat. Mereka menyambut dengan hangat dan mempersilakan masuk. Abdul sedang duduk di kasur tipis. Ia tampak tersenyum meski tubuhnya lemah.

Juhairiyah pun mulai bercerita tentang Abdul yang mengalami cedera tulang sumsum belakang di bagian leher, akibat kecelakaan empat tahun silam. Tepatnya pada 2021 lalu.

Saat itu, Abdul bekerja mendulang emas di Sungai Pinang, Pelaihari. Ia mengendarai motor dengan kondisi kurang baik. "Remnya itu kurang berfungsi, sudah diganti kampas remnya tapi cepat habis. Lalu tidak diganti lagi, karena buang-buang duit jadinya," kata Juhairiyah.

Di perjalanan, Abdul berada di belakang sebuah truk. Ketika hendak menyalip, truk lain datang dari arah berlawanan. Dengan kondisi rem yang tidak bekerja, ia tak bisa menghindar. Tabrakan pun tak terelakkan. Kepala Abdul menghantam bagian truk.

Abdul sempat pingsan di tempat. Sopir truk yang menabraknya bertanggung jawab dan membawanya ke rumah sakit di Pelaihari. Saat dokter hendak menjahit luka di kepalanya, Abdul tiba-tiba tersadar.

Takut dengan jarum suntik, ia menolak dijahit dan memilih pulang karena merasa tubuhnya baik-baik saja. "Sopir truknya tanggung jawab aja, pas mau pulang saya diberi uang Rp500 ribu sebagai biaya pengobatan tambahan," kata Abdul.

Namun, keesokan harinya, Abdul mendapati dirinya tak bisa menggerakkan tubuhnya. Hanya lehernya yang masih bisa bergerak ke kiri dan kanan. Tubuhnya membengkak, sementara tangan dan kakinya mati rasa. "Mungkin ujar orang itu saraf kejepit," ujarnya.

Sejak saat itu, Abdul tak lagi bisa menjalani aktivitasnya seperti biasa. Karena takut dengan rumah sakit, ia dan ibunya hanya mengandalkan pengobatan kampung selama 10 bulan. Hingga akhirnya, Babinsa, RT, dan Puskesmas Cempaka membantunya mendapatkan perawatan medis.

Editor : Arief
#disabilitas #banjarbaru #kesehatan