Pada bulan Ramadan, Husin semakin giat berjualan peci. Ia memanfaatkan acara pengajian dan salat Jumat untuk mengais rezeki.
******
Jumat (21/3) pagi itu, Radar Banjarmasin melintasi Jalan Trikora, Banjarbaru. Pandangan tertuju pada seorang pedagang peci di seberang Masjid Agung Al-Munawwarah.
Di bawah sinar matahari yang mulai menghangat, pedagang itu tampak sibuk menata lapaknya. Kardus demi kardus berisi peci, sarung, dan minyak wangi ia bongkar dengan cekatan, lalu disusun rapi di atas meja kecilnya.
Pedagang tersebut bernama Husin. Ia sudah menggeluti usaha ini selama lebih dari dua dekade.
Saat wartawan menghampiri, Husin tersenyum ramah. “Biasanya saya buka jam 08.30 pagi, tapi hari ini agak telat,” ujarnya sambil merapikan peci yang ia obral seharga Rp20 ribu.
Selain peci obral, ia juga menjual peci Malaysia seharga Rp40 ribu serta songkok hitam berkualitas dengan harga Rp60 ribu hingga Rp70 ribu.
Tak hanya itu, sarung pun tersedia dengan rentang harga Rp75 ribu hingga Rp165 ribu untuk yang premium. “Kalau minyak wangi, saya jual mulai Rp20 ribu sampai Rp35 ribu, tergantung ukuran dan wanginya,” tambah Husin sambil menunjukkan beberapa botol minyak wangi yang tertata di sudut meja.
Ia bercerita, sebelum ke Jalan Trikora, dirinya harus membantu istrinya membuka lapak lebih dulu di Balitan, Karang Anyar 1. “Istri saya jaga di sana dari pagi sampai tengah malam. Saya jualan Jumat, Sabtu, dan Minggu dari jam 08.30 sampai 12 siang, lalu lanjut menemani istri,” tutur pria berusia 40 tahun itu.
Di tengah obrolan, sesekali ada pembeli yang mampir, mencoba peci, lalu membayar sebelum melanjutkan perjalanan. Husin tampak luwes melayani, seolah sudah hafal betul dengan ritme ini. “Kalau Jumat, Alhamdulillah memang lebih banyak yang beli, maaf obrolan kita jadi terpotong-potong mas,” katanya.
Husin, yang tinggal di Martapura, mengaku awalnya berjualan di pasar. “Dulu saya jualan di pasar-pasar, tapi sekarang beda. Pasar yang dulu bukanya seminggu sekali, sekarang hampir tiap hari. Jadi, pelanggan terbagi,” katanya. Akibatnya, penjualannya menurun, memaksanya mencari cara lain.
Husin mulai menerapkan strategi "kejar bola." Selain berjualan di depan masjid setiap Jumat, ia juga mencari informasi tentang pengajian atau acara keagamaan di grup Facebook. Salah satunya grup "Berkat Guru Kita".
“Kalau ada acara pengajian atau ada ustaz dari Jakarta datang, saya ikut jualan di sana. Peci, sarung, dan parfum 'kan memang pas buat acara seperti itu,” ujarnya.
Editor : Arief