Ini kisah inspiratif tentang Kutisyah. Seorang penjahit rumahan dan ibu rumah tangga yang mampu bertahan melewati badai pandemi covid.
******
Usahanya terpuruk sejak covid. Tak ada order jahitan. Uang tabungan pun terkuras. Untuk bertahan sehari-hari terasa kian sulit.
Namun, dengan prinsip berani berusaha, kerja keras dan saling bantu (BDKS), warga Kelurahan Kuin Cerucuk ini mampu melewati keterpurukan saat pandemi covid.
Prinsip BDKS membawa ekonomi keluarganya menjadi lebih baik. Sejak banting stir dari penjahit menjadi penjual pentol pada tahun 2019 lalu, kini ia telah dikenal sebagai agen pembuat pentol.
Soal rasa boleh dicoba, itulah tagline pentol buatan Kutsiyah yang memang digemari banyak kalangan.
Sukses Kutsiyah tak hanya dirasakana keluarganya.
Sifatnya yang suka membantu membuatnya menjadi penggerak dan penyelamat ekonomi kaum perempuan di lingkungan tempat tinggalnya yang juga sempat terpuruk.
Kesukseskan Kutsiyah tak lepas dari peran BTPN Syariah Banjarmasin.
Bermula dari bantuan modal Rp3 juta, Ibu Kusiyah percaya diri berjualan makanan dengan menjadi penjual pentol.
Menjaga cita rasa pentol yang gurih membuat omzet usahanya terus bertambah.
Dari modal awal 3 juta, ia terus mengembangkan usahanya hingga menambah modal pembiayaan 30 juta.
Modal itu ia gunakan untuk membeli peralatan produksi pentol. Dari penjual, ia kini menjadi produsen pembuat pentol.
Saat ini, Ibu Kutsiyah mengantongi omzet hingga Rp10 juta per bulan dan memiliki empat gerobak pentol.
Bertumbuhnya usaha Kutsiyah tak lepas dari pendampingan yang diberikan oleh BTPN Syariah.
Dengan konsep bankir pemberdayaan, BTPN menerjunkan community officer (petugas pendampingan) untuk mengedukasi dan melatih kaum perempuan dengan sasaran usaha ultra mikro.
“Saya mendapatkan manfaat dengan adanya kumpulan karena tidak merasa berjuang sendiri, tapi bersama-sama dan saling menginspirasi satu sama lain. Jadi, tidak hanya tahu cara mengelola keuangan agar dapat mengangsur tepat waktu, tapi juga mendapatkan pengetahuan dan pendampingan,” tutur Ibu Kutsiyah, Jumat (21/3).
Ia mengakui semua ini tak lepas dari empat perilaku unggul nasabah BDKS yang selalu diterapkan dalam keseharian.
Hal ini sesuai yang diajarkan oleh petugas BTPN Syariah melalui pertemuan perkumpulan dua minggu sekali.
Kumpulan merupakan wadah bagi BTPN Syariah mendampingi masyarakat inklusi dengan memberikan akses keuangan berupa layanan perbankan, serta akses pengetahuan dengan berbagai program pelatihan dan pengembangan.
Kelompok perkumpulan ini membuat nasabah menjadi disiplin, saling bantu, sehingga timbul solidaritas dan kebersamaan antar-sesama anggota sentra.
Melihat perkembangan usaha istrinya, suami Kutsiyah, Supardi mengaku bangga.
Pasalnya, kerja keras sang istri ikut mendorong perekonomian keluarga. “Saya sangat bersyukur, istri saya dapat membantu ekonomi keluarga,” ungkap Supardi.
Tak hanya itu, Supardi juga senang melihat sang istri dapat berdampak bagi banyak orang.
Terbukti, Kustiyah mampu mempekerjakan empat orang warga sekitar menjadi karyawannya saat ini.
“Lebih bangganya lagi, istri saya tidak hanya mampu mengembangkan bisnis, namun juga dapat menginspirasi warga sekitar dan membuka lapangan pekerjaan,” tutur Supardi.
Corporate & Marketing Communication Head BTPN Syariah, Ainul Yaqin mengatakan, BTPN Syariah merupakan satu-satunya bank syariah yang fokus memberdayakan masyarakat inklusi.
BTPN Syariah memberikan akses keuangan dengan menyediakan layanan perbankan yang tepat sesuai kebutuhan masyarakat.
Selain itu juga akses pengetahuan dengan memberikan pemberdayaan yang berguna untuk mengembangkan usaha dan mencapai kehidupan yang lebih berarti.
“Bahwa ujungnya dalam proses bisnis BTPN Syariah adalah membangun perilaku unggul nasabah segmen ultra mikro, yaitu BDKS: Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras, dan Saling Bantu atau Solidaritas. Di mana solidaritas tersebut akan terbangun menjadi daya tahan yang baik untuk menghadapi apapun kondisi komunitas secara bersama-sama. Dan semangat tersebut tentunya akan semakin tajam dengan meningkatnya kehadiran nasabah dikumpulan. Dengan demikian, hadir dikumpulan adalah sebuah keharusan untuk mendapatkan semua akses yang diberikan oleh BTPN Syariah,” jelas Ainul.
Sebagai informasi, sepanjang 2024, BTPN Syariah telah menyalurkan pembiayaan sekitar Rp80 miliar kepada lebih dari 24 ribu nasabah yang merupakan masyarakat inklusi di Kalimantan Selatan.