Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Perjuangan Siswanto Melawan Kanker Rongga Mulut: Jadi Buruh Bangunan, Hidupi Anak Disabilitas

Bayu Aditya Rahman • Rabu, 19 Maret 2025 | 12:03 WIB
HARMONIS: Siswanto (55) duduk bersama putranya, Edo (17) di rumah mereka di Guntung Manggis, Selasa (18/3) siang.
HARMONIS: Siswanto (55) duduk bersama putranya, Edo (17) di rumah mereka di Guntung Manggis, Selasa (18/3) siang.

Meski menderita kanker rongga mulut, Siswanto tetap harus bekerja jadi buruh bangunan demi mencukupi kebutuhan dirinya sendiri dan anaknya. 

      *****
Di sebuah rumah sederhana di Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Radar Banjarmasin, Selasa (18/3) menemui Siswanto, pria berusia 55 tahun yang tengah berjuang melawan kanker rongga mulut.

Siang itu, Siswanto sedang rebahan di rumahnya, ditemani oleh Suyut, sahabatnya dari Pal 7 Banjarmasin yang datang menjenguk dan memberikan semangat.

Siswanto hidup bersama anaknya, Edo, seorang remaja 17 tahun penyandang disabilitas mental.

Meski memiliki keterbatasan, Edo adalah anak yang mandiri dan penuh perhatian. Ia mampu memasak, mencuci baju, dan bahkan selalu siap membantu ayahnya yang kelelahan sepulang kerja. “Setiap saya pulang, Edo selalu sigap menawarkan pijatan di leher atau pinggang saya yang pegal,” ungkap Sis, sapaan akrab Siswanto.

Selain Edo, Sis memiliki seorang anak perempuan bernama Susan (25), yang kini tinggal di Berau, Kalimantan Timur bersama keluarganya.

Meski Susan adalah anak pertama, Sis memilih untuk tetap tinggal bersama Edo karena tidak ingin merepotkan putrinya yang sudah berumah tangga dan memiliki tanggungan keluarga kecilnya sendiri.

Dulu, Edo membantu ibunya memasak di warung makan milik keluarga mereka. Namun, sejak ibunya meninggal dunia pada tahun 2021 akibat pandemi Covid-19, kehidupannya berubah.

Sebelum kepergian sang ibu, Edo masih bisa bersekolah di SLB karena ada yang mengantar. Namun, setelah ibunya meninggal, tak ada lagi yang bisa mengantar dan menjaga Edo, sehingga ia akhirnya hanya tinggal di rumah.

Siswanto adalah sosok pekerja keras yang melakukan berbagai pekerjaan serabutan, terutama sebagai buruh bangunan.

Ia menempati rumah yang dibangunnya sendiri di atas tanah seluas 15 meter persegi yang dibeli seharga Rp50 juta. Namun, karena keterbatasan ekonomi, Siswanto baru mampu membayar Rp25 juta. Sementara sisanya masih berutang.

Kisah kepindahannya ke rumah tersebut pun penuh liku. Setelah istrinya meninggal, Siswanto dan Edo harus pindah karena pemilik tanah yang mereka sewa sebelumnya telah menjual lahan itu tanpa pemberitahuan.

Saat itu, Siswanto baru 40 hari kehilangan istrinya. Namun mereka harus mencari tempat tinggal baru dalam waktu satu bulan. Beruntung, ia menemukan tanah yang bisa dibeli dengan sistem pembayaran bertahap.

Pada Agustus 2024, Sis mulai merasakan keluhan kesehatan. Ia yang sering minum es saat bekerja, merasakan ada sebuah benjolan di langit-langit sebelah kiri mulutnya.

Awalnya, benjolan itu sempat hilang setelah ia pecahkan sendiri. "Tapi beberapa hari kemudian muncul lagi, tapi pindah posisi ke sebelah kanan langit-langit mulut saya, bahkan bertambah menjadi tiga," ceritanya.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#perjuangan #disabilitas #banjarbaru #kanker