Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Menonton Bioskop Bisik, Ketika Film Bisa Dinikmati Semua Kalangan

Riyad Dafhi Rizki • Senin, 17 Maret 2025 | 12:17 WIB
MENYIMAK: Potret penyandang tuli ketika pemutaran film di Bioskop Bisik Vol#2 yang digagas Forum Sineas Banua di Wetland Square Banjarmasin.
MENYIMAK: Potret penyandang tuli ketika pemutaran film di Bioskop Bisik Vol#2 yang digagas Forum Sineas Banua di Wetland Square Banjarmasin.

Bioskop Bisik adalah upaya agar film bisa dinikmati teman-teman penyandang disabilitas.

          ****
Puluhan penonton berkumpul di Wetland Square, Jalan Ahmad Yani km 3,5 Banjarmasin Timur, Jumat (14/3) malam.

Mereka adalah penyandang disabilitas, buta dan tuli, yang datang untuk menonton film.

Lampu ruangan diredupkan, digantikan gelap. Film diputar di dua panel layar lebar.

Mereka yang buta duduk rapi dengan earphone terpasang di telinga. Menikmati setiap adegan yang diceritakan narasi audio deskripsi.

Setiap cerita, setiap emosi, setiap detail yang mungkin tak tampak oleh mata, mereka resapi melalui kata-kata yang menghidupkan imajinasi.

Sementara, teman mereka yang tuli fokus ke layar lebar. Menyimak bahasa isyarat yang disampaikan juru bicara di dalam layar.

Tangannya bergerak lincah, menerjemahkan cerita yang bergulir dalam film.

Setiap gerakan, setiap ekspresi, menjadi jembatan antara gambar di layar dan hati penonton yang tidak bisa mendengar.

MENYIMAK: Potret penyandang tuli ketika pemutaran film di Bioskop Bisik Vol#2 yang digagas Forum Sineas Banua di Wetland Square Banjarmasin.
MENYIMAK: Potret penyandang tuli ketika pemutaran film di Bioskop Bisik Vol#2 yang digagas Forum Sineas Banua di Wetland Square Banjarmasin.

Di Bioskop Bisik, keterbatasan tidak menjadi penghalang. Film menjadi medium yang merangkul, menghadirkan cerita yang bisa dinikmati tanpa syarat.

Ada tiga film lokal yang ditayangkan: Bacakut Pandir, Bukan Tempat Bermain, dan Ajak Tukup.

Bacakut Pandir mengangkat kisah pedagang air dan pedagang listrik yang berseteru akibat perbedaan pandangan politik. Konflik mereka bahkan menyeret keluarga ke dalam perselisihan.

Sementara itu, Bukan Tempat Bermain menceritakan perjalanan sepasang kekasih yang bekerja di pasar malam. Hubungan mereka mulai terasa membosankan, seperti permainan yang tak lagi menarik. Akhirnya, keduanya memutuskan untuk berpisah.

Film terakhir, Ajak Tukup, membawa penonton ke sebuah desa, di mana seorang anak bernama Bayu yang baru pindah bersama keluarganya mendapat teman bermain.

Bayu sering kalah dalam permainan, hingga pada suatu hari, saat bermain petak umpat, ia berusaha bersembunyi di tempat yang jauh untuk membalas kekalahannya. Sayangnya, menjelang magrib, ia tersesat, sementara teman-temannya panik mencari.

Ketika lampu kembali menyala, riuh tepuk tangan terdengar, senyum merekah di muka penonton.
Pengalaman menonton film di bioskop ini mempertemukan mereka dalam satu emosi yang sama: kebahagiaan.

Gusti, salah seorang penyandang tunanetra, mengaku terkesan. "Benar-benar menyenangkan. Sangat menarik dan seru! Film pertama meninggalkan kesan mendalam," ujarnya antusias.

Rian, penyandang tunanetra, turut berbagi kesan. "Semua film sebenarnya asyik, tapi Ajak Tukup yang paling menegangkan. Film pertama cukup jelas audio deskripsinya, meski dialognya kadang tidak terdengar baik. Sedangkan film kedua, suara musiknya terlalu dominan sehingga deskripsinya kurang jelas. Kalau bisa, ini disesuaikan lagi di kesempatan berikutnya," kata Rian.

Betapa bahagia mereka bisa merasakan pengalaman menonton film di bioskop. "Kami bisa menikmati film ini seolah-olah melihat, membayangkan, mendalami, bahkan menilai ceritanya. Mudah-mudahan ke depan bioskop ini semakin berkembang di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan. Kalau bisa, film seperti ini juga diputar di bioskop komersial," harapnya.

Demikianlah momen pemutaran film pada Bioskop Bisik Vol #2 yang diinisiasi Forum Sineas Banua (FSB). Event ini terselenggara berkat dukungan Kementerian Kebudayaan melalui Dana Abadi Kebudayaan untuk kategori sinema mikro.

Ketua FSB, Munir Shadikin menjelaskan konsep Bioskop Bisik terinspirasi dari kegiatan serupa yang pernah dilakukan di luar Kalsel.

"Beberapa tahun lalu memang pernah dilakukan, tapi formatnya belum seperti yang sekarang. Ada beberapa pengembangan yang kami lakukan," ujar Munir.

Ditanya mengapa film yang ditayangkan bukan karya nasional atau Hollywood, Munir memberikan dua alasan.

Pertama, ini bagian dari program Layar Film Banjar yang telah ada sejak 2018. Program ini memang bertujuan untuk mengenalkan film-film buatan sineas lokal kepada masyarakat.

Kedua, tidak semua film ramah bagi penyandang disabilitas. Hal ini terkait rating, penggunaan bahasa yang mudah dipahami, serta konteks cerita yang tidak terlalu kompleks.

"Memilih film yang sesuai kebutuhan teman-teman disabilitas menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, kami memilih film kategori semua umur agar aman dan nyaman dinikmati," jelasnya.

Lewat Bioskop Bisik, Munir berharap kesenian dan kebudayaan dapat dinikmati semua kalangan, terutama mereka yang memiliki keterbatasan.

Ia merujuk data Dinas Sosial yang menunjukkan bahwa hanya dua persen penyandang disabilitas buta dan tuli yang memiliki akses terhadap kesenian dan kebudayaan.

"Kami ingin mengampanyekan hal ini agar teman-teman disabilitas juga dapat merasakan pengalaman menikmati karya seni. Selain itu, kami berharap sineas lokal mulai memikirkan kebutuhan teman-teman disabilitas saat membuat karya di masa depan," imbuhnya.

Terkait keluhan tentang audio deskripsi yang masih kurang jelas, Munir Shadikin menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan.

"Kami selalu terbuka untuk evaluasi dan akan melakukan berbagai upaya agar pengalaman menonton menjadi lebih optimal," ujarnya.

Pihaknya juga membuka peluang bagi para penyandang disabilitas, untuk menjadi relawan dan bergabung dalam tim kontrol.

"Kami ingin melibatkan teman-teman disabilitas secara langsung, agar mereka bisa ikut berkontribusi dan memastikan kebutuhan mereka benar-benar terpenuhi," tutupnya.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#bioskop #disabilitas #banjarmasin #Film