Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Malam Kesembilan Penuh Harapan, Melihat Sembahyang Tuhan di Kelenteng Soetji Nurani

Riyad Dafhi Rizki • Jumat, 7 Februari 2025 | 13:42 WIB
BERDOA: Umat Tri Dharma melaksanakan Sembahyang Tuhan di Kelenteng Soetji Nurani, Banjarmasin Tengah, Kamis (6/2) dini hari.
BERDOA: Umat Tri Dharma melaksanakan Sembahyang Tuhan di Kelenteng Soetji Nurani, Banjarmasin Tengah, Kamis (6/2) dini hari.

Ini adalah malam ketika doa-doa dipanjatkan demi kemakmuran, kesehatan, dan perlindungan.

      ***
NYALA terang lampion di Kelenteng Soetji Nurani menantang malam yang basah di Kota Banjarmasin. Riuh tabuhan tambur dan dentingan lonceng menggema di halaman tempat suci itu, Rabu (5/2) malam.

Di atas altar bertaplak merah, beragam panganan dari buah, teh, sayur, permen, kue, dan daging babi tersusun rapi. Umat Tri Dharma duduk bersimpuh dengan rapi di sekeliling altar.

Tepat pukul 00.00 Wita, mereka memulai prosesi King Thi Kong atau Sembahyang Tuhan pada hari kesembilan di bulan pertama kalender Kongzili.

Seorang matrisia (rohaniawan) berdiri. Melangkah ke depan untuk memimpin ritual doa.

Hio yang sudah dipegang pengunjung kelenteng dinyalakan. Aromanya mengalun lembut. Asapnya menjulang. Seolah mengantar harapan menuju Nirwana.

Di tengah ritual, umat berlutut sebanyak tiga kali, dengan kepala menyentuh ke tanah sebanyak sembilan kali.

Setelahnya, sebuah kitab berkelir kuning dibagikan kepada umat yang datang. Tiap lembarannya berbahasa Mandarin. Isinya kitab puji-pujian.

"Tujuan sembahyang ini adalah untuk kemakmuran umat, masyarakat, dan bangsa Indonesia agar lebih maju lagi," ujar Ketua Harian Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma (PTITD) Kalimantan Selatan, Awang Sumargo.

Menjelang akhir prosesi, matrisia memercikkan air suci kepada umat yang hadir. Percikan itu diyakini membawa berkah perlindungan dan membersihkan diri dari kesialan.

Sebagai penutup, umat menerima angpao berisi kertas hu, sebuah jimat kecil yang dipercaya mampu menolak bala.

Wakil Ketua Kelenteng Soetji Nurani, Johan Djawono menjelaskan, bunyi tambur dan lonceng adalah panggilan bagi para dewa, tanda prosesi telah dimulai.

"Harapannya, di tahun Ular Kayu ini, keberuntungan akan lebih besar, kesehatan lebih baik, dan semua cita-cita bisa tercapai," ujarnya.

Bagi umat yang hadir, ritual ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga momen untuk merenung, memohon kebaikan, dan menyatukan doa bagi sesama.

"Semoga di tahun ini semuanya menjadi lebih baik," ucap Yeni, salah seorang pengunjung kelenteng. "Semoga kita semua diberi perlindungan dan dijauhkan dari marabahaya." 

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#umat #sembahyang #tionghoa #beragama #klenteng