Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kisah Pengrajin Kuningan di Banjarmasin: Selama Anwar Masih Mampu....

Riyad Dafhi Rizki • Senin, 30 Desember 2024 | 12:55 WIB
SETIA: Sudah hampir setengah abad, Anwar Fuadi membuat produk kerajinan kuningan.
SETIA: Sudah hampir setengah abad, Anwar Fuadi membuat produk kerajinan kuningan.

Ini kisah Anwar Fuadi yang mempertahankan tradisi sebagai pengrajin kuningan di tengah dunia yang terus berubah.

         ****
DI ATAS lahan seluas 63 meter persegi, Anwar Fuady tampak sibuk. Tangannya dengan cekatan menjepit sepotong kuningan, lalu mendekatkannya ke bara api yang menyala terang di atas tungku.

Kilauan merah memantul ke wajahnya, sementara butir-butir keringat muncul di dahinya.

Selesai melebur, Anwar bergerak ke sudut lain, menyiapkan cetakan yang akan memberi bentuk pada logam itu.

Cetakan dari tanah liat itu ia datangkan dari Hulu Sungai Selatan.

Selesai mencetak, Anwar mengukir kuningan dengan dipukul dan digerinda, menyesuaikan permintaan pelanggan.

Ukiran manual itu menuntut kesabaran. Di tangan Anwar, kuningan berubah menjadi karya seni, menjaga tradisi yang nyaris terlupakan.

Anwar, warga Gang Sadar, Kelayan Luar, Banjarmasin Selatan, setia menekuni kerajinan kuningan yang diwaris dari leluhurnya.

Hampir setengah abad ia melakoni pekerjaan tersebut, meski industri kerajinan kuningan di kota ini semakin terpinggirkan.

"Sudah sejak kanak-kanak saya mengerjakan ini," katanya, Ahad (29/12).

Anwar tak hanya melihat kerajinan kuningan sebagai ladang penghasilan, tetapi juga sebagai upaya mempertahankan warisan budaya.

"Ini bukan cuma soal uang. Ini jati diri dan kebanggaan kami," ungkapnya.

Beragam produk telah ia hasilkan, dari alat musik tradisional, aksesoris penari, perhiasan, hingga replika barang antik.

Meski sederhana, kualitas kerajinan Anwar telah diakui. Karyanya diminati pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia.

Harganya mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah, tergantung tingkat kesulitan dan waktu pengerjaan.

Namun, meski pesanan terus berdatangan, Anwar mengakui pendapatannya terus merosot beberapa tahun terakhir.

Tapi bukan omzet, melainkan berkurangnya minat generasi muda yang menjadi tantangan terbesarnya.

"Sulit mencari yang mau belajar dan melanjutkan. Tapi selama saya mampu, saya akan terus mengerjakan," tandasnya.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#inspiratif #UMKM #banjarmasin #pengrajin #tradisional #Sosok