Yuli Alpiansyah telah membuat produk yang tak hanya menghasilkan alunan merdu, tetapi juga membawa kebanggaan hingga ke belahan dunia lain.
****
DI RUMAH bercat hijau itu, suasana terasa sibuk. Di sudut ruangan, seorang pria duduk dengan penuh konsentrasi. Tangan kanannya memegang amplas, menggosok lembut permukaan badan biola setengah.
Selesai mengamplas, ia berdiri dan berpindah ke ruangan lain. Di sana, ia mulai mencampur cairan cat. Dituangkan ke dalam alat semprot. Lamat-lamat, ia menyemburkan cat ke tubuh biola yang telah mulus digosok.
"Untuk menyelesaikan satu biola, biasanya butuh waktu dua sampai tiga pekan," ujar Yuli Alpiansyah.
Yuli seorang pengrajin biola asal Banjarmasin yang berani merambah dunia melalui kerajinan tangannya.
Penulis bertemu Yuli di bengkel kerjanya di Jalan Sultan Adam, Kompleks Mandiri Lestari, Surgi Mufti, Banjarmasin Utara.
Bengkel itu, meski kecil, terasa hidup. Di dalamnya, biola-biola bergantungan dengan bentuk dan warna bervariasi. Semua sudah dipesan oleh pelanggannya.
Di dinding, terpajang poster-poster musisi biola dunia, yang tatapan mereka seolah merestui pekerjaan Yuli.
"Beberapa musisi ini sudah memakai produk saya," ucap Yuli bangga sambil menunjuk salah satu poster.
Usaha Yuli ini berawal dari hobi bermain biola sejak remaja. Saking cintanya, ia mencoba membuat biolanya sendiri. Tak disangka, hasil karya pria berambut keriting ini mendapat tempat di hati para violinist.
Bahkan, pembeli produknya lebih banyak dari luar negeri.
"Perbandingannya 80 persen dari luar negeri, 20 persen dalam negeri. Paling banyak dari Eropa dan Amerika Serikat," ungkapnya.
Biola buatannya yang paling terkenal dinamai Aeyra. Jenis ini disebutnya biola hollow karena punya ciri khas tersendiri.
Berbeda dengan biola elektrik lainnya, tubuh biola Aeyra masih menyisakan rongga di dalamnya.
Rongga tersebut menghasilkan suara akustik yang tetap terasa alami, meskipun sejatinya adalah biola elektrik.
"Ini yang disukai musisi mancanegara," bebernya.
Produknya dijual dengan harga mulai Rp9 juta hingga Rp30 juta, tergantung pada tingkat kesulitan pembuatan dan jenis bahan yang digunakan.
Untuk menjaga kualitas biola, Yuli memilih kayu dengan teliti. Ia menggunakan kayu kuini lokal untuk beberapa bagian karena lebih awet, serta kayu maple yang diimpor dari Kanada untuk bagian fingerboard.
Sejak 2020, biola-biola Yuli telah mengantongi sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Sertifikat ini menjadi pengakuan resmi atas hasil karyanya yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga bernilai tinggi secara intelektual. (fud)
Editor: SUtrisno
Editor : Arief