Seperti rotan yang dipilin dan diikat dengan sabar, Musini terus menjalani hidupnya dengan cara yang sama.
*****
SELASA (17/12) pagi di tepi Jalan RK Ilir, Pekauman, Banjarmasin Selatan, Musini melangkah pelan.
Mata perempuan 65 tahun itu buram diselimuti katarak. Ia ditemani putrinya, Tina, yang ingin memastikan ibunya selamat sampai di rumah tetangga.
Di pelataran rumah tersebut, Musini duduk bersila. Tangannya yang keriput mulai bergerak, mengikat bilah demi bilah rotan.
Jari-jarinya yang ramping merajut bilah-bilah itu hingga saling mengunci, membentuk kerangka keranjang.
Sekilas, gerakan itu tampak sederhana. Namun, pekerjaan ini butuh ketelitian dan kesabaran yang tidak dimiliki semua orang.
"Awalnya susah," katanya tanpa menoleh. "Tapi kalau dilatih terus, lama-lama terbiasa. Sekarang, meski mata saya buram, tangan ini sudah hafal caranya."
Musini mampu membuat 20 hingga 30 keranjang rotan setiap hari. Untuk satu keranjang ia menerima upah Rp1.000.
Kecil, tapi bagi Musini, itu sudah cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya.
"Daripada cuma duduk di rumah dan tidak ada yang dikerjakan," ujarnya.
Bagi Musini, bekerja bukan sekadar perkara uang. Ada hal lain yang lebih penting dari upah: harga diri.
"Kalau bekerja, hati saya lebih senang," katanya seraya tersenyum tipis dengan sederet gigi yang agak rompal.
Tina sebenarnya telah berkali-kali meminta ibunya berhenti bekerja. Namun jawabannya selalu sama. Musini merasa tubuhnya masih berguna, meski sekuat dulu lagi.
"Terkadang kasihan melihatnya," kata Tina. "Tapi, kalau memang beliau mau, ya kami hormati saja keinginannya."
Di rumah tempat Musini bekerja, ada sekitar 10 pengrajin. Devi, pemilik usaha kerajinan itu, mengatakan semua produk di sana dibuat secara manual.
Diterangkannya, pengrajin memanfaatkan kakinya sebagai penahan, sementara tangan untuk merajut rotan.
Pekerjaan ini menuntut presisi tinggi, terutama saat membentuk bagian tepi keranjang agar rapi dan seimbang.
Musini bertugas mengikat keranjang yang sudah setengah jadi dengan tali rotan agar lebih kokoh. Tugas ini butuh kekuatan dan kecekatan. Sebab, jika ikatannya longgar, keranjang jadi mudah rusak saat digunakan.
"Ibu Musini sudah puluhan tahun bekerja di sini," ujar Devi. "Beliau memang tidak banyak bicara, tapi hasil kerjanya rapi dan kuat."
Industri rumahan ini bisa memproduksi ratusan keranjang setiap hari. Ukurannya beragam, dari yang kecil sebagai wadah buah hingga keranjang besar untuk mengangkut material bangunan.
Tak hanya dibeli warga Kalimantan Selatan, pesanan keranjang juga datang dari provinsi tetangga seperti Kalimantan Timur.
Dari usaha kecil ini, Devi bisa meraup omzet hingga Rp7 juta per bulan. "Kami bersyukur punya pekerja-pekerja seperti Ibu Musini. Mereka adalah tulang punggung usaha ini," tegasnya.
Menjelang sore, pekerjaan Musini usai. Ia menatap keranjang-keranjang yang sudah rampung diikatnya dan menghela napas lega.
Tina sudah menunggu. Tak banyak bicara, ia menggandeng ibunya pelan-pelan, membimbing langkahnya menuju rumah.
Jalan yang dilewati masih sama, tak ada yang berubah. Setiap hari perjalanan itu berulang.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief