Di balik evakuasi korban keganasan buaya di Desa Cantung Kiri Hilir, Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, ada kisah heroik dalam prosesnya.
****
Kampung nelayan yang ada di Desa Sarang Tiung, Pulau Laut Sigam dikunjungi Rabu (23/10/2024) sore. Misinya mencari siapa yang nekat menyelam di sarang buaya saat mengevakuasi korban di Desa Cantung Kiri Hilir.
Ketika ditanyakan kepada warga, dua orang yang tergabung dalam Kelompok Kampung Nelayan itu pun mereka panggil.
Sembari menunggu kedatangan nelayan pemberani itu, Bahtiar menceritakan awalnya ditelepon Damkar Pemkab Kotabaru. Salah satu pembina kampung ini ditanya ketersediaan peralatan selam untuk dipakai tim di lapangan guna mengevakuasi korban yang diterkam buaya.
Permintaan alat selam tersebut dipenuhinya. Bahtiar menyuruh empat nelayan yang bisa menggunakan alat selam tersebut menyeberang laut menuju ke Desa Cantung Kiri Hilir, Selasa (22/10/2024).
Bahtiar menunjuk Suriansyah sebagai penanggung jawab untuk menuju ke lokasi bersama Supriadi, Haris dan Mediansyah.
Sedari awal sebelum berangkat, Suriansyah sudah punya firasat bakal terjun langsung dalam aksi kemanusiaan tersebut.
Firasatnya benar. Setiba di lokasi, Tim Basarnas dan gabungan sudah empat hari mencari korban, dan tidak berani menyelam. Mengingat masih banyak buaya di sungai tersebut.
Melihat situasi itu, Suriansyah menanyakan ke timnya, apakah mereka berani menyelam. Timnya saat itu terdiam sejenak melihat situasi.
Apalagi di sungai tampak gelembung kecil panjang dan gelombang, pertanda di bawah masih ada buaya berkeliaran.
Mediansyah menjawab berani, tapi minta ditemani. Namun, anggota Basarnas tidak mau dengan alasan keselamatan.
Mediansyah menawarkan kepada warga, juga tidak ada yang berani menyahut.
Mediansyah bingung, karena menyelam tidak boleh sendirian. Hingga temannya Haris memberanikan diri untuk ikut menyelam.
Mereka berdua sudah siap, tapi tidak mendapatkan lampu hijau dari Basarnas karena faktor keselamatan. Basarnas juga tidak bisa menjamin mereka bakal lolos.
Mediansyah berdiskusi dengan keluarga korban. Coba meyakinkan pihak keluarga bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
Alhasil, ia pun diizinkan dan mulai menyelam. Kurang lebih lima orang juga ikut ke sungai menemani.
Tugas penyelam adalah mengikatkan tali selang ke batang kayu yang menjepit tubuh korban di dasar sungai.
Setelah terikat, ditarik dengan bantuan mesin. Supaya tubuh korban terbebas dan mengapung dengan sendirinya.
“Jujur, kalau rasa takut pasti ada. Tapi saya melihat anak korban yang mempunyai harapan besar agar orang tuanya bisa dievakuasi dari dasar sungai,” cerita Mediansyah.
Selain nekat, ia yakin dengan strategi timnya.
“Saat itu saya sampaikan kepada teman di atas, kalau ada tarikan dari bawah segera ditarik dengan cepat. Itu kode saya tidak dalam keadaan baik-baik saja,” ungkapnya. Setelah korban mengapung, ia merasa sangat lega karena kenekatannya membuahkan berhasil.
Ditanya soal keahliannya menyelam, Mediansyah merasa ilmunya hanya didapatkan secara autodidak sebagai seorang nelayan pesisir di Desa Sarang Tiung.
“Saya dari dulu memang penyelam, dan beberapa tahun lalu memperdalam lagi untuk mendapatkan lisensi, difasilitasi PT Arutmin,” ujarnya.
Berkat lisensi dan keahliannya ini, Mediansyah sering diminta melakukan penyelaman untuk mengevakuasi mayat di laut.
“Saya pernah menyelam di laut, mengevakuasi korban dengan cara memeluknya. Mungkin ini amanah kelebihan yang diberikan kepada saya. Jadi saya harus memanfaatkannya untuk kemanusiaan,” tutupnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief