Kini usia Jauza sudah menginjak 14 tahun. Selama itu pula ia terbaring lemah tak berdaya di kasurnya.
******
Apabila ingin makan, minum, mandi hingga buang air, Jauza yang menderita kelumpuhan otak harus dibantu oleh ibunya, Alin.
Tapi sekarang Alin mulai kesulitan, karena tubuh Jauza yang sudah besar. "Sekarang saya sudah enggak sanggup membopong seorang diri, badannya sudah besar seperti anak 14 tahun pada umumnya, belum lagi saya menjaga adik Jauza usia 7 tahun dan 7 bulan," tutur Alin.
"Jauza juga kadang ditemani neneknya yang sudah berumur 90-an, kadang neneknya yang menyuapi makan atau sekadar menemani di samping," sambungnya.
Lantas bagaimana kondisi finansial Alin menghidupi ketiga anaknya? Ia mengatakan serba dicukup-cukupkan. Karena suaminya hanya seorang petugas kebersihan di salah satu perusahaan swasta, pendapatannya dalam sebulan sekitar Rp2,8 juta.
"Sementara saya seharian cuma di rumah menjaga anak, harus pintar-pintar mencukupkan uang itu. Kadang saya juga jadi reseller, menjualkan barang dagangan teman, untungnya enggak seberapa," ujarnya.
Alin juga mengaku, selain untuk kebutuhan makan, sejauh ini ia sangat kesusahan untuk memenuhi popok dan susu Jauza. "Harga popok dan susu Jauza itu cukup menguras kantong, dan Alhamdulillah kemarin ada orang baik yang membantu," akunya.
Meski serba sederhana, ia berharap ketiga anaknya bisa terus sehat dan bahagia menjalani kehidupan. "Semoga saya dan suami juga diberikan panjang umur dan kesehatan biar bisa menjaga ketiga anak saya, terutama menjaga Jauza."
"Kalaupun suatu saat saya wafat lebih dulu, saya ingin ada yang mengasihi dan menyayangi Jauza sepenuh hati, karena bagaimanapun saya sangat menyayangi dia," harapnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief