BANJARMASIN - Ratusan orang memenuhi kawasan Kompleks Makam Sultan Suriansyah Banjarmasin, Kamis (19/9/2024) malam.
Keris, parang, badik, dan tombak terjajar rapi di atas meja panjang berbalut kain kuning. Bersama pusaka, tersaji pula 41 macam wadai khas Banjar.
"Ini adalah ritual Ma'aturi Dahar," kata ketua pelaksana acara, Syarifudin Nur atau yang akrab disapa Abah Sultan.
Tradisi ini telah berlangsung sejak zaman Sultan Suriansyah, raja pertama Kesultanan Banjar, yang memerintah sekitar tahun 1500-1540-an.
Ritual Ma'aturi Dahar adalah upacara pembersihan dan merawat pusaka-pusaka peninggalan kesultanan serta benda-benda milik komunitas budaya Banjar.
Makna di Balik Tradisi
Kata Ma'aturi dalam bahasa Banjar berarti menyediakan, sementara Dahar bermakna makanan. Awalnya, tradisi ini merupakan bentuk penghormatan dengan menyajikan makanan bagi para tamu.
Namun, seiring dengan penyebaran Islam, ritual ini beradaptasi dengan ajaran agama, menjadikannya acara yang dipenuhi dzikir dan doa.
Abah Sultan menjelaskan ritual Ma'aturi Dahar adalah salah satu cara untuk menjaga kelestarian pusaka-pusaka asli Banjar. Setidaknya 58 benda pusaka peninggalan Kesultanan Banjar dan ratusan pusaka dari komunitas budaya turut dibersihkan dalam prosesi ini.
"Benda-benda ini tidak hanya sekedar warisan sejarah, tapi juga menjadi simbol jati diri masyarakat Banjar," ungkapnya.
Pembersihan pusaka dilakukan dengan menggunakan air campuran bunga rampai yang telah diberi doa-doa khusus.
Setelah dibersihkan, pusaka dikeringkan di atas asap dupa, diiringi dengan tradisi Malamut—sebuah ritual yang semakin memperkuat nilai spiritual acara ini.
Semakin Diminati Masyarakat
Tradisi Ma'aturi Dahar dahulu dilakukan dari rumah ke rumah, bergiliran selama beberapa hari. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, tradisi ini hampir punah. Untuk melestarikan, prosesinya kini dipusatkan di Kompleks Makam Sultan Suriansyah.
"Alhamdulillah, setiap tahunnya semakin banyak masyarakat yang hadir. Tahun ini, kami memperkirakan ada sekitar 1.500 orang yang mengikuti prosesi ini," kata Abah Sultan.
Selain Ma'aturi Dahar, acara malam itu juga diisi dengan Haul Sultan Suriansyah, Khatib Dayyan, dan Patih Masih Jamasan. Tradisi ini bukan hanya tentang pusaka dan sejarah, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi dan pengingat bagi masyarakat Banjar tentang pentingnya menjaga warisan budaya leluhur.
Abah Sultan berharap tradisi ini terus berlanjut dan semakin banyak masyarakat yang terlibat. “Kami ingin Ma'aturi Dahar tetap menjadi bagian dari identitas Banjar,” tutupnya.
Editor : Fauzan Ridhani