Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pengrajin Sekaligus Pengajar, Kisah Pemilik Galeri Sasirangan Assalam

Riyad Dafhi Rizki • Sabtu, 14 September 2024 | 12:10 WIB
KALEM: Redho menunjukkan produk sasirangan pewarna alami olahannya.
KALEM: Redho menunjukkan produk sasirangan pewarna alami olahannya.

Redho memanfaatkan bahan-bahan dari petani lokal. Sasirangan berwarna kalem karyanya telah dijual hingga ke luar negeri. Ia juga aktif mengajar untuk melestarikan budaya Banjar.

         ******
PAGI yang terik, Muhammad Redho duduk jongkok. Tangan kurusnya mencelupkan kain yang sudah dijelujur ke wadah berisi pewarna. Di sebelahnya, enam anak tampak kesulitan mempertahankan fokusnya.

"Dilihat baik-baik ya," kata pria 62 tahun itu, Rabu (11/9) pagi.

Redho sedang mengajarkan cara mewarnai kain sasirangan kepada siswa sekolah dasar (SD). Lokasinya di depan galeri milik Redho yang belum selesai direnovasi. Pintu kamar kecilnya saja belum terpasang.

Namun begitu rampung, Redho berencana memajang produk-produk kerajinannya di sana.
Galeri itu dinamainya Assalam. Akronim dari Aku Suka Sasirangan Pewarna Alam. Yang juga berarti "keselamatan".

Galeri itu berada di kawasan Jalan Mulawarman, Banjarmasin Tengah.

Redho adalah pengrajin kain sasirangan. Dia bukan orang baru di dunia ini. Keterampilan itu sudah dimilikinya sejak tahun 1993.

"Saya menjadi pengrajin sasirangan karena suka menggambar, juga hal-hal berbau seni," katanya kepada Radar Banjarmasin.

Mulanya, Redho juga seperti pengrajin sasirangan kebanyakan. Memakai pewarna sintetis. Tapi sejak 2009 ia beralih ke bahan-bahan alami.

"Waktu itu saya mengikuti pelatihan," katanya.

Dari pelatihan itu, Redho mengetahui, kalau pewarna sintetis telah dilarang penggunaannya sejak 1994.

Redho juga mendapat informasi kalau pewarna sintetis mempunyai risiko kesehatan.

Contohnya naftol. Pewarna ini mengandung senyawa karsinogen yang bisa berdampak buruk bagi pembuat, pemakai, serta lingkungan.

Bagi pembuat produk, bahaya ini muncul saat pewarna dilarutkan ke dalam air mendidih. Uap yang terhirup dapat memicu sel kanker.

Sementara itu, bagi pemakai produknya, pewarna yang luntur dapat menembus lapisan epidermis kulit.

Lantas ketika limbah atau produknya dibuang ke sungai akan berpengaruh buruk bagi ekosistem air.

"Itulah sebabnya saya beralih ke pewarna alami," katanya.

Bahan baku pewarna alami juga lebih mudah dicari. Banyak tumbuh di sekitar. Misalnya indigofera, kunyit, ulin, gincu (kesumba), kulit rambutan, secang, pucuk daun jati, jamba, tegeran, kesemek, buah pucuk merah, temulawak, angsana, nangka, buah telang, lombok merah, kabuau, pudak, jahe, ramania, karamunting, temulawak, mengkudu, dan masih banyak lagi.

"Beberapa bahan baku saya beli dari petani. Ada juga yang saya tanam sendiri di pekarangan rumah," katanya.

Kalaupun harus membeli, kata dia, bahan baku untuk pewarna alami jauh lebih murah daripada sintetis.

"Dengan membeli kita bisa membantu memberdayakan ekonomi petani," katanya.

Redho sendiri menjual tiga produk. Dari bahan baku pewarna, kain sasirangan, dan ragam produk sasirangan yang telah diolah menjadi tas, kemeja, gaun, dan lainnya.

“Kalau bahan baku saya jual Rp10 ribu sampai Rp35 ribu. Kalau cuma kain sekitar Rp150 ribu. Sedangkan produk jadi mulai Rp150 ribu sampai Rp700 ribu. Tergantung kerumitan," jelasnya.

Soal harga jual ini, Redho tidak ingin muluk-muluk. "Kurang lebih saja dengan produk pewarna sintetis. Saya tidak ingin jual mahal. Tujuan utama saya adalah membumikan pemakaian warna alami," katanya.

Ia juga menyadari. Di balik keunggulan, produk sasirangan pewarna alam juga punya kekurangan. Yakni warnanya lebih kalem dan lebih mudah luntur.

"Sementara orang Banjar cenderung lebih suka warna terang. Sehingga peminatnya masih di kalangan terbatas," katanya.

Kendati demikian, beberapa produk Redho telah terjual ke luar pulau Kalimantan, bahkan mancanegara, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.

Namun Redho tak jemawa. Ia tetap sederhana. Lebih suka bepergian hanya dengan mengayuh sepeda. "Selain sehat, setidaknya tidak ikut menambah polusi," ujarnya.

Redho juga senang berbagi ilmu. Ia kerap diminta mengisi pelatihan-pelatihan teknik membuat sasirangan.

Siapa pun yang ingin belajar, Redho akan dengan senang hati membimbing. Dorongannya untuk mengajar begitu besar.

Maklum, dirinya pensiunan guru. "Saya sering diminta memberi pelatihan ke luar daerah," katanya.

Tujuannya membagikan ilmu itu hanya satu, "Supaya pewarna alami bisa digunakan oleh semua pengrajin sasirangan."

Dengan usahanya, selain baik bagi kesehatan dan menjaga lingkungan, dengan menjadi pengrajin sasirangan pewarna alam Redho juga turut melestarikan kearifan budaya lokal orang Banjar.

"Di satu sisi, menjaga sasirangan supaya tetap eksis. Di sisi lain mengembalikan kearifan lokal para orang tua kita dahulu yang telah menggunakan pewarna alami," katanya. 

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#inspiratif #sasirangan #Fashion