YS Agus Suseno seorang penyair lantang. Mendiang suka memprovokasi semangat perlawanan terhadap penguasa lewat syairnya. Kini ia berpulang. Rest in peace.
****
KAMIS (12/9) pagi, jagat sastra Banua diselimuti duka. YS Agus Suseno tutup usia.
Sastrawan yang khas dengan rambut gondrong itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Islam Banjarmasin, sekitar pukul 10.03 Wita. Setelah mendapat perawatan akibat sakit jantung di ruang ICU.
Jenazah disalatkan di Masjid Al-Khair, Teluk Dalam, Banjarmasin Tengah, dan dimakamkan di Karang Paci, Jalan Ahmad Yani km 23 Banjarbaru.
Lahir pada 23 Agustus 1964, Agus hanya dibesarkan seorang ibu. Kesepian tanpa sosok ayah, membuatnya kerap menghabiskan waktu bersama buku.
Buku-buku bacaannya itulah yang kemudian membawanya mengenal dunia sastra.
Agus mulai gemar menulis puisi sejak usia 17 tahun. Meski sekolah dasar (SD) pun tidak selesai, Agus punya wawasan luas.
Namanya dikenal berkat syair-syair berbahasa Banjar yang menohok. Acap kali mengejek rezim penguasa.
Tulisan-tulisannya kerap diunggah di akun Facebook pribadi. Namun dia menghilang dari dunia maya sejak dua tahun terakhir.
Rupanya, Agus sedang fokus menggarap karya. Awal Juli 2024 lalu dia merilis dua buku: lima drama monolog berjudul Sekelam Malam Sehitam Batubara dan kumpulan puisi berjudul Tanah Banjar, Negeri Kesedihan.
Agus adalah seniman yang multi talenta. Bukan cuma puisi, dia juga menulis esai, cerpen dan naskah teater.
Ia pun dianggap sebagai senior dan guru oleh banyak seniman di Kalimantan Selatan.
Penyair yang Punya Sikap
Dengan mata berkaca-kaca, Hajriansyah menceritakan, kenangannya bersama YS Agus Suseno.
Agus baginya bukan sekadar senior, tapi juga kakak tanpa hubungan darah.
"Saya kenal beliau itu tahun 1994, ketika pertama kali nongkrong di Taman Budaya," ujar Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin itu memulai kisahnya, kemarin.
Dari Agus, Hajri banyak belajar tentang seni, terutama cara membaca dan menulis puisi.
"Beliau adalah guru saya. Dan mungkin guru bagi seniman-seniman lain. Karena memang karya-karyanya sudah diakui," tuturnya.
"Beliau juga orang yang punya kepedulian yang tinggi kepada kami, adik-adiknya," sambungnya.
Hajri juga mengagumi kepekaan Agus. "Misalnya isu lingkungan. Ketika sedang ramai gerakan #SaveMeratus, beliau salah seorang yang lantang bersuara dengan syairnya," kenangnya.
"Beliau juga sensitif terhadap isu-isu sosial. Serta sentimen terhadap pejabat publik yang tidak beres," tambahnya.
Dengan karyanya, Agus di mata Hajri adalah orang yang frontal. Keras terhadap prinsipnya.
"Dahulu saat beliau sering mengkritisi kebijakan Paman Birin (Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor), kita sering ingatkan supaya lebih berhati-hati. Tapi namanya Kak Agus, beliau tidak gentar," ceritanya.
Satu yang tidak bisa dilupakan Hajri dari Agus adalah syair-syairnya yang lugas dalam mengkritik.
"Berbeda dengan penyair lain yang memakai metafora dalam mengkritik, Kak Agus langsung to the point dan vulgar," tegasnya.
Karena itu, sambung Hajri, Agus tidak disukai banyak pihak. Terutama yang pernah kena semprot. "Tapi pada waktu bersamaan disukai mereka yang tersuarakan," tukasnya.
Menurutnya, bakal sulit mencari sosok pengganti Agus. "Beliau adalah orang yang langka. Lengkap. Karyanya bagus. Orangnya juga berani," katanya.
Senada dengan Hajriansyah, novelis Sandi Firly mengenang YS Agus Suseno sebagai sosok yang punya prinsip dan pendirian teguh.
"Ketika beliau punya sikap, tidak bisa ditawar," katanya.
Sandi mengenal Agus ketika ia masih berkecimpung di dunia jurnalistik. "Tahun 2000-an di Taman Budaya Kalsel. Melihat teater SOS yang naskahnya ditulis beliau," kisahnya.
SOS adalah karya Agus yang paling masyhur, sekaligus paling berkesan bagi Sandi.
"Kukira tidak ada karya yang lebih sering dimainkan selain SOS. Sampai hari ini," katanya.
Pegiat seni Kalsel, Khairiadi Asa mengagumi sosok YS Agus Suseno dari bahasa syair-syairnya yang tajam dan tanpa basa-basi.
"Kata-katanya menggetarkan. Langsung ke objek yang dikritik,"
Khairiadi juga mengingat Agus dari karya-karya berbahasa Banjar yang sering ditulisnya.
"Kita merasa kehilangan. Karena figur seperti beliau ini langka. Mudah-mudahan ada generasi yang mewarisi semangatnya," kata wartawan senior ini.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief