Inilah miniatur Geopark Meratus. Warisan geologi, keanekaragaman hayati, edukasi dan konservasi, serta pengembangan ekonomi masyarakat desa... semuanya terwakili oleh Belangian.
Oleh MUHAMMAD SYARAFUDDIN
TAHUN 1973, Presiden Soeharto meresmikan Waduk Riam Kanan. Sebelum itu terjadi, beberapa keluarga eksodus.
Keluar dari Desa Kala'an. Berjalan kaki. Mencari tanah harapan.
Mereka berhenti di teras hutan hujan tropis Kahung. Membuka kampung baru.
"Berhenti di sebuah daerah bernama Liang Hantu," kata Kepala Desa Belangian, Aunul Khoir.
Sesuai namanya, kawasan itu terkenal angker. Di Liang Hantu, sekali dalam setahun, sekelompok orang meletakkan sesajen. Memberi makan dedemit.
"Baru tahun 1982 desa kami resmi tercatat masuk wilayah administratif Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar," kata Aunul.
"Tapi pemda meminta kami mencari nama desa yang baru," sambungnya.
Masyarakat memilih nama Belangian. Diambil dari nama sungai yang dilintasi jembatan gantung. Lokasinya di belakang desa.
Sebenarnya, nama baru tak kalah seram dari nama lama. "Belangian berarti tempat kumpulan orang-orang halus," jelas Aunul.
Namun mereka tak pernah melupakan nama Kala'an. Kampung lama yang ditenggelamkan pemerintah demi proyek Riam Kanan untuk menyuplai pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Dalam megaproyek itu, delapan sungai yang hulunya berasal dari Pegunungan Meratus dibendung. Sembilan desa--termasuk Kala'an--dibanjiri. Luasnya mencapai 9.730 hektare.
Setengah abad kemudian, Belangian dihuni 105 keluarga atau 350 jiwa. Mayoritas Suku Banjar.
"Saya satu-satunya pendatang Jawa di sini," kata Aunul tertawa.
Pria 50 tahun itu lahir di Lamongan, Jawa Timur. Saat muda merantau ke Kalimantan Selatan.
Bertemu jodoh di Martapura. Aunul jatuh cinta pada seorang perempuan Belangian.
"Pertama kali kemari masih gelap. Listrik belum masuk. Itu tahun 2000," kenang Aunul.
Sekarang, kondisinya mendingan. Listrik sudah masuk. Tinggal menunggu kehadiran internet.
"Tahun 2012 jaringan PLN masuk, tapi lampu hanya menyala dari magrib sampai subuh. Baru Januari 2022 menyala 24 jam," ucap Aunul.
Untuk layanan pendidikan dan kesehatan telah berdiri puskesdes, posyandu, sekolah dasar (SD), dan madrasah diniyah.
Jadi anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan ke SMP dan SMA harus keluar desa. Menyeberangi Riam Kanan.
"Alhamdulillah, sudah banyak yang kuliah," kata Aunul bangga.
Lahir dan besar di Kota Banjarmasin, sulit bagi saya memahami mengapa mereka mau bertahan di kampung terpencil yang diapit waduk dan hutan tropis Kalimantan ini.
"Karena tanahnya subur," tegas Aunul.
Ekonomi masyarakat Belangian ditopang kebun cabai dan kacang tanah, peternakan sapi dan kerbau, serta manugal (menanam padi gunung di lereng).
"Masalahnya adalah akses. Kami butuh infrastruktur yang lebih baik agar produk pertanian bisa mencapai pasar dengan ongkos yang lebih murah," jelas kades.
Pohon Raksasa
Kami berangkat dari Siring Nol Kilometer, Banjarmasin, pada Rabu (21/8/2024) pagi.
Setelah dua jam naik bus, kami tiba di Bukit Batu, Tahura Sultan Adam, Kabupaten Banjar.
Dari sini naik perahu kelotok. Menyusuri Riam Kanan selama sejam. Menuju Belangian, desa terujung di bantaran waduk.
Kami tiba menjelang zuhur. Masyarakat menyambut kami dengan nasi panas, ikan nila dan gabus goreng, sambal, dan sayur rebung.
Semuanya dimasak dengan kayu bakar di atas tanah lapang. Dimasak gotong royong.
"Ini tradisi kami. Istilahnya gawi sabumi. Diadakan setiap acara pernikahan atau kedatangan tamu besar," kata Pembakal Aunul.
Tujuan kami adalah Sungai Luadibatu, perbatasan antara Desa Belangian dan Hutan Kahung.
Sebelum tiba di sana, kami berhenti di Shelter Kembar, pos istirahat pendakian.
"Di sini kami menanam mahoni, kemiri, petai, dan jengkol. Area tanamnya mencapai 1.500 hektare," kata Bambang Susilo dari Seksi Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Kalsel.
"Anda masih bisa menemukan rusa, kijang, babi hutan, dan beruang madu di Belangian," imbuhnya.
Bambang juga mengungkap rencana membuka akses darat. Supaya Belangian tak hanya bisa dijangkau dengan kelotok.
"Membuka jalur darat dari Desa Kiram di Karang Intan. Memang tidak memangkas jarak, tapi memangkas waktu tempuh," terang Bambang.
Sebelum tiba di sungai, kami berhenti di depan sebuah pohon "raksasa". Saking besarnya, untuk memeluk batang pohon ini butuh 10 orang dewasa berdiri melingkar.
Pohon binuang laki (nama latinnya Duabanga moluccana) ini memiliki tinggi 30 meter. Agak aneh karena ada imbuhan jenis kelamin pada pohon ini.
Pemandu dari Dishut menceritakan, disebut "lelaki" karena ada testis nongol di atas akar pohon. Dikira bercanda, ternyata serius. Saya melihat sendiri "alat kemaluan" itu.
Di hadapan kami, berdiri Kahung, hutan khas hujan tropis yang lebat, gelap, dan basah. Hati saya gentar dibuatnya.
Anggrek Hantu
Bagian ini penting untuk membuktikan klaim di atas, Desa Belangian sebagai miniatur Geopark Meratus.
Pertama, keragaman hayati. Di sini bisa ditemukan anggrek dari ukuran paling kecil sampai yang paling besar.
Contoh anggrek tebu (Grammatophyllum sp). Batang anggrek terbesar di dunia ini bisa tumbuh setinggi 1,5 meter hingga 3 meter.
Paling kecil adalah anggrek hantu (Taeniophyllum sp). Saya melihatnya menempel di pohon, beberapa puluh meter dari dermaga desa.
"Dinamai anggrek hantu karena tidak punya batang dan daun, hanya akar dan bunga," kata Ramadhan Jayusman, staf Badan Pengelola Geopark Meratus.
Ramadhan, 27 tahun, adalah sarjana biologi lulusan Universitas Lambung Mangkurat.
"Selama bekerja di geopark, saya belum pernah melihat hutan dengan koleksi anggrek selengkap Kahung," ujarnya.
Di Kahung, jika beruntung, Anda bisa melihat burung enggang terbang. Sebelum ke Belangian, penulis sempat mengira burung enggang sudah punah di Kalsel.
Kades Belangian, Aunul Khoir menceritakan, masyarakat setempat percaya bahwa enggang adalah satwa mistis. Bulunya bisa dipakai untuk mengusir hama tanaman.
Kedua, konservasi. Setiap kepala keluarga di Desa Belangian punya kewajiban menjaga pohon-pohon besar di hutan Kahung.
"Jadi ketika ada pohon yang ditebang, kami tahu harus menuntut tanggung jawab kepada siapa," tegas Aunul.
Ketiga, pengembangan ekonomi masyarakat. Kaum perempuan Belangian mengembangkan produk Saecoprint. "Singkatan dari sasirangan dan ecoprint," kata Rahmi, 24 tahun, salah seorang perajin sasirangan.
Sasirangan adalah kain tradisional Kalsel yang telah diakui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai warisan non benda.
Menjadi produk baru berkat teknik pewarnaan dan pemotifan yang berbeda.
Disebut ecoprint karena memakai bahan pewarna alami. Warna kuning diolah dari kunyit, cokelat dari ulin, ungu dari daun secang, hijau dari jarak ulung, dan lainnya.
Sementara pemotifannya menggunakan cetakan dedaunan yang berasal dari alam Kahung.
"Ada dua jenis daun yang tidak bisa dipakai. Pertama, daun yang permukaannya licin. Saat dicetak tak bisa menempel ke kain. Kedua, daun yang kadar airnya tinggi," jelas Rahmi.
Pembuatan Saecoprint ini hasil pelatihan kerajinan yang diberikan Badan Pengelola Geopark Meratus.
"Sayangnya, pemasarannya belum ada. Kami cuma membuat berdasar pesanan. Per meter 400 ribu rupiah," ungkap Rahmi.
Masih dalam konteks ekonomi, status geopark akan mempromosikan nama Belangian ke tengah masyarakat nasional dan bahkan internasional. Mengundang peneliti dan wisatawan.
"Status geopark membuat desa kami lebih ramai," kata Rahmi.
Taman Bumi Meratus
Mengacu definisi UNESCO (organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa), taman bumi adalah wilayah yang memiliki situs geologi, keragaman hayati, dan warisan budaya.
Taman bumi dikelola untuk keperluan konservasi, edukasi, dan pengembangan ekonomi masyarakat setempat.
Di Indonesia pada 2023 terdapat 10 Geopark Global UNESCO. Pada 2024, dua Geopark Nasional, Kebumen dan Meratus sedang berjuang meraih pengakuan UNESCO.
Geopark Meratus dirintis sejak 2017. Luasnya 3.645 kilometer persegi. Memiliki 54 situs yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota: Banjarbaru, Banjarmasin, Banjar, Barito Kuala, Tapin, dan Hulu Sungai Selatan.
Taman bumi ini dihuni 1,7 juta jiwa. Menaungi dua saudara, Suku Banjar dan Suku Dayak.
Secara geologis, Pegunungan Meratus diakui menyimpan rangkaian batu ofiolit terlengkap dan tertua di Indonesia.
Ofiolit adalah bebatuan yang terbentuk di dasar laut sekitar 198 juta tahun lalu. Berada di kedalaman 6 ribu meter di bawah permukaan laut. Terdorong ke daratan akibat tumbukan yang terjadi pada 137 hingga 100 juta tahun lalu.
"Desa Belangian yang Anda kunjungi masuk dalam Rute Timur," kata Ali Mustofa dari Badan Pengelola Geopark Meratus, Senin (19/8/2024) malam di gedung RRI Banjarmasin.
Perjalanan menyusuri Geopark Meratus dibagi empat rute. Rute Barat, pesona susur sungai; Rute Selatan, hutan tropis dan pendulangan intan; Rute Utara, adat Dayak Meratus; dan Rute Timur, sejarah alam.
Ali mengatakan, di Belangian ditemukan batu pasir pembawa intan. Berasal dari Formasi Manunggul yang berumur 59-65 juta tahun lalu (zaman kapur akhir).
"Dahulu intan penting bagi ekonomi Kalsel. Daerah ini pernah terkenal dengan pendulangan intannya," katanya.
Kampung Muhammadiyah di Ujung Riam
Saya menyukai Hendri Hidayat, ojek yang mengantar saya berkeliling Belangian.
Umurnya baru 34 tahun, tapi sudah kenyang makan asam garam.
Lulus SD, Dayat pergi merantau. Bekerja di Papua, Sulawesi, dan Maluku. Menambang batu bara, emas, hingga mendulang intan.
Pada akhirnya, Dayat pulang ke Belangian. Menikah dan menetap. Mencari nafkah dengan berkebun kacang tanah.
Mengapa ia kembali? "Karena di sini damai," jawabnya.
Hidayat juga sosok religius. Ia membanggakan putri sulungnya yang juara hafalan Al-Qur'an di sekolah.
"Sebentar lagi anak saya lulus SD. Rencananya melanjutkan sekolah ke Banjarmasin. Di sana ada program tahfiz yang bagus," ujarnya bersemangat.
Di Belangian, kami salat zuhur di Masjid Al-Jihad. Dari logo di mimbarnya, jelas ini masjid Muhammadiyah.
Di seberang masjid juga berdiri Madrasah Diniyah Awwaliyah Muhammadiyah.
Ketika saya singgung soal itu, Dayat membenarkan dengan mantap, ini memang kampung Muhammadiyah.
"Kisahnya, saat meninggalkan Desa Kala'an, saudara kami yang NU (Nahdlatul Ulama) memilih tinggal di seberang. Di Desa Pa'au. Sedangkan orang tua kami yang Muhammadiyah membuka kampung di Belangian," tuturnya.
Meski Muhammadiyah "tulen", ketika pergi ke kota Dayat selalu salat di "masjid NU". Favoritnya adalah Masjid Al Karomah di Martapura.
"Kadang kita senang melebih-lebihkan perbedaan yang sedikit itu," ujarnya.
Saya sepakat dengan pernyataan Dayat!
Bagaimana Rasanya?
Nama Kala'an terngiang-ngiang di telinga. Dalam perjalanan pulang dari Desa Belangian menuju Bukit Batu, sulit bagi saya untuk tidak merasa getir.
Bagaimana rasanya terusir dari kampung halaman?
Perahu kelotok membelah perairan Riam Kanan yang keemasan oleh cahaya matahari menjelang magrib. Suasana kian melankolis.
Di atas permukaan air, mencuat ujung batang pohon besar dan tua. Di dasar danau, saya membayangkan, di sekitar pohon itu dahulu berdiri perkampungan. Rumah dan surau yang dibangun penduduk Kala'an.
Mungkin di sana masih ada pintu dan jendela yang utuh. Mungkin ada meja makan yang tertinggal. Mungkin ada kuburan nenek moyang yang tak sempat dibongkar dan dipindahkan.
Pertanyaan di atas saya ajukan kepada Rainawati, 56 tahun.
"Umur saya masih 10 tahun. Saya anak sulung. Kami berjalan kaki keluar desa," ujarnya.
"Kami hanya membawa pakaian, peralatan memasak, piring dan gelas," kisahnya dengan nada datar.
Saya bertanya, hari ini apa yang Rainawati rasakan ketika menyeberangi Riam Kanan, terutama ketika melintasi Kala'an yang telah tenggelam.
"Ingatan saya terlalu samar. Saya hanya mengingat tembok bambu dan atap kajang. Rumah saya semasa kecil," tutupnya.
Rainawati meninggalkan berlapis-lapis kenangan di belakang. Berjalan ke depan membawa harapan.
Editor : Muhammad Syarafuddin