Indonesia baru saja genap berusia 79 tahun. Kendati hampir delapan dekade merdeka, banyak dari masyarakat Indonesia yang belum merasakan kue pembangunan.
******
Abdul Aziz (45) adalah salah satu dari mereka yang belum merasakan nyamannya kehidupan dengan aliran listrik. Ayah dengan 3 anak itu merupakan warga Kampung Murung Binjai, Desa Kusambi Hulu RT 04, Kecamatan Lampihong, Balangan, Kalimantan Selatan. Wilayah tersebut berjarak sekitar 172 km dari Banjarbaru, ibu kota Kalsel.
Ada 38 KK (Kepala Keluarga) bermukim di Kampung Murung Binjai ini. Mata pencaharian masyarakat kebanyakan adalah penyadap karet, petani, serta berbagai pekerjaan serabutan lainnya. Hari-hari mereka tidak segemerlap warna-warni malam di desa-desa lain.
Secara geografis, RT 4 Desa Kusambi Hulu atau Kampung Murung Binjai ini berada di posisi yang rumit. Letaknya terpisah dari RT di Desa Kusambi Hulu lain. Berjarak kurang lebih 5 kilometer dari kantor desa, dan harus melewati Desa Jungkal, desa tetangga Kusambi Hulu.
Dalam perjalanan menuju desa ini, kita akan menyaksikan jejeran pohon karet yang menjulang tinggi di kedua sisi jalan. Perjalanan melintasi jalan menuju Kampung Murung Binjai adalah pengalaman yang mengharukan. Akses jalan sebagian memang sudah beraspal. Siapa saja melintas ke sana akan merasakan keindahan alam yang dikelilingi kebun karet serta hamparan rawa yang luas.
Namun, suasana yang seharusnya menenangkan ini dibayangi oleh kenyataan pahit bahwa di desa ini listrik masih menjadi barang langka. Rumah-rumah penduduk tampak redup, hanya diterangi lampu minyak di tengah malam. Mengingatkan kita pada masa lalu, yang seharusnya telah berlalu.
Ada tempat ibadah di sana, satu masjid yang berdiri kokoh. Lalu ada satu unit bangunan sekolah tingkat dasar untuk fasilitas belajar siswa usia SD.
Di kampung ini, tak ada bentangan tali listrik sekalipun. Apalagi tiangnya. Sebagai alat bantu memperoleh energi listrik untuk menunjang berbagai kebutuhan, sebagian warga menggunakan panel surya yang fungsinya mengubah energi matahari menjadi energi listrik.
Sudah lama warga di Murung Binjai menggunakan alat tersebut. Sebagian ada yang bantuan dari pemerintah, lalu kebanyakan di antaranya beli secara pribadi yang terpasang di bagian atap rumah. Jumlahnya pun terbatas.
Dikarenakan tak adanya aliran listrik dari tenaga pembangkit listrik secara langsung, jarang ditemui peralatan elektronik seperti televisi, kulkas, mesin cuci dan sebagainya. Sedangkan untuk smartphone, mereka mengisi daya baterai dengan memanfaatkan aki.
Kurang lebih 10 tahun lalu, sempat ada wacana masuknya listrik ke kampung ini. Seiring berjalan waktu, harapan itu belum juga terealisasi. "Kampung ini sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Namun kami masih belum bisa menikmati aliran listrik. Hingga kini, kami masih menunggu kepastian," jelas Abdul Aziz saat dibincangi Radar Banjarmasin, Senin (19/8).
Tidak hanya listrik, akses terhadap air bersih pun menjadi tantangan tersendiri. Layanan PDAM tidak pernah menjamah ke sana. Masyarakat di Murung Binjai terpaksa mengandalkan sumur-sumur dangkal yang tidak selalu menjamin kebersihan. Musim kemarau memperparah situasi, dan saat musim hujan tiba, air dari sumur berpotensi tercemar.
Kondisi ini semakin tragis, mengingat akses jaringan komunikasi yang sangat minim. Aktivitas sehari-hari masyarakat terhambat tanpa adanya sinyal telepon atau internet. Ironisnya, kampung ini berjarak hanya 13 kilometer dari pusat pemerintah kabupaten.
Di tengah kesulitan ini, Abdul Azis bertekad untuk tetap tinggal di desa yang telah menjadi tempat kelahirannya. Meskipun banyak tempat lain menjanjikan kehidupan lebih baik, ia memilih untuk tetap bertahan. "Ini kampung halaman nenek moyang. Keluarga kami telah hidup di sini selama beberapa generasi,” ujarnya.
Murung Binjai ini tempatnya mencari makan. “Kebun karet ini adalah rejeki bagi keluarga saya. Meski tanpa listrik atau akses yang memadai, saya masih bisa hidup di sini," ujarnya.
Motivasi Abdul untuk bertahan tidak semata-mata soal ekonomi. Ia merasakan keterikatan emosional yang dalam terhadap tanah airnya. Di tengah perjuangan dan kegelapan yang melingkupi desa ini, ia tetap percaya bahwa satu saat, keadaan akan berubah menjadi lebih baik.
"Saya ingin melihat anak cucu tumbuh di sini, di tempat sama yang telah memberikan banyak kenangan bagi saya," lanjutnya.
Harapan akan penerangan yang lebih baik di desa ini terhalang oleh tumpukan birokrasi dan bukti-bukti kepemilikan tanah yang rumit. Pemasangan kabel listrik terhambat oleh biaya pembebasan lahan yang cukup tinggi. Tanah di sekitar desa ini dimiliki oleh beberapa pihak, dan perundingan untuk mendapatkan izin penggunaan lahan berjalan lambat.
"Sejatinya, proposal permohonan sudah diajukan ke beberapa instansi terkait, juga ke PLN Paringin, Barabai dan Kalselteng. Namun kendalanya masih sama, yakni perihal ganti rugi pohon yang akan dilewati jalur listrik," kata ketua RT 4 Kusambi Hulu atau Kampung Murung Binjai, Zaini.
Dalam waktu dekat, Kepala Desa Kusambi Hulu juga berencana mengadakan audiensi dengan warga yang terdampak jalur listrik. Juga berkoordinasi dengan pihak desa Jungkal, karena lahan yang harus dilewati adalah lahan warga di Desa Jungkal, tetangga dari Desa Kusambi Hulu. "Sebagian warga sudah setuju. Namun masih ada yang belum,” ungkapnya.
Ia berharap warga tersebut mau mengikhlaskan pohonnya untuk dipotong. “Dipotong ya, bukan ditebang," tegas Kepala Desa Kusambi Hulu, Taufik Turrahman.
Ia mengakui, akses listrik sangat penting, terutama untuk kebutuhan ibadah dan pendidikan. "Mudahan ada jalan terbaik," pungkasnya.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Balangan, Musa Abdullah juga berencana melakukan pengecekan ke kampung tersebut. Ini berkaitan dengan tugas Dishub untuk memastikan Penerangan Jalan Umum (PJU) di desa.
"Kami akan segera melakukan pengecekan ke lokasi, dan memastikan kendalanya. Lalu berkoordinasi dengan instansi terkait agar bisa ada aliran listrik, khususnya PJU ke desa," kata Musa.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief