Putri Aisyah Septiani baru berusia empat tahun, namun ia sudah harus berjuang hidup dengan tiga penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
*******
Wajah Maisaroh (42) tampak murung. Ia meratapi nasib anaknya, Putri Aisyah Septiani yang hidup susah payah sejak dilahirkan ke dunia.
Warga Kelurahan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru ini bercerita, saat dilahirkan, Putri hanya memiliki berat badan 2,1 kilogram. "Dia pun sempat di inkubator," ucap Maisaroh saat dikunjungi Radar Banjarmasin, Selasa (20/8).
Perjuangan Putri tak hanya sampai di situ, anak kelahiran September 2020 itupun harus berjuang dengan sekuat tenaga, sebab berat badannya turun drastis hingga 1,7 kilogram. "Hitungan pekan kepalanya turut membesar dengan kondisi badan yang kecil, saya bawa ke rumah sakit, dokter menyatakan Putri mengidap hidrocepalus," tutur Maisaroh yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang makanan.
Mendengar sang anak divonis penyakit tersebut, tangis Maisaroh tak terbendung. Bahkan ia mengaku harus bertengkar hebat dengan sang suami karena dirinya tak rela, anak sekecil Putri sudah harus menahan sakit.
Maisaroh mati-matian berusaha mencarikan pengobatan herbal untuk sang anak. Namun nahas, saat Putri memasuki usia 6 bulan, di bagian lehernya juga terdapat benjolan yang semakin lama terus membesar. "Kami cek up ke dokter, ternyata itu tumor,"jelasnya.
Perjuangan Putri untuk sehat terus berlanjut, di usianya yang hampir satu tahun, ia harus dikemoterapi karena tumor di lehernya. "Setelah kemo sekali, terus diambil sampel di tulang rusuknya, ternyata Putri juga diketahui mengalami kanker darah sekitar 35 persen. Hampir satu bulan itu kami di rumah sakit enggak bisa ngapa-ngapain," ucapnya.
Seiring berjalan waktu, Putri masih terus menjalani kemo. "Tuhan pun memberikan keajaiban untuk Putri, kondisinya terus membaik," ujar Maisaroh.
Kini Putri mulai mengikuti sekolah PAUD, meski belum bisa berjalan sepenuhnya. "Ini perjuangan yang luar biasa, saya meyakini anak saya bisa sehat sedia kala," harapnya.
Namun Putri masih harus rawat jalan, dan rutin kemoterapi. "Sebulan harus kemo dua kali," ujar Maisaroh.
Suaminya yang sehari-hari hanya bekerja sebagai pedagang pentol, tidak bisa menutupi biaya pengobatan Putri. "Tapi Alhamdulillah, Tuhan mengirimkan orang-orang baik yang selalu membantu kami," pungkasnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief