Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Hamida Tinggal di Atas Rawa, Kehadiran Program JKN Membantu Keluarganya Saat Sakit

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Selasa, 23 Juli 2024 | 09:21 WIB
TERBANTU: Hamida (39) warga Desa Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Utara, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan terbantu kehadiran JKN.
TERBANTU: Hamida (39) warga Desa Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Utara, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan terbantu kehadiran JKN.

Hamida seorang ibu rumah tangga berusia 39 tahun. Ia merupakan warga Dusun Awang Landas, Desa Sungai Buluh, Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel).

Awang Landas merupakan daerah terpencil di ujung utara HST. Jaraknya 26 kilometer dari pusat kota. Rumah-rumah warga berdiri di atas rawa. Akses ke sini hanya bisa ditempuh menggunakan kelotok (perahu bermesin).

Pekerjaan utama warga di sini adalah mencari ikan (nelayan tradisional). Lalu ada yang menggembala kerbau rawa sebagai sampingan.

Biasanya setelah salat asar warga berangkat mencari ikan. Ada yang menggunakan alat setrum ada juga yang menggunakan jaring atau renggek.

Perlu waktu dua jam untuk memasang renggek. Biasanya warga di sini berangkat pukul 17.00 Wita. Lalu pukul 19.00 Wita mereka baru kembali ke rumah. Renggek tersebut akan dicek kembali sekitar pukul 04.00 subuh.

"Lebih nyaman mencari ikan malam hari. Karena ikan langsung dibawa ke pasar saat subuh jadi kondisinya masih segar," katanya, Kamis (23/7/2024).

Warga di sini sangat sederhana. Hasil tangkapan ikan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Paling banyak dalam sehari mereka mendapat Rp180 ribu dari hasil jual ikan, itu belum dipotong biaya operasional sekitar Rp50 ribu untuk membeli bahan bakar minyak (BBM).

Biaya operasional yang dikeluarkan tergantung jarak tempuh dan jam keberangkatan ke spot ikan. Semakin cepat mereka berangkat, semakin banyak biaya yang dikeluarkan untuk membeli minyak.

"Karena hasil tangkapan ikan tak pasti. Kalau dapat banyak bisa menutupi operasional. Tapi kalau tidak, malah rugi," ceritanya.

"Tapi tidak setiap hari segitu. Ada yang Rp100 ribu ada Rp 70 ribu. Ikan yang dijual jenis Nila saja. Harganya Rp25 ribu per kilogram," bebernya.

Apes ketika musim hujan tiba. Dipastikan mereka tidak bisa mencari ikan. Selain susah dicari alasan lain demi keselamatan.

Selain di jual ke pasar. Ikan hasil tangkapan juga diolah sebagai ikan kering. Dijual Rp32 ribu per kilogramnya.

"Kami kalau siang istirahat, suami saya malamnya pergi mencari ikan. Jadi aktivitas itu lebih sering di malam hari" ceritanya.

Hamida sudah 20 tahun tinggal di Awang Landas. Dulu dia tinggal di wilayah daratan di Desa Hambuku Lima, Hulu Sungai Utara (HSU) Kalsel.

Dia pindah ke Awang Landas setelah menikah dengan suaminya, Basri. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai 3 orang anak.

Sehari-hari Hamida bekerja sebagai penjual minuman dan makanan ringan di sekolah. Setiap hari dia harus mendayung perahu menuju sekolah tersebut.

"Sambil bantu keluarga mencari tambahan penghasilan," ujarnya.

Di wilayah rawa udaranya panas. Maklum, di sini tidak ada pepohonan. Hanya tumbuhan liar yang tumbuh subur. Apalagi saat malam hari, nyamuk-nyamuk rawa sangat mengkawatirkan.

Tak hanya menjadi pengganggu, nyamuk tersebut juga membawa penyakit. Beberapa warga di sini pernah ada yang terjangkit penyakit demam.

Perjuangan untuk berobat dari Awang Landas tak bisa diremehkan. Ketiak ingin berobat, warga Awang Landas harus keluar dusun.

Sebab di sini tidak ada fasilitas kesehatan. Jangan Puskesmas, dokter saja tidak ada. Mereka harus pergi ke darat untuk mendapatkan pertolongan dengan menggunakan kelotok.

Dengan kehidupan serba keterbatasan, memaksa mereka harus kuat dengan keadaan. Beruntung kesehatan warga di sini sudah dijamin oleh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Hamida dan keluarga sudah memiliki kartu BPJS Kesehatan. Mereka terdata dalam program Universal Health Coverge (UHC) pemerintah kabupaten setempat.

"Sudah enam tahun terdaftar. Alhamdulillah banyak sekali manfaatnya. Berobat nyaman cek kesehatan juga nyaman," ceritanya.

Mengingat kondisi perekonomian di Awang Landas yang berada di bawah. Hamida bersyukur tak perlu mengeluarkan biaya saat berobat. Karena program JKN memberikan perlindungan kesehatan bagi semua orang.

"Kami sekeluarga merasa bersyukur. Tak perlu bayar iuran juga karena tidak mampu. Alhamdulillah ada program UHC," bebernya.

Pengalamannya saat menggunakan BPJS Kesehatan kala itu saat sang suami sakit. Badannya demam dan susah untuk makan. Keluarga memutuskan untuk membawa ke rumah sakit (RS) dibantu oleh aparat desa setempat.

CEK KESEHATAN: Pengecekan kesehatan secara gratis yang dilakukan tenaga kesehatan setempat.
CEK KESEHATAN: Pengecekan kesehatan secara gratis yang dilakukan tenaga kesehatan setempat.

"Kami dapat pelayanan yang nyaman. Tidak dibedakan. Alhamdulillah suami saya bisa sehat kembali," ceritanya.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, dia harus bisa mengatur keuangan keluarga. Karena kesehatan keluarga sudah terjamin, setidaknya Hamida bisa berhemat.

"Uang untuk berobat bisa digunakan untuk biaya pendidikan anak," jelasnya.

Meski berada digaris keterbatasan, namun keluarga ini tetap menjunjung tinggi pendidikan.

Anak pertama pasangan Basri dan Hamida Namanya Eka Bella, saat ini kuliah di STIA Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) jurusan Administrasi.

Eka (sapaan akrabnya) adalah satu-satunya warga Awang Landas yang melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah.

"Sekarang sudah semester dua," kata Hamida.

Dia rela pergi-pulang (PP) melewati jalur air dan darat demi menempuh pendidikan. Ini dilakukan sejak Eka duduk dibangku MTs dan MA.

Beruntungnya, orang tuanya sangat mendukung, meski kehidupan mereka sederhana.

Terpisah, Bupati Hulu Sungai Tengah, H Aulia Oktafiandi menyatakan pemerintah berkomitmen untuk memberikan jaminan kesehatan kepada warganya. Salah satu cara yakni dengan mendaftarkan mereka ikut program UHC.

“Sebanyak 263.623 jiwa warga HST masuk peserta JKN. Artinya 95,25 persen penduduk di HST dijamin kesehatannya oleh pemerintah kabupaten,” jelasnya.

Bupati Aulia menyebut, asas manfaat menjadi alasan utama pemerintah memberikan jaminan kesehatan.

“Mari kita wujudkan penyelenggaraan jaminan kesehatan yang berkualitas di HST,” tutupnya.

Editor : Muhammad Helmi
#kesehatan #Desa Sungai Buluh #Feature Inspirasi #jaminan kesehatan nasional (jkn) #HST