Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tradisi Meminyaki Kepala Anak Yatim di Hulu Sungai Utara, Supaya Dikabulkan Hajatnya

M Akbar • Rabu, 17 Juli 2024 | 10:54 WIB
HARU: Dermawan dari berbagai lokasi di Kabupaten HSU mengikuti tradisi meminyaki kepala anak yatim di Ponpes Nurul Fajeri Kabupaten HSU, Selasa (16/7). (Foto: M.Akbar/Radar Banjarmasin)
HARU: Dermawan dari berbagai lokasi di Kabupaten HSU mengikuti tradisi meminyaki kepala anak yatim di Ponpes Nurul Fajeri Kabupaten HSU, Selasa (16/7). (Foto: M.Akbar/Radar Banjarmasin)

Meminyaki rambut anak yatim sudah menjadi tradisi puluhan tahun di Desa Jingah Bujur, Kecamatan Haur Gading, Hulu Sungai Utara. Selalu digelar setiap 10 Muharram.

            ********
Terlihat puluhan anak yatim duduk manis di kursi yang disediakan panitia pada Selasa (16/7), atau bertepatan dengan 10 Muharram 1446 Hijriah. Satu persatu warga berdatangan untuk menyerahkan sumbangan ke panitia. Ada pegawai, pengusaha, maupun warga yang secara ekonomi lebih baik.

Tak lama kemudian, para dermawan itu dipersilakan berkeliling. Mengusap satu persatu kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang.

Lokasinya di Ponpes Nurul Fajeri. Jarak lokasi ini sekitar 12 kilometer dari Kota Amuntai.

Panitia Hari Asyura dari MTs Nurul Fajeri, H Napi’i menyampaikan bagi masyarakat di Kecamatan Haur Gading, 10 Muharram selalu punya keutamaan. Pada Hari Asyura ini, selain warga berpuasa sunah, juga digelar tradisi Islami yaitu meminyaki kepala anak yatim.

“Bagi masyarakat yang mempunyai harta lebih atau dermawan banyak datang ke ponpes ini, sembari melaksanakan tradisi meminyaki anak yatim sambil bersedekah,” ujarnya.

Setiap tahun kegiatan dipusatkan di halaman ponpes ini. “Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1952. Anak yatim maupun piatu berkumpul di ponpes ini untuk menerima santunan dermawan,” jelasnya.

Tradisi ini punya cara tersendiri yang sudah turun temurun. Tangan penderma yang telah diberi minyak tidak asal diusapkan ke kepala anak yatim. Bagi anak laki-laki dari belakang hingga ubun-ubun. Sedangkan anak perempuan dari ubun-ubun hingga ke belakang kepala.

“Mudah mudahan lewat tradisi ini semakin banyak dermawan yang mau berbagi dengan anak yatim di daerah ini,” harapnya.

Napi’i mengutip salah satu hadis Rasulullah. “Barangsiapa yang menyapu kepala anak yatim, memberikan kasih sayang dan memberi makanan maka Allah akan mengabulkan hajatnya,” sampainya.

Menurutnya, bulan Muharam juga memiliki banyak keutamaan. Salah satunya sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharam. Sedang salat paling afdal sesudah salat fardu adalah salat malam (HR Muslim),” kutipnya. Puasa pada bulan Muharam sangat dianjurkan pada hari kesepuluh.

Warga Amuntai, Yusuf ikut meminyaki anak yatim di Ponpes Nurul Fajeri. Ia mengaku, hampir tiap tahun mengikuti kegiatan ini.

“Salah satu cara terbaik peduli dan memaknai kesyukuran hidup yakni berbagi dengan anak yatim, di samping juga kegiatan sosial lainnya,” tegasnya.

Untuk diketahui, kegiatan menyantuni anak yatim juga berlangsung di Kantor Kemenag HSU. Ada 2.300 anak yatim mendapatkan santunan dari para dermawan di lingkungan Kantor Kemenag HSU.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Budaya #yatim #berbagi #Hulu Sungai Utara #tradisi #asyura