Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) 2024 berakhir pada Sabtu (13/7) malam. Ditutup dengan harapan. Semoga ke depan jurnalis Kalsel bisa menjawab tantangan zaman.
*******
SISWA siswi SJI meriung di aula Hotel TreePark Banjarmasin, termasuk penulis, semuanya mengenakan kaus hijau--bukan kaus partai, ini kaus sekolah.
Malam itu kami deg-degan menanti kelulusan. Namanya sekolah, ada yang lulus dan ada yang tidak.
SJI digelar tiga hari sejak 10 Juli. Digagas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi RI.
Tuan rumah tentu PWI Kalsel yang dipimpin Zainal Helmie itu.
Siswa siswi berdatangan dari media cetak, online, radio, dan televisi. Jumlahnya 30 orang.
Kepala sekolah kami, Toto Fachruddin menjelaskan, sebenarnya ada banyak jurnalis yang ingin mengikuti SJI. Namun, agar pembelajaran bisa fokus, maka seleksi ketat diberlakukan.
"Minimal bekerja selama dua tahun sebagai jurnalis. Atau memiliki kompetensi sebagai wartawan Muda," ujarnya.
"Jadi Anda yang ada di kelas ini adalah mereka yang terpilih," tekannya.
Narasumbernya para jurnalis senior Indonesia, motivator, dan akademisi.
Misalnya Agus Sudibyo. Penulis buku berjudul Jagat Digital: Pembebasan dan Penguasaan (2019).
Buku yang dipuji Kementerian Komunikasi dan Informatika karena memberikan perspektif luas tentang digitalisasi.
Di balik kurikulum yang kaya dan berat, ada tema besar yang digaungkan: insan pers harus berintegritas dan kritis. Dan, harus mampu beradaptasi di tengah disrupsi.
Wartawan dituntut multitasking. Tidak hanya piawai menulis, tapi juga bisa memotret dan mengolah video. Kalau perlu, jadi host podcast pun bisa.
Makanya, materi ajarnya nggak kaleng-kaleng. Bikin pusing. Meskipun tak sampai tujuh keliling.
Di akhir acara, syukurlah, 29 siswa dinyatakan lulus.
Seorang siswa yang tidak lulus lantaran jatuh sakit. Sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan sampai selesai.
Malam itu juga diumumkan lima siswa siswi dengan nilai tertinggi.
Penilaian mencakup keaktifan siswa bertanya, dan bobot pertanyaannya juga mesti berkelas.
Dalam praktik jurnalisme, bobot pertanyaan ini sangat diperlukan ketika bertemu narasumber.
Rini Dwi Masmuda, wartawati Radio Abdi Persada menjadi siswi dengan nilai tertinggi.
Salah satu siswi SJI, Eva Rizkiyana mengatakan SJI menjadi pengingat diri.
"Kita pengin jadi wartawan seperti apa sih sebenarnya?" ujarnya. "Sekadar membuat berita atau turut mencerdaskan bangsa?" sambungnya.
"Karena jujur, selama beberapa tahun menjadi wartawan, semangat itu justru menurun dikarenakan rutinitas," tambah Eva.
Maka menurutnya SJI menyegarkan kembali alasan mengapa dia ingin menjadi wartawan.
Ketua PWI Pusat, Hendry Ch Bangun mengaku terharu melihat SJI di Kalsel. Ia merasakan perbedaan dengan SJI yang digelar di provinsi lain.
"SJI di Kalsel lebih hidup," ujarnya. Sebagai apresiasi, Hendry berjanji tahun depan SJI bakal kembali digelar di Kalsel.
Sisi lain, ia menekankan nasib media ke depan berada di tangan para jurnalis.
"Maka penting agar jurnalis terus meningkatkan kompetensinya. Sehingga bisa survive," tekannya.
Ia menegaskan media bakal mati apabila tidak beradaptasi.
Terpisah, Ketua PWI Kalsel, Zainal Helmie mengatakan akan memperbanyak pelatihan wartawan.
"Dan tempatnya tidak hanya berpusat di Banjarmasin. Nanti kami upayakan sampai ke daerah-daerah lainnya di Kalsel," ujarnya.
Misalnya di Banua Anam atau di Hulu Sungai. "Jurnalis di sana juga sangat memerlukan perhatian," ujarnya sembari meminta untuk menjaga muruah profesi wartawan.
Untuk diketahui, SJI angkatan pertama berlangsung pada tahun 2011 lalu di Banjarmasin. Kini, sudah memasuki angkatan keempat.
Sejarahnya, SJI dibentuk pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2010 di Palembang.
Direktur SJI, Ahmed Kurnia Soeriawidjaja menjelaskan alasan dibentuknya SJI. Ia mengatakan, ada banyak jurnalis yang belum tersentuh pendidikan dan pelatihan jurnalistik yang memadai.
SJI juga dirancang untuk mempersiapkan jurnalis dalam menjawab tantangan zaman. Beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi yang dramatis.
Program SJI merujuk silabus UNESCO. Dikembangkan dengan hasil studi banding ke beberapa universitas di luar negeri serta disesuaikan dengan perkembangan jurnalisme terkini.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief