Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ketika Amis Ikan dan Harum Bumbu Beradu: Andaikan Banjar Raya Bisa Disulap Begini, Kapan Banjarmasin Punya ini?

Wahyu Ramadhan • Sabtu, 6 Juli 2024 | 10:24 WIB
MENGGUGAH SELERA: Ilyas dan Yadimembakar ikan di foodcourt Pasar Ikan Modern (PIM) di Jalan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.
MENGGUGAH SELERA: Ilyas dan Yadimembakar ikan di foodcourt Pasar Ikan Modern (PIM) di Jalan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.

Pasar yang satu ini tidak hanya menjadi salah satu pasar ikan terbesar di Jakarta. Namun juga surganya pencinta kuliner ikan segar. Kapan Banjarmasin punya tempat seperti ini?

    ******
Sejak siang hingga Kamis (4/7) malam itu, hujan mengguyur sebagian wilayah Jakarta.

Tapi, sayang rasanya bila cuaca dijadikan alasan untuk menolak ajakan makan-makan di kawasan pasar ikan di Jakarta Utara.

Pasar ikan jadi tempat makan-makan? Ya, Anda tidak salah membaca. Dan ini pula yang membuat penulis penasaran.

Ini bukan pasar ikan biasa. Ini Pasar Ikan Modern (PIM). Terletak di Jalan Muara Baru, Penjaringan.

Dari hotel tempat saya menginap di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat ke kawasan PIM Muara Baru itu berjarak sekitar 17,4 kilometer.

Tapi, Anda tentu mafhum. Menempuh perjalanan dari satu tempat ke tempat lain bisa memakan waktu lama. Macetnya jalanan Jakarta adalah keniscayaan.

Misalnya pada malam itu, dengan menumpang bus, perjalanan kami menghabiskan waktu lebih dari sejam.

Gerimis masih mengguyur ketika kami tiba. Turun dari bus, hawa dingin menyergap.

Entah bagaimana nasib rekan sekamar, M Fudhail yang nekat keluar mengenakan celana pendek. Saya lirik, ia tampak menggigil.

Malam itu kawasan PIM tampak ramai. Hlir mudik kendaraan bermotor dan aktivitas bongkar muat ikan seakan tiada henti.

Pun dengan tempat parkir yang tersedia. Kosong sebentar, sudah langsung terisi.
Tak jauh dari lokasi parkir, sebuah bangunan beton berdiri kokoh.

Lantai dasar bangunan itu difungsikan sebagai pasar atau tempat pelelangan ikan. Di sinilah ikan-ikan yang diangkut kemudian diletakkan dan dijual.

Ikan yang dijual di pasar ini berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Tak heran, bila ragam ikan laut dan ikan tawar berbagai ukuran ada di sini.

Namanya pasar ikan, bau amis tentu menyeruak. Tapi, jangan dibayangkan pasar ikan yang becek dan kotor. Lantai pasar ini justru bersih.

Di mana tempat makan-makannya? Ada di rooftop.

Saat menapaki anak tangga, bau amis kembali tercium. Tapi, ada yang sedikit berbeda. Aroma harum dari bumbu masakan.

Rooftop rupanya disulap sedemikian rupa menjadi food court. Kondisinya tak kalah ramai. Ada banyak warung yang buka di situ. Menu makanan dicetak besar dengan spanduk.

Menunya macam-macam. Ada kerang, kepiting, cumi, udang dan ragam ikan. Dimasak dengan berbagai cita rasa dan berbagai cara.

Mau yang dibakar, digoreng, dipepes juga bisa. Butuh sayur pelengkap serta ragam minuman? Tentu ada. Tak heran bila tiap meja makan itu penuh.

Dari bangku warung dan meja yang ditata khas kaki lima, Anda bisa melihat langsung bagaimana karyawan warung memasak ikan. Sungguh, amis ikan dan aroma harum bumbu beradu di situ.

Seperti pada malam itu, sembari menunggu makanan yang disajikan, saya berbincang dengan Yadi yang tampak asyik membakar beberapa ekor ikan ayam-ayam. Disebut demikian, karena rasanya konon seperti daging ayam.

SABAR MENANTI: Pengunjung Pasar Ikan Modern (PIM) menanti pesanannya selesai dibakar.
SABAR MENANTI: Pengunjung Pasar Ikan Modern (PIM) menanti pesanannya selesai dibakar.

Yadi menuturkan, PIM Muara Baru diresmikan sekitar enam tahun yang lalu. Tepatnya pada 2019.

Sebelumnya, kawasan ini hanyalah pasar dan pelelangan ikan biasa. Lokasinya di seberang bangunan yang kami kunjungi.

Seiring waktu, pemerintah mengubahnya menjadi pasar ikan yang berdaya nilai jual lebih dengan menyediakan foodcourt.

Di PIM Muara Baru, foodcourt beroperasi setiap hari. Sedari pukul 12.00 sampai 24.00 WIB.

"Tapi kalau di atas jam itu masih ada pengunjung, tak apa-apa. Masih kami layani," ujar karyawan Warung Joeragan Seafood itu.

Ia menuturkan, foodcourt tak pernah sepi pengunjung. Paling ramai di akhir pekan alias weekend. Kalau sudah begitu, seluruh karyawan warung pun disiagakan.

"Bila hari biasa, hanya ada sepuluh pegawai di warung ini. Kalau weekend, seluruh karyawan turun. Jumlahnya 16 orang," ucapnya.

Foodcourt di PIM Muara Baru mengusung konsep yang menarik. Warung-warung hanya menyediakan nasi, minuman dan sayur. Tidak menyediakan ikan.

"Ikan yang dimasak dibeli sendiri oleh pengunjung di lantai bawah kemudian dibawa ke sini untuk dimasak," ujarnya.

"Jadi di sini mereka hanya membayar nasi, sayur, minuman dan upah memasak ikan," jelasnya.

Dengan begitu pengunjung menurutnya tidak hanya bisa memilih sendiri ukuran atau jenis ikan yang hendak dikonsumsinya. Tapi, juga menawar harga ikannya.

"Uniknya di sini seperti itu. Jadi selain pengunjung bisa merasakan kesegaran ikan, mereka juga bisa mendapatkan ikan yang disantap dengan harga murah," timpal karyawan lainnya, Ilyas.

Ya, apa yang diutarakan Ilyas memang bukan isapan jempol belaka. Itu dibuktikan sendiri oleh Sekdako Banjarmasin, Ikhsan Budiman yang mentraktir makan malam itu.

Ikhsan menuturkan, bila ada waktu luang di sela perjalanan dinasnya, ketika ia kangen dengan masakan ikan, kawasan ini menjadi tempat favoritnya.

"Pertama karena harganya yang murah. Contoh, ikan napoleon itu kan mahal sekali di luaran. Di sini, bisa saja didapat dengan harga murah," tuturnya.

"Dan memasaknya pun bisa sesuai keinginan atau selera kita. Mau bakar kecap dan lain-lain bisa," tekannya.

Bagaimana bila ada pengunjung yang hendak datang tapi langsung menyantap masakannya saja, alias tanpa harus repot-repot membeli ikan di lantai dasar?

"Tenang, kami bisa menyediakan. Tapi, harus telepon atau pesan dulu ke kami. Mau ikan apa, ukurannya seperti apa dan dimasak apa," ujar Miranti. Dia juga karyawati di Warung Joeragan Seafood.

Malam itu, menu lauk makan kami pun tiba di meja. Ada kerang hijau saus asam manis, beberapa ekor ikan ayam-ayam serta udang bakar.

Sebagai sayur pelengkap, kami memesan tumis kangkung dan teh manis. Bagaimana rasanya? Sulit diungkapkan. Sepiring nasi saja tentu tak cukup.

Kelar makan, saya kembali berbincang dengan Yadi. Saya penasaran, apakah tempat yang saya kunjungi pernah merasakan sepi dari para pengunjung.

Karena siapa tahu, foodcourt yang dibangun hanya ramai di waktu-waktu tertentu alias musiman.

"Seingat saya, tidak pernah sepi. Kecuali ketika pandemi covid tadi," ujarnya.

"Gimana mau tidak sepi, baru juga mau memasak, sudah didatangi satgas covid," ujarnya terkekeh.

"Pada hari-hari biasa di sini hampir dipastikan tidak pernah libur. Liburnya itu terserah kami.”

Malam itu saya melihat bagaimana mengasyikkannya sebuah pasar ikan yang dikemas sedemikian rupa. Menjadi sebuah kawasan yang sangat layak dikunjungi para pelancong atau wisatawan.

Sebuah tempat yang juga mengingatkan saya dengan pasar ikan di Banjarmasin. Yakni Banjar Raya di Jalan RK Ilir yang tak jauh dari Balai Kota.

Sebenarnya, Banjar Raya bisa saja disulap seperti PIM Muara Baru. Mengundang banyak pelancong atau pecinta kuliner. Tentu asal ada kemauan dan kesungguhan. 

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#feature #banjarmasin #perjalanan #ikan #Pelabuhan #Kuliner