Tanah Bumbu tak hanya tentang debu dan batu bara. Desa Batulicin Irigasi menunjukkan desa dapat berkembang dengan segala keterbatasannya. Kalsel perlu Desa Batulicin Irigasi lainnya di masa depan.
********
Saat berkunjung ke Desa Batulicin Irigasi, pelancong akan dipakaikan caping. Topi berbentuk kerucut dari anyaman bambu itu berguna melindungi pelancong dari terik matahari.
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Agro Technopark setempat memang mendesain desa ini untuk memberi kenyamanan bagi pengunjung.
Desa Batulicin Irigasi berada di Kecamatan Karang Bintang. Sekitar 20 menit perjalanan dari ibu kota Kabupaten Tanah Bumbu. Ada beberapa spot yang bisa dikunjungi. Seperti sentra hidroponik sayur.
Di tempat yang sama, ada banyak tanaman hias dari berbagai jenis. Pengunjung bisa membeli sayur dan tanaman hias langsung di spot ini.
Tapi perkebunan anggur masih jadi spot favorit. Spot ini Instagramable. Cocok untuk berswafoto para pelancong. Kebun anggur juga masih langka di Tanah Bumbu. Iklim tropis panas di wilayah pesisir memang menuntut perawatannya lebih rumit.
Desa Batulicin Irigasi terpilih sebagai finalis 50 besar Anugerah Desa Wisata (ADWI) 2024 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
ADWI merupakan program unggulan Kemenparekraf yang memberikan penghargaan kepada penggerak pariwisata pembangunan desa. Program ini mendorong transformasi sosial, budaya, dan ekonomi desa.
Dari 6.000 peserta, Desa Batulicin Irigasi menonjol dengan tema Agro Technopark. Lantas berhasil mewakili Kalsel. Agro technopark memadukan pertanian dengan wisata dan teknologi.
“Bisa masuk 50 besar di antara desa-desa wisata lain sungguh menjadi kebanggaan sekaligus tantangan,” ujar Kepala Desa Batulicin Irigasi, Supriyadi, Selasa (2/7).
Tak seperti desa wisata yang memiliki sumber daya, Desa Batulicin Irigasi memanfaatkan potensi tanah untuk wisata agro. Desa ini memberdayakan pekarangan masyarakat untuk menciptakan ekonomi berkelanjutan.
Fasilitasnya meliputi taman edukasi, rumah singgah, sarana olahraga, kolam pemancingan, dan berbagai kebun buah seperti anggur, jambu kristal, jambu air, durian, dan alpukat.
Penilaian dalam ajang ADWI 2024 meliputi lima kategori: daya tarik wisata, amenitas, digitalisasi desa, kelembagaan dan SDM, serta resiliensi atau pengelolaan desa yang berkelanjutan.
“Sekitar bulan September, tim akan datang untuk menilai. Kami sedang siapkan berbagai hal,” ujar Supriyadi.
Ia juga telah menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk mendukung desanya. Sebab, kebutuhan sumber daya dan anggaran pengembangan desa terbilang cukup besar.
“Beberapa sarana pendukung kami tingkatkan, sehingga mampu memenuhi kriteria penilaian,” tambahnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief