Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kisah Ditemukannya Candi Agung Amuntai, Tanah Keramat Berisi Ini

M Akbar • Senin, 24 Juni 2024 | 08:27 WIB

 

Candi Agung Amuntai
Candi Agung Amuntai

Perjalanan Empu Jatmika terhenti di sebuah dataran yang tanahnya harum. Di sinilah, cikal bakal Kerajaan Nagara Dipa itu berdiri. Kini menyisakan bangunan yang dinamakan Candi Agung Amuntai.

    ****
Tanah itu dikelilingi tiga aliran sungai. Sungai Tabalong, Sungai Balangan dan Sungai Negara mengelilingi. Ketiganya bermuara Sungai Barito.

Penjaga Situs Candi Agung Arbaina, mengatakan Empu Jatmika merupakan saudagar kaya. Menyadur sejumlah catatan, Jatmika berasal dari Keling. Sebuah negara bawahan Majapahit di barat daya Kediri.

Jatmika merupakan anak seorang saudagar sekaligus tumenggung bernama Mangkubumi atau disebut Saudagar Jantam. "Jatmika diutus sang ayah melakukan perjalanan untuk mencari negeri yang berbau wangi," ujarnya, Kamis (20/6). Baca Juga: Mengunjungi Museum Candi Agung Amuntai, Ternyata Masih Menyimpan Koleksi Ini

Setelah berlayar lama, akhirnya Empu Jatmika menemukan apa yang diisyaratkan. Perkampungan dibuka, dan berkembang pesat dan berkembang menjadi sebuah kerajaan. Diperkirakan berdiri pada tahun 1.438 M.

Pusat pemerintahan berada di tempat yang kini disebut masyarakat Hulu Sungai Utara (HSU) dengan nama Kelurahan Sungai Malang.

Setelah kerajaan itu runtuh, kawasan menjelma bukit kecil yang rimbun dengan pepohonan dan vegetasi liar. Dari kerajaan tersebut, kelak melahirkan Kerajaan Daha, di Hulu Sungai Selatan dan di Banjarmasin. Baca Juga: Tahulah Pian, Tradisi Mangilan Lidi di Candi Agung Amuntai Hulu Sungai Utara

Sepeninggal Kerajaan Negara Dipa, kawasan itu menjadi kawasan dikeramatkan. Gunungan Candi, demikian masyarakat menamainya.

Tingginya 20 meter. Dipenuhi semak belukar, juga pepohonan. Luasannya saat itu belum bisa diperkirakan.

Namun ketika sudah berada di puncak, kita bisa melihat kawasan yang saat ini menjadi Pasar Amuntai, di Kelurahan Antasari. Jaraknya sekitar lima kilometer dari gunungan candi.

Puncak gunungan menjadi tempat sebagian warga melakukan ritual pertapaan atau berdoa. Masyarakat yang bermukim di sekitar gunungan candi, Kelurahan Sungai Malang dan Paliwara, kerap mendengar suara dari bukit tersebut. Termasuk bunyi gamelan. Baca Juga: Candi Agung Amuntai Destinasi Favorit Wisatawan Jelang Iduladha

"Sejak dahulu sampai saat ini, kawasan ini memang dikeramatkan," tutur anak almarhum seorang Juru Kunci Candi Agung Amuntai, Firli.

Itu karena sebagian masyarakat sudah tahu, bahwa dahulu di situ pernah menjadi pusat kerajaan dan terdapat sebuah candi. Sekarang disebut sebagai Candi Agung Amuntai. Peninggalan kerajaan ditemukan warga sekitar tahun 1962. Saat perluasan wilayah Kota Amuntai.

Pemerhati sejarah setempat, Ahdiat Gazali Rahman mengatakan dahulu kawasan candi yang masih berupa hutan dan bukit kecil dikenal sebagai hutan keramat. Kerap dijadikan lokasi bertapa atau sembahyang oleh penganut kepercayaan zaman dulu.

"Sampai akhirnya, candi ditemukan secara tidak sengaja. Saat itu, Kota Amuntai sedang diperluas. Ada pembukaan kawasan permukiman baru," tuturnya, Kamis (20/6).

Antemas dalam buku 'Kampung Halamanku' yang diterbitkan pada tahun 2010, menuliskan tentang lokasi candi di Kelurahan Sungai Malang. Kata ‘Malang’ di situ, berarti Bahalang atau (melintang, red). Malang diambil dari nama sungai yang melintang di jalanan. Kini sungai itu telah kering dan mati, hanya tinggal nama. Baca Juga: Tahulah Pian, Tokoh Proklamator Bung Hatta Pernah Duluan Datang ke Candi Agung Amuntai

Kawasan Sungai Malang juga mempunyai catatan sejarah. Misalnya pada era Lambung Mangkurat, kawasan ini masuk dalam wilayah kekeratonan.

Kemudian pada zaman penjajahan Belanda, kawasan ini menjadi lokasi persembunyian gerilyawan. Lantaran masih berupa hutan.

Di Sungai Malang inilah, perlawanan para pejuang yang dipimpin seorang tokoh kharismatik Datuk Haji Abdullah (pada tanggal 15 September 1860), menyerang tiga pleton serdadu Belanda.

Datuk Abdullah gugur bersama 23 syuhada lainnya. Makam para syuhada ini juga masih berada di Kelurahan Sungai Malang, di dekat Candi Agung.

Photo
Photo

Kepala Bidang Kebudayaan HSU, Rahmawati mengatakan berdasarkan catatan dari Direktorat Kebudayaan di Kemendikbud RI, candi ditemukan pada tahun 1962.

Di situ juga dikatakan, bahwa penemuan candi ditemukan secara tidak disengaja. Saat upaya perluasan Kota Amuntai. Ketika pekerja melakukan perataan tanah pada lokasi yang berbukit, pekerja menemukan banyak batu bata dan serpihan genteng terbuat dari tanah liat. "Saat hutan dibabat dan meratakan tanah bukit itu, juga ditemukan artefak berupa sepasang kaki," ujarnya.

"Oleh penduduk, disebut 'Sepatu Raksasa'. Ada juga berupa lempengan batu alam yang membentuk teratai," ujar warga asli Kelurahan Sungai Malang tersebut. Benda-benda temuan itu, kini diketahui berada di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Baca Juga: Mengunjungi Museum Candi Agung Amuntai, Ternyata Masih Menyimpan Koleksi Ini

Tak hanya itu, pekerja juga menemukan sejumlah potongan kayu ulin (kayu besi, red) yang diperkirakan merupakan bekas tiang pembangunan candi saat itu. Penemuan sisa-sisa candi itu pula yang membawa Wakil Presiden RI saat itu, Moh Hatta, yang saat itu melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Kalsel melihat langsung lokasi, berikut benda temuan.

Selanjutnya di tahun 1967, atau dua tahun seusai kunjungan, penelitian pun dilakukan. "Melibatkan Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional dan Pemprov Kalsel," terangnya.

Pada ekskavasi tim peneliti menemukan struktur tembok atau pondasi bangunan berukuran 7×7 meter. Peneliti juga kembali menemukan artefak berupa kepala Kala.

Ada pula lapik berhias padma dalam bentuk utuh, hiasan bangunan, manik-manik dari berbahan tanah liat bakar, hingga pecahan tembikar serta keramik.

Arkeolog saat itu juga menemukan lima periuk. Di antaranya berisi sisa abu, tulang, manik-manik, dan tanah. Disinyalir merupakan sisa hasil kremasi zaman kerajaan.

"Saat itu kerajaan Negara Dipa merupakan kerajaan Hindu. Jadi tidak heran bila ritual kremasi jenazah masih berlangsung," jelasnya.

Rahmawati menambahkan keistimewaan Candi Agung dibandingkan candi lainnya di Indonesia, karena candi itu berdiri di atas tanah rawa yang diuruk atau ditimbun. Sebelum pengurukan, kayu ulin dipancang sebagai pondasi.

“Tradisi membangun di daerah rawa ini sudah dilaksanakan pada pembangunan candi. Sampai saat ini, metode itu masih digunakan untuk mendirikan bangunan di daerah HSU," jelasnya. Baca Juga: Tahulah Pian, Tradisi Mangilan Lidi di Candi Agung Amuntai Hulu Sungai Utara

Rachmawati menjelaskan penelitian terakhir dilakukan oleh Balai Arkeologi Banjarmasin pada tahun 1997. "Penelitian saat itu melakukan analisis radiokarbon C-14 yang tertancap di halaman kerikil candi," ucapnya.

"Dari hasil analisis pada kayu ulin diketahui bahwa kemungkinan pembangunan Candi Agung Amuntai lebih tua dari cerita yang beredar," ungkapnya.(mar/yn/war)

Judul sambungan: Lebih Tua Dari Cerita Beredar

Editor : Arief
#Budaya #Indepth #candi #Sejarah #Hulu Sungai Utara