Rahman Nor Wahyudi terpilih menjadi wakil rakyat di DPRD Tapin periode 2024-2029. Siapa sebenarnya politisi dari Partai Gerinda ini ?
RASIDI FADLI, Rantau
Rahman Nor Wahyudi sudah dikontak sejak awal Juni lalu. Namun, masih berada di Medan, Sumatera Utara. Ia masih sibuk membantu H Rihan Variza untuk tanding di Kejurnas Rally putaran pertama.
Baru setelah Iduladha ini, Rahman bisa ditemui Selasa (18/6) siang. Rahman mengakui kehidupannya tak terlepas dari tokoh masyarakat Binuang, H Muhammad Zaini Mahdi atau H Izai, dan putranya H Rihan Variza. “Awal mula ikut beliau, waktu itu ayah saya main tenis bersama H Izai, karena mereka memang berteman. Beliau menanyakan ke ayah, apakah saya kuliah atau tidak,” ungkapnya.
Setelah lulus SMKN 2 Kandangan, Rahman tak melanjutkan untuk kuliah. Padahal waktu itu bisa saja kuliah, lewat jalur prestasi. “Namun saya urungkan untuk kuliah, karena keterbatasan biaya dari orang tua. Waktu itu, gaji guru tak seberapa,” akunya.
Kedua orang tuanya memang guru di Binuang. “Jadi ayah saya yang bernama H Norman merupakan guru SD. Almarhumah ibu saya bernama Hj Arminiwati atau dikenal Ibu Haji Ami juga guru, tapi di TK,” ucapnya.
Setelah mengetahui Rahman tidak melanjutkan kuliah, H Izai mengajak Rahman membantu anaknya dalam balapan motor cross. “Sejak saat itu, saya ikut H Rihan Variza (Haji Rihans, red) di Banjarbaru untuk membantu mempersiapkan administrasi balapan. Aktivitas itu juga dilakukannya sampai sekarang di rally,” tuturnya.
Rahman mengenal H Rihan Variza sebagai sosoknya yang sederhana. Bahkan, Haji Rihans sempat diajak Rahman bolak balik Binuang-Banjabaru untuk mengantar kacang rempeyek. Kebetulan Rahman sambil bantu-bantu nenek mengantar rempeyek ke Banjarbaru. Rata-rata empat kali sebulan. “Haji Rihans mau saja ikut dengan saya,” kenangnya.
Kesederhanaan itu juga dirasakannya saat di Malang. Rahman dan Haji Rihans sama-sama dikuliahkan. Biasanya anak orang kaya, apalagi dari Kalimantan pergi kuliah di Malang, banyak menggunakan mobil mewah. Haji Rihans malah sebaliknya. “Dia lebih suka memakai motor hadiah dari juara balapan untuk pergi kuliah. Padahal di rumahnya memang banyak mobil-mobil mewah,” bandingnya.
Untuk urusan kuliah, Rahman mengakui semuanya dibiayai oleh keluarga H Izai. Orang yang menyuruhnya untuk kuliah justru ibunda H Rihan Variza, Hj Iva. Istri H Izai itu juga banyak memberikan wejangan atau nasihat. Apalagi setelah ibu kandung Rahman meninggal. “Jadi sambil kuliah di Malang, saya sambil membantu H Rihans untuk balapan,” ucapnya.
Rahman mengakui tidak bisa menyelesaikan kuliah selama empat tahun. Ia sering tidak masuk kuliah. “Karena jadwal kuliah sama dengan jadwal balapan, saya sering tidak masuk,” katanya.
Sedangkan H Rihans, saat balapan ada izin resmi yang dikeluarkan oleh Ikatan Motor Indonesia (IMI). Jadi ada dispensasinya saat kuliah. “Saya dispensasi ke mana, atlet juga bukan,” ungkapnya.
Ia tetap bangga bisa mendampingi H Rihans, walaupun pendidikannya tidak selesai di Malang. “Saya tetap bersyukur, karena semua biayanya ditanggung oleh keluarga H Izai,” ucapnya.
Keinginan untuk kuliah tetap kuat. Buktinya, saat kembali ke Binuang setahun kemudian, ia langsung kuliah. “Jadi saya kuliah di Banjarmasin. Bahkan sampai lulus S2,” katanya.
Rahman bertekad menuntaskan pendidikan lebih tinggi, karena ingin mencontohkan kepada anaknya bahwa pendidikan itu penting. “Jadi anak saya bisa termotivasi, agar bisa lebih dari saya terkait dengan pendidikan,” pungkasnya.(bersambung)
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Muhammad Helmi