Bagagap Iwak bagi masyarakat Balangan merupakan sebuah tradisi turun-temurun. Hendak dikemas lebih meriah untuk menarik wisatawan.
M Dirga, PARINGIN
Rabu (12/6) pagi, ratusan orang berbondong-bondong datang ke Desa Panggung, Kecamatan Paringin Selatan, Balangan. Ada hajatan besar yang sayang untuk dilewatkan.
Tua muda berkumpul di tepi kolam buatan di desa tersebut. Oleh masyarakat sekitar, kolam itu disebut Tabat Besar Kali Maraup. Danau atau kolam buatan ini meliputi empat desa yakni Desa Inan, Desa Panggung, Desa Maradap, dan Desa Galumbang.
Para warga tadi bersiap mengikuti kegiatan Bagagap Iwak. Bagagap dalam bahasa Indonesia artinya meraba. Secara harfiah, Bagagap Iwak artinya menangkap ikan dengan tangan kosong. Tapi pada pelaksanaannya, Bagagap Iwak bisa dilakukan menggunakan tangan atau dengan melempar jala. Oleh warga setempat disebut lunta.
Mereka berebut menangkap berbagai jenis ikan yang tersedia di sana, seperti Gabus, Nila, Mas, Papuyu (Betok), dan berbagai ikan lainnya. Bagi yang mahir, bisa menangkap 5-10 ekor ikan. Setiap ikan yang didapat diiringi dengan sorak sorai kegembiraan. Ada pula yang harus pulang dengan tangan kosong.
Tradisi Bagagap Iwak ini sudah turun-temurun dilaksanakan warga setempat sejak puluhan tahun silam. Umumnya digelar beriringan setelah panen padi. Ini sebagai bentuk syukur atas panen yang dihasilkan.
Tradisi Bagagap Iwak bukan sekadar memiliki nilai ekonomi, juga menjunjung nilai-nilai bertahan hidup di alam terbuka. Terdapat juga nilai kesederhanaan, gotong royong, dan menjaga alam serta habitat ikan. "Masyarakat hanya menangkap ikan seperlunya untuk kebutuhan sehari-hari, tanpa pestisida atau alat tangkap ikan ilegal lainnya," kata Kepala Desa Panggung, Yusnadi.
Terselip juga nilai sosial dan kemandirian yang tinggi dalam kearifan lokal masyarakat Balangan. Hal ini juga sering dilakukan berkelompok di sela-sela kesibukan aktivitas bertani di sawah, bukit, kebun, dan sebagainya. "Kegiatan ini juga diharapkan agar dapat mengenalkan kearifan lokal kepada masyarakat luar, agar nantinya pada saat pelaksanaan bisa kembali semakin meriah," lanjutnya.
Kegiatan Bagagap Iwak ini juga diharapkan dapat mempererat silaturahmi bersama masyarakat. Semua ikut berbaur pada satu kolam. "Juga sebagai sarana hiburan bagi seluruh masyarakat," katanya.
Panitia juga menyediakan berbagai hadiah. Supaya kegiatan Bagagap Iwak semakin meriah setiap tahunnya, serta semakin dikenal masyarakat luas sebagai warisan budaya dan tradisi.
Bupati Balangan, Abdul Hadi menyebut tradisi menangkap ikan secara tradisional secara beramai-ramai tersebut telah dilakukan warga sejak zaman dahulu. “Setiap tahun saat usai panen, Bagagap Iwak dilaksanakan warga dengan suka cita hingga menjadi tradisi yang terus terjaga sampai saat ini,” ujarnya.
Melihat antusias masyarakat yang mengikuti Bagagap Iwak, Pemkab Balangan berencana memasukkannya ke dalam event tahunan. "Supaya orang makin banyak datang ke sini nantinya, dalam menyaksikan event yang meriah ini," ucap Abdul Hadi.
Editor: Eddy Hardyanto
Editor : Muhammad Helmi