Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ekspedisi Gunung Hauk Bersama Walhi (Bagian 7), Malah Tegang Mendekati Puncak

Wahyu Ramadhan • Sabtu, 6 April 2024 | 12:34 WIB

 

SEPERTI JEMBATAN: Porter melintasi pohon tua yang rebah di jalur menuju puncak Gunung Hauk
SEPERTI JEMBATAN: Porter melintasi pohon tua yang rebah di jalur menuju puncak Gunung Hauk

Senin (25/3) pagi, udara dingin menusuk. Saya merasakan atmosfer ketegangan di antara rombongan ekspedisi.

         ****
SEBELUM melanjutkan pendakian, kami berkumpul membentuk lingkaran untuk mendengarkan arahan dan berdoa.

Ketua tim ekspedisi Gunung Hauk, Raden Rafiq Sepdian Fadel Wibisono mengatakan, meski hanya tinggal 600 meter lagi menuju puncak, tapi jalurnya tidak akan mudah.

Dilanjutkan wejangan porter senior kami, Hasan. Ia berpesan agar kami lebih fokus dan lebih kompak. Lalu kami menutupnya dengan doa agar perjalanan diberikan keselamatan.

Tepat pukul 09.28 Wita, kami meninggalkan Racah Birah. Baru sebentar berjalan, sudah dihadapkan dengan jalur yang terus menanjak.

Baju seketika basah dengan keringat. Saya jadi teringat tanjakan Maikang yang edan itu.
Beberapa kali kami harus berhenti untuk beristirahat. Sebab jalurnya amboi…, luar biasa.

Kami juga kerap dihadapkan dengan pilihan sulit. Antara terus mendaki tanjakan, atau mengambil jalan memutar dengan menyisir tebing.

Tidak ada pilihan yang mudah. Kami juga harus menerabas tanaman liar.

Ketua porter, Rabadi, beberapa kali harus mengeluarkan parang dari sarungnya untuk membuat jalur baru. Ia juga sering berdiskusi dengan Dinas dan Ayun, dua porter di belakangnya.

Meski menguras tenaga, perjalanan kami dihibur oleh panorama alam yang memukau.
"Saya tidak menyangka, di sini masih banyak pohon meranti," ujar Raden.

"Berbeda sekali dengan Hulu Sungai Tengah (HST), merantinya tinggal sedikit," tambah anggota Walhi Kalsel itu.

Kami juga sempat menemui jejak kaki kijang. "Ini jejak baru. Bekasnya masih dalam," kata Rabadi.

"Sepertinya ia kabur ketika melihat kita datang," tambahnya, lantas melihat ke sekitar.

Sekitar 10.45 Wita, kami tiba di punggung gunung. Masyarakat adat Dayak Pitap menamai kawasan itu Canting Lamak Bayi.

Di sini, pepohonan dan bebatuannya masih ditutupi lumut. Kami putuskan untuk rehat.

Saat berselonjor, darah mengucur dari punggung kaki kanan. Saya mengelapnya dengan tisu.
Namun, darah terus saja keluar. Padahal tak ada bekas luka. Hanya ada bintik kecil berwarna merah. "Sudah pasti gara-gara pacet," kata Rabadi.

"Sudah. Tak usah dilap lagi. Biarkan saja mengering sendiri. Toh yang keluar darah kotor," sambungnya.

Kaki Raden juga digigit pacet. Ukurannya sudah membesar. Hampir seukuran jari kelingking.
Pacet itu masih menempel. Rupanya belum kenyang mengisap darah mangsanya.

Raden mencopotnya, dan melemparnya jauh-jauh. Seolah tak terjadi apa-apa.

Dari Canting Lamak Bayi, tinggal puluhan meter lagi. Tapi, jarak bukan persoalan. Di hadapan kami ada jurang. Keliru berpijak, bisa fatal.

Pukul 11.15 Wita, kami mendekati puncak. Di kawasan bernama Pahajatan, awan hitam tampak menggantung.

Disebut Pahajatan, karena di sini tempat masyarakat adat meletakkan seserahan atau sesajen.

"Kalau sedang ada hajat atau keinginan, masyarakat kami biasa menghaturkan doa di sini," jelas Rabadi.

Saat itu, saya dan Rabadi lebih dulu sampai di Pahajatan.

Rabadi menyalakan sebatang tembakau. Meletakkannya di sebuah tiang ulin setinggi pinggang.
Mulutnya komat-kamit. Terdengar seperti berdoa. Saya mencuri dengar, ia meminta semua anggota ekspedisi diberikan keselamatan.

"Dahulu, tiang ini berbentuk semacam wadah. Di sini juga diletakkan kain kuning," jelasnya. "Tapi, sudah hancur dimakan usia. Yang tersisa hanya satu tiang ulin ini," tambahnya.

Tak lama, Dinas tiba di Pahajatan. Ia mendekati tiang itu. "Hancur ya," komentarnya singkat.

Dari Pahajatan, kami terus mendaki ke arah puncak. Lumut tebal melapisi bebatuan. Kaki seperti menginjak karpet empuk.

Di sana sungguh indah. Saya melihat banyak kantong semar. Masyarakat adat menyebutnya cicibuk gunung.

Dari sini, terlihat hutan lebat di bawah. Juga perbukitan yang mengelilinginya.

Apakah kami sudah sampai puncak? Belum. Langkah kami terhenti di depan sebuah dinding tebing batu setinggi empat meter. (bersambung)

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#ekspedisi #Walhi #pendakian #Meratus #hauk