Sebelum menjadi masjid, Al-Musyarrafah adalah sebuah musala kecil. Sebelum menjadi tempat ibadah, di sini kantor sekretariat sebuah organisasi intelektual muslim Banua.
****
MASJID Al-Musyarafah berdiri di tengah "hutan ruko". Jemaahnya kebanyakan pekerja yang bekerja di kawasan Pasar Lama.
Pada bulan puasa, terutama bakda zuhur, banyak yang datang kemari untuk tiduran. Pada bulan Ramadan, bukankah tidur itu ibadah?
Ketika penulis datang, Kamis (4/4) sore, halaman masjid di Jalan Perintis Kemerdekaan, Banjarmasin Tengah itu penuh dengan parkiran sepeda motor.
Di lantai dua, jemaah duduk rapi. Menunggu azan magrib. Banyak dari mereka yang masih mengenakan pakaian kerja berbau keringat.
Kemarin, menunya adalah ayam cabai hijau dan kurma.
"Saya setiap hari berbuka di sini. Sekalian bantu-bantu menyiapkan makanan dan minuman jemaah," kata Didin (47).
Sekuriti toko di samping masjid itu bahkan dipercaya memegang salah satu kunci masjid.
"Dititipi takmir. Jadi ketika pengurus sedang sibuk atau telat datang, saya yang membukakan pintu masjid," jelasnya.
Dengan sabar Didin melayani jemaah yang hendak berbuka. "Lumayan banyak. Rata-rata karyawan toko, sekuriti dan buruh. Ada juga musafir yang singgah," ujarnya.
Salah seorang jemaah yang rutin berbuka di sana adalah Riza Khairil (31), karyawan toko elektronik di Jalan S Parman.
Jika kebagian shift malam, ia selalu datang kemari untuk berbuka. "Sudah ke masjid mana-mana, tapi di sini yang cocok," ucapnya.
Alasannya sederhana, karena menunya. "Pernah ke masjid lain, cuma disediakan bubur. Kami ini pekerja berat, jadi menu berbukanya juga harus berat. Dan kalau di sini makannya lahap," kisahnya.
Pengurus masjid, Achmad Yani mengaku tak tega menyuguhkan hanya semangkuk bubur ayam kepada jemaahnya.
"Dulu pernah mencoba bubur, akibatnya sepi. Maklum, di sini kebanyakan buruh. Wajar mereka mencari makanan berat setelah seharian bekerja," katanya dengan nada maklum.
Menunya berganti-ganti seperti nasi sop, rawon, ayam kare, dan sejenisnya. Dalam sehari minimal disiapkan 80 porsi.
Dana berbuka hasil sumbangan donatur yang tinggal di sekitar masjid.
"Menunya dimasak keluarga saya. Tidak pernah membeli. Sekali buka, dananya Rp800 ribu. Kalau ada yang menambah Rp400 ribu, bisa ditambah wadai (kue)," jelasnya.
"Tugas memasak ini keluarga saya lakoni selama 30 tahun. Sejak masjid ini masih musala kecil," imbuhnya.
"Alhamdulillah, selalu berkecukupan. Jemah tidak pernah kekurangan makanan," tutup Yani.
Sejarah Masjid
Namun, tak banyak yang tahu, Masjid Al-Musyarrafah adalah saksi bisu sejarah.
Sebelum kehadiran Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, orang Kalsel sudah memiliki organisasi lokal. Namanya Moesjawaratoetthalibin (ejaan lama). Artinya perkumpulan orang-orang terpelajar.
Salah satu anggotanya adalah Zafri Zamzam. Jurnalis, ulama, dan rektor pertama IAIN Antasari (sekarang UIN).
Resminya didirikan Ridwan Syahrani, Majedi Effendi dan Amin pada 2 Januari 1931 di Banjarmasin.
Cabangnya berdiri di Kalsel dan Kaltim. Perjuangannya di bidang dakwah, pendidikan, dan penerbitan.
Sayang, Musyawaratutthalibin berumur pendek. Penjajah Jepang membekukan organisasi ini.
Dalam sebuah foto hitam putih, pengurus Musyawaratutthalibin berdiri di depan kantor sekretariat di Jalan Andalas (sekarang Jalan Perintis Kemerdekaan).
Bangunan kayu beratap seng itu kemudian menjadi musala. Dirobohkan dan dibangun ulang pada tahun 2014. Hingga berdiri Masjid Al-Musyarrafah.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief