Jamur tumpu tak hanya lezat. Bagi masyarakat adat Dayak Pitap, kemunculannya adalah penanda sebuah peristiwa.
****
KAMI masih menjelajahi kawasan Munjal atau Makacang. Melewati buah cempedak berhamburan.
Kebanyakan sudah berwarna kehitam-hitaman. Membusuk. Tapi, kami cukup beruntung mendapati yang masih bagus. Dari aromanya yang harum, kami tahu cempedak itu sudah matang.
Porter senior kami, Hasan mengeluarkan parang dan membelahnya. Daging dalamnya berwarna kuning tua. Harum banget.
Di pedalaman hutan belantara mudah ditemukan buah-buahan. Tumbuh begitu saja, tidak ada pemiliknya. Siapapun bebas memetik.
Tapi, siapa yang memetik? Kecuali pemburu atau penjelajah yang kebetulan melintas.
Selain cempedak, juga ada salak, hambawang, dan durian. Sama saja, sudah membusuk atau hancur terinjak kaki hewan liar.
Saat asyik mengurusi cempedak, innalillah... waktunya telah tiba. Sepatu berlilit tali plastik yang dikenakan rekan sesama wartawan, Riyad Dafhi Rizki telah menemui ajalnya. Benar-benar tak bisa diselamatkan lagi.
Beruntung, kameramen kami, Haikal membawa sandal cadangan. Alas kaki inilah yang kemudian dikenakan Riyad. "Good bye sepatuku," ujar Riyad murung.
Di antara ranting dan dedaunan yang rimbun, Ayun buru-buru menurunkan lanjung. Setengah berlari, menantu Hasan itu mendatangi seonggok batang pohon tua yang rebah. Di situ, ia tersenyum lebar. Giginya yang ompong di bagian depan kian tampak. Dengan bangga ia menunjukkan temuannya. "Ini namanya kulat (jamur) tumpu. Lezat sekali dijadikan lauk," serunya.
Dari luar, jamur selebar dua telapak tangan orang dewasa itu berwarna kecokelatan. Bagian dalamnya berwarna putih.
Saya memotretnya sambil membayangkan bagaimana rasanya menyantapnya dengan sepiring nasi panas. Jamur itu dimasukkan ke dalam kantong plastik, bersama cempedak tadi.
Tentang jamur tumpu yang tumbuh di hutan, masyarakat adat Dayak Pitap percaya bahwa ini sebuah pertanda. Bahwa leluhur di dunia bawah sedang mengirimkan kabar. "Mereka sedang melaksanakan aruh (pesta kenduri)," tutur Ayun.
Mata dan Mulut di Kaki
Selama ekspedisi, saya sering membuntuti dua porter yang berjalan paling depan. Selain menentukan jalan mana yang diambil, porter terdepan juga bertugas menentukan tempat istirahat rombongan.
Siang itu, yang berada di depan adalah Rabadi dan Ayun. Jalan yang kami lalui tidak melulu landai. Sering menanjak. Mereka seperti mengetahui jalan mana yang harus dilalui. Padahal, jalannya tampak samar karena tertutupi ranting, daun, dan tumbuhan liar.
Namun, kaki mereka seperti memiliki mata dan mulut. Kaki mereka seolah memberi tahu ke mana harus melangkah.
Rasa penasaran saya dijawab oleh Rabadi. Ia menjelaskan, jalan yang ditempuh biasanya sudah sering dilalui pemburu atau pekebun.
Mata orang awam memang sulit melihatnya. Tapi cirinya, tanahnya lebih padat karena sering diinjak. "Biarpun jalan itu tertutupi ranting dan daun, pasti masih berbeda dari area sekitarnya," jelasnya.
Ciri lainnya, bekas tebasan parang pada dahan dan ranting. Tanpa kompas pun, hutan belantara dan pegunungan masih bisa disusuri. Ketika tersesat, jadikan sungai sebagai patokan. "Susuri ke mana arah sungai, maka akan ketemu ladang atau permukiman," tambahnya. "Kami biasanya lebih sering mengingat titik lokasi sungai. Agar ketika tersesat terhindar dari rasa haus," ungkapnya.
Saya juga mengamati ritme langkah kaki porter. Membandingkannya dengan langkah saya. Saya hitung, satu langkah kaki porter seperti 1,5 langkah kaki saya.
Coba meniru, hasilnya keringat mengucur deras dan napas tersengal. Di dalam hati, saya bertanya-tanya kapan kami berhenti untuk beristirahat.
Kami tiba di Racah Birah pukul 15.30 Wita. Semakin dekat dengan puncak Gunung Hauk.
Mengacu GPS, puncak hanya terpaut jarak 600 meter. Tapi kami putuskan untuk mendirikan tenda dan bermalam. Mengapa tak langsung menuju puncak? Kami harus bersabar. Ada banyak pertimbangan. Pertama, keperluan pendataan. Kedua, jalurnya terjal, kami butuh stamina.
Sebelumnya, ketika menemui tanjakan terjal, tak jarang kami harus menyusuri bibir tebing atau mengambil jalan memutar. Artinya, waktu tambahan lagi.
Pertimbangan terakhir, Racah Birah adalah titik terakhir sumber air. Menuju ke puncak, kami butuh banyak minum. Sumber air berikutnya hanya muncul di arah turunan.
Tiba di Racah Birah, isi lanjung dan carrier dikeluarkan. Kami berbagi tugas. Ada yang mendata, mendirikan tenda, dan memasak makan malam.
Ayun lah yang kebagian tugas memasak. Jamur tumpu tadi diosengnya.
Bagaimana rasanya? Lezat seperti daging ayam. Sayangnya, saya cuma kebagian seukuran kuku jari. (Bersambung)
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief