Seperti vampir, pacet juga mengisap darah. Di hutan hujan tropis nan lembap, Anda tidak akan tahu kapan parasit ini menyerang.
***
MINGGU (24/3) pagi, arus Sungai Auh Gayaha bergemuruh. Nyaring sekali. Malam tadi hujan sempat mengguyur. Ada kemungkinan sungai meluap.
Udara dingin menusuk tulang. Membuat saya malas beranjak dari tenda.
Andai punya banyak waktu, bisa saja tak seorang pun mau mengepak tenda, dan melanjutkan perjalanan. Tapi, bagaimana pun juga kami harus menyelesaikan ekspedisi. Rasa malas mesti diinjak.
Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 Wita. Kami melanjutkan perjalanan. Tujuan kami adalah Racah Birah. Tempat bermalam terakhir sebelum puncak Gunung Hauk.
Kalau mengacu layar Global Positioning System (GPS) yang dibawa anggota Walhi Kalsel, Raden Rafiq Sepdian Fedel Wibisono, dari balai adat sampai Auh Gayaha, kami sudah menempuh perjalanan 6,62 kilometer. "Sedangkan jarak antara Gayaha ke Racah Birah sekitar 1,87 kilometer," ucapnya.
Informasi yang melegakan. Perjalanan yang terdengar pendek. Seolah di depan adalah jalan mulus beraspal.
Kami menyadari betul, di hutan belantara, ukuran jarak menjadi sangat relatif.
Kami masih melewati pepohonan bambu. Menaiki tanjakan dan menyisir tebing. Semakin masuk ke dalam hutan.
Di depan, seluas mata memandang, tampak hutan yang kian rapat. Langkah kaki terkadang meliuk, karena harus menghindari rapatnya tanaman liar berduri.
Siang itu sulit sekali mendapat sinar matahari menerpa tubuh. Di atas kepala, ranting dan daun seperti terpal lebar yang dipasang.
Setelah 1 jam 47 menit berjalan, kami tiba di kawasan Munjal alias Makacang. Ini sebuah kawasan tanah tinggi, namun tidak berbatu.
Di sini kami beristirahat sebentar. Sementara anggota Mapala Graminea dari Fakultas Pertanian di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mendata sebuah pohon meranti besar.
Setelah mencatat titik lokasinya, meranti itu diukur. Tingginya 125 meter dengan diameter 10 meter. Itu salah satu pohon meranti paling besar yang kami temui sepanjang ekspedisi.
Kelar mendata, porter senior kami Hasan mencabut parangnya. Menebas akar bajakah yang menggantung.
Set! Hanya sekali gerakan, bajakah itu terpotong. Potongannya diambil, ditengadahkan ke mulut. Dari situ mengucur air. Hasan meminumnya.
Bagaimana rasanya? Ia bilang seperti air rebusan beras. Seperti tajin.
Penghuni Hutan
Saya beristirahat di atas tanah yang berselimut dedaunan kering. Menyandarkan bahu di sebuah batang pohon.
Saat itu, seorang kawan memberitahu ada seekor pacet di atas punggung kaki kiri saya. Jenis pacet tanah.
Disebut demikian, karena habitatnya memang di atas tanah. Bersembunyi di antara dedaunan.
Warnanya kecokelatan. Seukuran batang korek api. Bergeliat menjelajahi punggung kaki.
Pacet seperti vampir. Mengisap darah hewan atau manusia. Banyak ditemukan di hutan hujan tropis.
Saat mengisap darah, ukurannya membesar. Bisa mencapai kelingking orang dewasa. Bila sudah kenyang, pacet dengan sendirinya melepaskan gigitan.
Saya ikhlas pacet itu mengisap darah saya. Apalagi ketika ketua porter kami, Rabadi mengatakan yang diisapnya adalah darah kotor. Hanya saja, hewan berlendir itu membuat saya merasa geli.
Pacet bisa menghinggapi bagian tubuh mana pun, tanpa kita sadari sama sekali. Muncul di sela jari kaki. Di dengkul atau lipatan paha.
"Pacet tanah biasanya hanya menyerang bagian kaki. Berbeda dengan pacet daun," jelas Rabadi.
Karena berada di atas dedaunan, pacet akan menjatuhkan diri dan hinggap di leher atau bahu kita. "Tahu-tahu pas buka baju tiba-tiba ada," ujarnya terkekeh.
Jadi, bagaimana agar kita terhindar dari serangan pacet? Sejauh ini, belum ditemukan tips yang manjur. Intinya, rajin-rajin memeriksa tubuh saat beristirahat.
Si pacet ini, masih nyaman mengisap darah saya. Sebelum dicopot, kami ramai-ramai memotretnya.
Di Makacang, kami punya hiburan selain memotret pacet. Yaitu kemunculan sinyal telepon.
Duduk di sebuah akar pohon, porter kami, Ayun menghubungi keluarganya.
Ia berkabar tentang perjalanannya. Ia mengaku bahagia bisa bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru seperti kami.
Mendengarnya, saya tersenyum dan merasa haru.
Dari obrolannya pula saya mendengar, ternyata perjalanan ke Racah Birah masih jauh. Saya jadi semakin "terharu".(bersambung)
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief