Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ekspedisi Gunung Hauk Bersama Walhi Kalsel (Bagian 2), Yang Tumbuh dan Penuh Khasiat

Wahyu Ramadhan • Senin, 1 April 2024 | 10:34 WIB

 

PERJALANAN DIMULAI: Dari Balai Adat Nulian di Desa Kambiayin Rt 2, Rabadi (kanan) memimpin ekspedisi menyusuri hutan menuju puncak Gunung  Hauk, Sabtu (23/3). 
PERJALANAN DIMULAI: Dari Balai Adat Nulian di Desa Kambiayin Rt 2, Rabadi (kanan) memimpin ekspedisi menyusuri hutan menuju puncak Gunung  Hauk, Sabtu (23/3). 

Mendaki gunung butuh kondisi fisik prima. Ditopang peralatan, termasuk kekuatan sepatu.

      ****
TIM ekspedisi sudah siap menjelajah hutan, menuju puncak Gunung Hauk. Saya merasa Sabtu (23/3) itu hari yang baik untuk memulai pendakian. Cuacanya cerah.

Dari kediaman Kades Kambiayain, Anang Suriani, kami berkumpul di depan Balai Adat Nulian.

Di situ, Suriani memberikan pesan singkat. Kami diminta menjaga kekompakan. Saling menjaga satu sama lain.

"Berangkat 13 orang, pulang pun harus 13 orang. Berangkat sehat, pulang pun harus sehat," tekannya.

Porter senior kami, Hasan memimpin doa. Doanya berbahasa campuran. Bahasa Dayak, Banjar dan Indonesia. Saya hanya mengerti sebagian.

Intinya, memohon keselamatan dari Maha Kuasa. Jangan biarkan marabahaya mendekat. Meminta kesehatan, rezeki yang melimpah, dan keberkahan.

Saya juga mendengar Hasan menghaturkan penghormatan kepada nabi, leluhur, raja, dan nenek moyang untuk menjaga perjalanan kami.

Pukul 09.10 Wita kami berangkat dipimpin Rabadi. Andai tidak berkenalan, saya bakal mengira ia anggota Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) atau Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).

Photo
Photo

Di antara lima porter yang mendampingi, ia yang berpenampilan nyentrik. Mengenakan bandana, berkemeja flanel merah kotak-kotak.

Rabadi satu-satunya porter yang menyandang carrier. Bukan menyandang lanjung (tas anyaman rotan) seperti empat porter lainnya.

Meski demikian, ada satu kesamaan antara Rabadi dan porter lainnya. Ia mengenakan sepatu karet yang biasa dikenakan warga ketika pergi ke kebun.

Perjalanan kami dimulai dengan melintasi permukiman Dayak Pitap di RT 2. Permukiman yang tenang. Dengan keramahan warganya yang selalu menyunggingkan senyum dan mengumbar sapa.

Dari situ kami mulai menyusuri jalan setapak, melintasi perkebunan singkong dan karet. Menyeberangi jembatan kayu dan sungai jeram.

Naik ke bibir sungai. Kami terus menyusuri jalan setapak. Jalannya mulai menanjak dan menurun.

Belum apa-apa, nafas sudah ngos-ngosan. Mungkin, ini azab bagi perokok.

Di sela perjalanan, Hasan menunjukkan bibit pohon kayu kenanga. Tim pendataan bersiap dengan peralatannya.

Ada yang memegang alat ukur, juga pulpen dan buku. Kamera juga dinyalakan.

Tanaman itu berdaun hijau. Sekilas seperti bibit jambu atau mangga. Menurut Hasan, tanaman ini memiliki sejumlah khasiat.

Daun kenanga dipercaya mampu menyembuhkan demam. Caranya, ambil beberapa helai. Tumbuk daunnya, tak perlu sampai halus.

"Sesudah itu rendam dengan air panas. Ketika airnya sudah dingin, daun yang ditumbuk tadi diambil dan tempelkan ke kepala," jelasnya.

Photo
Photo

Khasiat lainnya, kulit kayu kenanga bisa menyembuhkan penyakit gatal-gatal.

Caranya, kulit kayu diambil, dibakar sebentar sampai kehitam-hitaman. Arangnya dioleskan ke bagian tubuh yang gatal. "Pasti sembuh," yakinnya.

Puas mendata, perjalanan dilanjutkan. Rekan sesama wartawan, Riyad Dafhi Rizki tampak membenahi sol sepatunya yang menganga.

Tali plastik dililitkan ke sepatu, diikat dengan erat. Ia tidak menyangka sepatunya bakal tumbang begitu cepat. Padahal baru beberapa menit berjalan. Kami yang mendengar celotehnya pun terkekeh.

Seorang porter menawarkan meminjamkan sandalnya. Riyad menolaknya dengan halus.

Photo
Photo

Kami masih menyusuri jalan setapak. Tiba di area hutan bambu, kami berpapasan dengan warga. Sepasang lelaki dan perempuan, diikuti dua bocah. Tampaknya mereka satu keluarga.

Saya izin memotret salah satu bocah, lantaran ia menggendong anak lutung seperti boneka. Warnanya kuning keemasan. Begitu imut. (Bersambung)

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#hulu sungai tengah #ekspedisi #Walhi #pendakian #Meratus #perjalanan